Dongeng Putri Angsa dan Pencarian Makna Hidup (bag III, Pengeran Shiva…..lanjutan)

Hujan diluar sudah reda….anak-anak tukang kebun istana pun sudah berhenti bermain bola, karena dilarang orang tua mereka yang tahu bahwa Pangeran Shiva selalu sedih jika melihat anak-anak mereka bermain bola diwaktu hujan….

Pengeran Shiva tetap duduk di dekat jendela sambil menatap langit yang berangsur-angsur bersih dan cerah…sedianya hari ini adalah waktu Pangeran Shiva bercengkrama dengan ayahnya dan mendengar cerita..dongeng…atau pengajaran kebijakan dari ayahnya dan sesekali Raja bercerita tentang kondisi kerajaan…..sebab Raja sangat sadar Pangeran Shivalah yang akan menggantikan dirinya….itulah sebabnya Raja ingin…Pangeran Shiva sudah harus diakrabkan dengan situasi istana….dan pada saatnya nanti…Raja akan mengajak Pangeran Shiva ikut dalam rapat dewan Istana.

Hari ini utusan dari wilayah barat dan selatan datang membawa kabar yang penting….wilayah barat sedang diserang wabah penyakit aneh yang telah memakan banyak korban…sementara para tabib belum menemukan penyebab dan obat dari wabah tersebut…..sementara wilayah selatan mengalami serangan dan perampokkan oleh komplotan serigala….makhluk dari dunia binatang….itulah sebabnya Raja memutuskan untuk menerima utusan-utusan tersebut dan meninggalkan Pangeran Shiva.

Bunda Inang dengan setia menemani Pangeran Shiva sambil duduk bersimpuh di belakang….Bunda Inang menunggu apa yang menjadi permintaan maupun perintah dari Pengeran Shiva….Bunda Inang adalah pengasuh di Istana yang sudah hidup lama di Istana…bahkan Bunda Inang juga mengasuh Raja dan Permaisuri….ketika mereka ketika masih kecil.

“Bunda Inang….kenapa ibuku harus wafat ? Tanya Pangeran Shiva tanpa menoleh dan tetap menatap langit yang mulai cerah dari balik jendela.

Inang terkejut dan tidak siap menjawab….wafatnya Ibunda permaisuri adalah kejadian yang paling menyedihkan dalam hidupnya….Ibunda permaisuri telah dianggapnya sebagai anak sendiri….Bunda Inang mengganggap Ibunda Permaisuri adalah pengganti anak kandungnya yang tewas ketika perang besar 4 dunia berkecamuk beberapa puluh tahun yang lalu….

Dan Ibunda Permaisuri juga mengganggap bahwa Bunda Inang adalah ibu keduanya setelah Ibu Suri…nenek dari Pangeran Shiva……Ibunda Permaisuri diasuh oleh Inang sejak bayi sampai menjadi Permaisuri…….

masih lekat dalam ingatan Inang….ketika Ibunda Permaisuri dengan menahan rasa sakit setelah melahirkan dan pendarahan yang luar biasa mencengkram erat tangan Inang…

Dengan terbata-bata Ibunda Permaisuri berkata “Bunda Inang………” kalimat itu terhenti sesaat…..lalu Ibunda Permaisuri mengumpulkan tenaga sambil menahan rasa sakit….lalu melanjutkan “Bunda Inang…..tolong jaga anakku….jaga pangeran….sebagaimana bunda menjagaku…dan menjaga Raja….aku tidak bisa……”suara Bunda Permaisuri menghilang….matanya meredup…Inang menahan air matanya untuk tidak tumpah….ia mencengkram kuat tangan Bunda Permaisuri…..dalam hatinya berseru “Tuhan….jangan ambil anakku…jangan ambil permaisuri…ku mohon Tuhan…ku mohon Tuhan”

“Kenapa bunda Inang tidak menjawab pertanyaanku ?” suara Pangeran Shiva membuyarkan ingatan Bunda Inang tentang kejadian beberapa tahun lalu…Bunda Inang tidak tahu harus menjawab apa…..

Bunda Inang adalah wanita yang pernah kehilangan suami dan anak kandung karena perang…bunda Inang adalah wanita yang pernah kehilangan Bunda permaisuri yang telah dianggapnya sebagai anak dan diasuhnya sampai tumbuh dewasa….tapi sampai sekarang Bunda Inang tidak pernah mengerti dengan kematian…

kenapa harus ada kematian ? kenapa orang-orang yang dicintai justru mengalami kematian dengan cepat ?….kematian yang memutus kebahagiaan para pendamba….kematian yang menghancurkan hati para pecinta…kematian yang harus meyatim-piatukan anak-anak…kematian yang menghapus tawa dari wajah….Bunda Inang tidak pernah mengerti kenapa harus ada kematian dimuka bumi ini….

(bersambung lagi….sinyal inspirasi hilang…karena cilaki dan steak)

 

(Nanang Wijaya.bandung.18.03.20.11.23.07)

About these ads

Tentang laboratoriumpencerahan

I'm a student......
Tulisan ini dipublikasikan di Catatan Harian. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s