DEMOKRASI KITA SEDANG SAKIT

Nanang TanggungjawabOleh Nanang Wijaya

Diterbitkan di Harian Mercusuar (20 April 2009)

Pemilu legisatif pun telah usai, sorak sorai para pemenang  pun telah terdengar, gugatan dan kritikan dari yang kalah pun mulai terlontar, analisis dan ulasan dari para cendikiawan pun mulai bermunculan dan kekhawatiran dari rakyat kecil pun mulai lahir sebab prilaku elit politik semakin terbaca bahwa mereka memang hanya ingin kekuasaan. Akankan demokrasi kita mengantarkan rakyat bangsa ini menuju kesejahteraannya ?

Ditengah-tengah riuhnya sorak sorai partai pemenang pemilu legislatif, beberapa calon legislatif sedang menghitung jumlah utang-utang yang mereka harus bayarkan, yang mendapat suara banyak mungkin bisa bernafas lega tapi yang tak mendapat suara signifikan, ketakutan pun melanda, bayangan kehilangan harta benda untuk menutupi utang telah didepan mata. Inikah demokrasi yang kita inginkan ?

Diantara kembang kempis senyuman para elit politik yang telah memastikan dirinya mendapat jabatan sebagai anggota dewan, terdengar tangisan calon legislatif yang gagal padahal telah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk ukuran rakyat Indonesia. Harta benda telah habis dipertaruhkan di meja politik demi sebuah jabatan yang sangat prestisius itu.

Awalnya mimpi itu begitu indah dan sekarang kenyataannya kemiskinan didepan mata. Inikah demokrasi yang kita inginkan ?

Pada kemeriahan pesta syukuran, selamatan atas kemenangan yang dilaksanakan oleh calon legislatif pemenang pemilu, beberapa calon legislatif yang gagal tiba-tiba kehilangan kesadaran dan akal sehat, tiba-tiba menjadi terdiam, sebagian berteriak-teriak  bahkan ada yang menjadi anarkis menyakiti orang-orang didekatnya. Mimpi jabatan yang ditawarkan demokrasi membuat mereka stress bahkan gila sebab mereka tidak siap gagal hanya siap untuk menang. Inikah demokrasi yang kita inginkan ?

Ditengah-tengah carut marutnya DPT dan banyaknya tuntutan partai-partai yang kalah untuk pemilu ulang dan penilaian bahwa inilah pemilu terburuk sepanjang masa di Indonesia, beberapa caleg harus menarik kembali bantuan yang telah mereka sebarkan dimusim kampanye. Tak peduli apakah bantuan itu untuk orang miskin, untuk kelompok pengajian, untuk rumah ibadah, mereka tak lagi peduli. Mimpi kekuasaan yang ditawarkan demokrasi membuat mereka tak lagi mengenal yang namanya keikhlasan. Tidak ada lagi nilai-nilai kebaikan dan kebersamaan yang ada hanya kepentingan dan tatkala gagal meraup suara terbanyak, kemarahan pun menyeruak membunuh semua kebaikan yang pernah dilakukan . Inikah demokrasi yang kita inginkan ?

Ditengah-tengah riuhnya wacana koalisi dan bagi-bagi kekuasaan para elit politik, saling kunjung mengunjung antar pembesar partai, acara makan bersama para calon pejabat, beberapa calon anggota legislatif harus meregang nyawa dan mati demi demokrasi. Semangat hidup mereka dikalahkan oleh hinanya kekalahan, nyawa mereka relakan untuk dihabiskan di tali gantungan, sebab bunuh diri adalah pilihan bagi para pecundang meski janin juga mejadi korban yang tak tahu apa-apa atas demokrasi di Indonesia (kasus bunuh diri caleg PKB Jawa Barat yang Hamil 4 bulan). Inikah demokrasi yang kita inginkan ?

Demokrasi kita adalah demokrasi yang sangat mahal, sehinggah pemerintah harus mengeluarkan anggaran bermilyar-milyar untuk menjamin pelaksanaannya itupun pelaksanaannya carut marut. Setiap partai harus mengeluarkan biaya milyaran untuk konsolidasi, untuk kampenye bahkan untuk sewa pesawat terbang. Setiap calon legislatif harus mengeluarkan biaya beratus-ratus juta untuk membentuk citra dimasyarakat. Kaos, sticker, spanduk dan baliho hanyalah sedikit dari ongkos politik dalam demokrasi kita. Tatkala uang tidak ada maka utang pun menjadi pilihan. Sementara sudah bisa dipastikan korelasi antara hutang dan korupsi, semakin banyak utang seorang pejabat akan semakin besar pula keinginan korupsinya.

