Aliran Sesat ; Sebuah Otokritik

ALIRAN SESAT : SEBUAH OTOKRITIK ATAS SISTEM DAKWAH KITA
Nanang Wijaya, S.Sos
(Pengasuh Mata Kuliah Sosiologi Agama – Fisip – Untad)

Fenomena kelahiran sekte, aliran atau cult adalah fenomena setiap agama, artinya setiap agama besar didunia pasti selalu berurusan dengan lahirnya gerakan-gerakan, sekte-sekte yang menyimpang dari ajaran agama yang asli. Kemunculan aliran tersebut dengan berbagai perilaku beragama yang berbeda-beda. Ada sekedar berkumpul dan bersemedhi sampai ada yang menyelenggarakan bunuh diri massal. Ada yang bersifat tidak merugikan akan tetapi ada yang sangat merugikan orang lain dengan tindakan-tindakan kekerasan. Masyarakat Indonesia pun tidak lepas dari fonemena ini, masih lekang dalam ingatan kasus Lia Aminuddin dengan Gerakan Taman Edennya, gerakan ingkar sunnah atau Quran Suci, sekte hari kiamat, ahmadiyah, aliran bahai, dll.

Meskipun kemunculan aliran-aliran, sekte dan cult adalah fenomena setiap agama, akan kita sudah seharusnya mengkaji lebih dalam apa yang menjadi penyebab lahirnya aliran-aliran, sekte dan cult tersebut. Sebab tidak menutup kemungkinan aliran,sekte tersebut akan merugikan masyarakat Indonesia baik secara spritual maupun materil, kita harusnya sudah belajar dari sekte People’s Temple-Jim Jones yang melakukan bunuh diri massal atau sekte Aung Shinry Kyo yang melakukan pembunuhan terhadap warga jepang dengan menebar gas beracun disebuah stasiun KA. Maka sudah merupakan kebutuhan bagi kita mengetahui akar permasalahan, sebab-sebab kemunculan dan karakter aliran serta sekte-sekte dalam agama untuk menghindari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan dan tidak sekedar menyesalkan dan mengutuk kemunculan aliran-aliran atau sekte-sekte tersebut.

Sikap kita selama ini dalam menyikapi kemunculan aliran-aliran dan sekte-sekte cenderung selalu mempersalahkan para penganut aliran tersebut atas keinginannya dan kegiatannya ikut dalam aliran atau sekte-sekte tersebut, kita terkadang hanya menertawakan, mengutuk bahkan tidak jarang kita menggunakan pendekatan kekerasan dalam menghadapi fenomena ini. Dan kita tidak pernah melakukan evaluasi terhadap sikap dan pendekatan yang kita lakukan itu. Apakah menyelesaikan masalah, membuat para panganut aliran tersebut sadar dan kembali kepada ajaran agama yang murni atau justru mereka semakin yakin dengan kepercayaan yang mereka anut (kebanyakan penganut aliran atau sekte yang dianggap terlarang mengikuti filosofi paku – semakin kita tekan/pukul semakin menancap dengan kokoh). Maka tidak jarang pendekatan yang kita lakukan justru menumbuhkan rasa militansi dalam diri mereka. Dan ini terlihat pada apa yang dilakukan oleh Lia Aminudian dan para pengikutnya setelah mendapat hukuman penjara, ternyata tidak ada sedikitpun perubahan atas kepercayaan yang mereka anut.

Dan sikap kita yang selalu mempersalahkan para penganut juga harus kita evaluasi. Jangan-jangan kita sedang terjebak dalam kesalahan berpikir yang disebut dengan Blaming in the victims. Sebab bisa jadi para penganut aliran sesat tersebut adalah justru korban dari kondisi yang kita secara tidak langsung ikut membentuknya. Sangat memungkinkan ada situasi-situsi tertentu yang luput dari pengamatan kita yang mendorong mereka untuk menjadi penganut aliran atau sekte. Sehingga sudah sepantasnya dengan maraknya fenomena aliran sesat ini kita melakukan otokritik dan evaluasi atas diri kita.

Dalam setiap agama besar, ada 2 corak aliran atau sekte yang biasanya muncul. Corak kelompok pertama adalah kelompok yang lahir didasarkan atas kekecewaan mereka terhadap ajaran agama yang dianggap telah banyak yang menyimpang dari ajaran aslinya, sehingga mereka membuat gerakan untuk memurnikan atau mengembalikan ajaran agama seperti semula (seperti ajaran awalnya) karena mereka mengganggap ajaran agama telah disimpangkan oleh penganutnya. Mereka berusaha untuk memahami ajaran agama sebagaimana para generasi pertama agama tersebut memahaminyaini membuat mereka menggali kembali tradisi lama dan mewujudkannya dalam kehiduapan. Biasanya kelompok ini tidak dianggap sesat, oleh kebanyakan orang mereka hanya disebut radikal, fundamentalis, puritan,dll. Akan tetapi dalam beberapa kasus kelompok ini tidak jarang membenarkan tindakan kekerasan untuk memurnikan ajaran agama yang dianggap menyimpang.

Corak kelompok kedua adalah kelompok yang lahir dikarenakan atas ketidakpuasan mereka terhadap ajaran agama yang telah ada. Agama yang ada dianggap tidak lengkap dan perlu diperbahaurui sehingga mereka perlu membuat ajaran baru, perlu memiliki Nabi baru, membuat kitab suci yang baru dengan praktek-praktek ritual baru yang berbeda dari agama aslinya. Dan corak kelompok yang kedua inilah yang banyak difatwa sesat oleh pemegang otoritas sebuah agama (seperti MUI, Wali Gereja, dll). Dua corak aliran ini memiliki potensi untuk merugikan dan merusak didalam masyarakat. Uniknya, kedua corak aliran ini semua ada didalam masyarakat beragama Indonesia. Jika fenomena isu terorisme dengan mengatasnamakan kelompok agama adalah corak kelompok pertama maka fenomena al Qiyadah al Islamiyah yang ramai dibicarakan sepekan terakhir merupakan corak kelompok kedua.

