Arsip Bulanan: Oktober 2009

Idiologisasi Ke-Iblis-an

Sebelum adam diciptakan, Iblis sudah lebih dahulu diciptakan, bahkan konon nerupakan makhluk setia dan taat beribadah kepada Allah. Setelah Adam diciptakan, iblis diperintahkan untuk tunduk kepada Adam. Akan tetapi Iblis membangkan dari perintah itu, sebab dia merasa LEBIH BAIK DARI … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Kajian | Meninggalkan komentar

Rekonstruksi Kejahilan

A. Masa pasca nabi Musa Ketika seseorang lahir pasca zaman nabi Musa maka ia akan menerima ajaran Nabi Musa, meyakini dan menjalankan ibadah-ibadah yang diyakini sebagai ajaran nabi Musa walaupun ajaran tersebut telah banyak menyimpang.

Dipublikasi di Kajian | Meninggalkan komentar

Institusionalisasi Kejahilan

Dalam beberapa gerakan, kelompok atau pemikiran terdapat dua ciri yang merupakan upaya menginstitusionalisasi kejahilan pencari kebenara. Artinya kejahilan itu dilegitimasi dengan menggunakan ayat-ayat dan Hadits atau landasan lain yang mendukung :

Dipublikasi di Kajian | Meninggalkan komentar

Kejahilan Pencari Kebenaran

Tafsiran kita atas realitas sesungguhnya dipengaruhi oleh makna yang telah kita yakini sebelumnya. Artinya sebenarnya pengetahuan yang kita yakini sesungguhnya sudah dipengaruhi oleh pengetahuan sebelumnya.

Dipublikasi di Kajian | Meninggalkan komentar

Hegemoni Makna atas Penafsiran Kita

Relasi kita dengan realitas adalah pemaknaan. Kita memaknai apa saja segala sesuatu yang ada diluar diri kita, quran, firman, manusia lain, kata-kata, batu, bintang, Tuhan, malaikat, apa saja. Dan makna yang tercipta itu akan membentuk prilaku kita selanjutnya.

Dipublikasi di Kajian | 1 Komentar

Memaknai ke-ghaib-an

Malaikat itu sering disebut ghaib….akan tetapi dia ada, disekitar kita ada, bekerja disekitar kita dan kita merasakan hasil pekerjaannya walaupun kita tidak melihat wujudnya.

Dipublikasi di Kajian | Meninggalkan komentar

Penafsir Kebenaran

Karena Kebenaran bisa ditafsirkan salah dan pada kenyataannya bahwa Nabi tidaklagi diangka, maka untuk menjaga Kebenaran itu tetap ada yang murni dam asli, dibutuhkan penafsiran kebenaran yang tafsirannya sama dengan kebenaran murni atau mendekati kebenaran murni.

Dipublikasi di Kajian | Meninggalkan komentar