Demokrasi kita adalah demokrasi yang tidak siap kalah, demokrasi kita adalah demokrasi yang mengantarkan pelakunya untuk bermimpi menjadi penguasa yang kaya raya. Akibatnya tatkala kekalahan datang menyergap, hati, mental dan akal tidak siap menerimanya. Tatkala mimpi tak terwujud, maka Rumah Sakit Jiwa adalah peristirahatan terakhir.

Demokrasi kita adalah demokrasi kemunafikan, janji manis di musim kampanye, tebaran kebaikan dalan bentuk bantuan, hadiah, hibah dan kemanisan senyuman hanyalah kemunafikan sebab tatkala sadar tak bisa mendapat kekuasaan karakter culas pun terlihat dengan mengabaikan nilai-nilai, kebaikan pun menjadi hilang dan semua bantuan ditarik dan diminta kembali. Demokrasi kita tak memiliki lagi rasa malu. Tapi syukur mereka-mereka yang seperti itu tak jadi penguasa di negeri ini, sebab bisa dibayangkan jika mereka menjadi penguasa dengan sikap seperti.

Demokrasi kita demokrasi mata duitan, sebab rakyat dibiasakan dalam setiap pesta demokrasi dengan bagi-bagi  bantuan, bagi kaos, bagi-bagi duit. Rakyat tak lagi memilih berdasarkan kepercayaan, kapabilitas dan kualitas, tapi rakyat dibiasakan untuk memilih siapa yang memberi apa untuk mereka. Sebutlah kata “pemilu” yang muncul dipikiran rakyat negeri ini adalah bagi-bagi bantuan dan uang.

Demokrasi kita adalah jalan menuju perebutan kekuasaan dan kekayaan. Ghalibnya demokrasi hanyalah alat untuk mensejahteraan rakyat. Demokrasi adalah mekanisme pemberian amanah, pelimpahan wewenang dan penyerahan tanggung jawab dari rakyat kepada sekelompok kecil orang untuk mengelolah negeri ini, kekeayaan sumber daya alam didalamnya, mengatur segala yang ada dalam negeri ini untuk kesejahteraan rakyat. Tapi sayang demokrasi kita adalah demokrasi bagi-bagi jabatan dan bagi-bagi kekayaan.

Saat ini para elit sibuk menghitung pengeluaran selama kampenye untuk dikembalikan setelah menjadi pejabat. Sibuk menghitung kekuatan koalisi agar mendapat bagian jabatan. Pembicaraan bagi-bagi kekuasaan dibungkus dengan kata silahturrahmi antar elit agar rakyat tidak geram. Para elit itu sekarang tidak sadar bahwa hari ini jutaan rakyat tetap melanjutkan kehidupan dengan kemiskinan. Rakyat pun dilupakan sebab perhitungan kursi dan perolehan jabatan adalah lebih penting.

Demokrasi kita sedang sakit keras, sebab kita tak memahami filosofi dasar demokrasi yang mensejahterakan, sebab kita tak lagi peduli dengan demokrasi yang menjadi alat pengontrol kekuasaan, sebab kita tak lagi menjadi manusia dalam berdemokrasi, tapi kita telah menjadi binatang yang haus atas kekuasaan yang siap memakan temanya sendiri (homo homini lupus). Demokrasi kita sedang sakit sebab kita tidak ingin demokrasi kita sehat. Akankah demokrasi begini terus ?

Iklan

Tentang laboratoriumpencerahan

I'm a student......
Pos ini dipublikasikan di Kajian. Tandai permalink.

2 Balasan ke DEMOKRASI KITA SEDANG SAKIT

  1. nurrahman18 berkata:

    demokrasi sekarang lbh diartikan : demo-crazy, demo brutal adalah cara menyampaikan aspirasi (doh)

  2. nurrahman18 berkata:

    tp menurut saya demokrasi bukan “solusi” terbaik, sebenarnya ada yg lebih baik, jauhhh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s