Akan tetapi, jika kemunculan aliran-aliran sesat dikarenakan atas kekecewaan terhadap ajaran agama yang ada, maka dapat dipertanyakan lagi, kenapa mereka kecewa ? dan menjawab pertanyaan ini kita memiliki dua asumsi. Asumsi pertama : kekecewaan itu dikarenakan sistem ajaran agama yang mereka anut memang tidak cukup untuk menjawab pertanyaan keagamaan mereka dan tidak dapt memenuhi kepuasan bathin keagamaan mereka sehingga harus menciptakan sistem ajaran baru (Agamanya yang memang tidak lengkap). Asumsi Kedua : kekecewaan itu dikarenakan informasi yang mereka dapatkan tentang agama yang mereka anut tidak lengkap dan utuh, sehingga lahirlah anggapan bahwa agama yang mereka anut tidak lengkap dan bisa memenuhi rasa keberagamaan mereka. Asumsi kedua ini tidak mempermasalahkan ajaran agamanya akan tetapi mempermasalahkan sistem informasi dan metodologi penyampaian ajaran agama kepada ummatnya (dalam Islam disebut dengan Dakwah).

Fenomena lahirnya gerakan, aliran sesat atapun sekte dalam sebuah agama, sebenarnya tidak lepas dari efektifitas dakwah dalam setiap agama. Sebab dengan menggunakan asumsi kedua diatas, dakwah yang tidak efektiflah yang ikut mendorong lahirnya gerakan, aliran dan sekte yang menyimpang. Setidaknya ada 4 unsur yang saling berpengaruh dalam proses dakwah sebuah agama, yakni ajaran agama tersebut, penyampai ajaran (ulama, kyai,pendeta,pastor, biksu, dll), metodolologi penyampaian (strategi,cara,tekhnik dalam menyampaikan ajaran dan unsur terakhir adalah ummat (penganut ajaran ; audens dakwah). Mengikuti asumsi kedua diatas, maka kita tidak lagi mempersoalkan ajaran agama yang sudah final dan lengkap. Akan tetapi kita lebih mempersoalkan penyampai ajaran dan metodologinya.

Kita harusnya melakukan evaluasi terhadap para penyampai ajaran agama selama ini. Apakah para penyampai itu benar-benar menguasai ajaran agama dengan matang, lengkap dan baik ? artinya seorang penyampai/penyebar ajaran agama harus seseorang yang benar-benar qualitas penyebar agama, sebab mereka adalah pelanjut atau pewaris tradisi kenabian. Dapat kita bayangkan akibatnya jika seseorang yang tidak menguasai ajaran agama dengan baik kemudian memberikan pengajaran agama ditengah-tengah masyarakat kita. Bisa jadi ketidakpuasan para pengikut aliran sesat tersebut dikarenakan penjelasan para penyampai ajaran tidak utuh atau tidak sempurna. Saat ini seorang artis pun dapat jadi penyampai ajaran agama, sehingga dakwah berubah menjadi media hiburan (entertainment).

Untuk otokritik terhadap metodologi dakwah dapat di ilustrasikan sebagai berikut : Ada seorang memberikan pertanyaan yang filosofis tentang ketuhanan, seorang penyampai agama menjawab bahwa pertanyaan itu terlarang dan tidak boleh ditanyakan, itu pertanyaan kafir, dll. Dan pada waktu bersamaan seorang pemimpin sekte meladeni pertanyaan itu dengan memberikan jawaban panjang lebar, meyakinkan, argumentatif dan dengan pendekatan dialogis. Kita bisa tebak kepada siapa orang itu akan mengikut. Atau jika ada seseorang yang mengalami keterpurukkan ekonomi, kemudian kita datang mengajarkan mereka hanya dengan doa akan tetapi aliran atau sekte mengajarkan mereka doa sekaligus memberikan mereka bantuan ekonomi, kepada siapa mereka mengikut ? Atau seseorang yang super sibuk yang membutuhkan pencerahan bathin, kita mengajarkan peribadatan yang kaku, formal dan membutuhkan waktu dan tempat tertentu, sementara aliran atau sekte datang menawarkan ritual yang begitu luwes, bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja dan dengan siapa saja. Kita bisa tebak kepada siapa dia akan mengikut. Kepada siapa seseorang akan mengikut jika kita hanya sibuk bermusuhan, saling mengkafirkan, saling menyesatkan dan saling mengklaim benar sementara sekte atau aliran mengajarkan persaudaran, kebersamaan dan membentuk ikatan bahtin yang kuat. Kita menawarkan permusuhan politik atas nama agama sementara aliran atau sekte menawarkan ritual ketenangan. Inilah yang dimaksud metodologi dakwah ! Sudah pasti ajaran aliran atau sekte menyimpang, tapi kenapa tetap ada pengikutnya ? Karena mereka mengemas dakwah dengan baik, sesuai dan memenuhi kebutuhan personal pengikutnya. Dan kita ?

Sudah Saatnya kita melakukan otokritik terhadap sistem dakwah kita.

Satu Balasan ke Aliran Sesat ; Sebuah Otokritik

  1. arlianah restika berkata:

    aliran sesat itu pertama kali muncul kapan sih ??
    hehee :D
    trimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s