Dari Relatif Menuju Kritis (Perjalanan Kedua)

Dimensi relatif dalam manifestasi keberagamaan, akan melahirkan keragaman pendapat, aliran, kepercayaan, mazhab dan keyakinan. Maka menjadi fitrah bahwa agama itu akan melahirkan perbedaan bermacam-macam aliran, keyakinan, pemahaman.

Mengikuti teori gradasi mulla sadr, maka sesungguhnya kebenaran yang ada bergradasi dari kebenaran sejati/murni sampai kepada kebenaran yang sangat jauh dari kebenaran sejati/murni. Kebenaran yang paling jauh dari kebenaran murni/sejati disebut juga kebathilan. Artinya tidak semua kebenaran yang beragam itu “benar”, ada yang sangat jauh dari kebenaran murni/sejati.

(Analoginya : jika kebenaran Murni/sejati itu 10, maka akan ada kebenaran yang hanya 9, kebenaran yang hanya 8, kebanaran yang hanya 7, dst sampai kebenaran yang hanya 1, sementara 0 menjadi tiada, sehingga tidak ada satupun keyakinan/pemahaman, dll itu tidak mengandung unsur kebenaran sejati/murni)

Sesuci-sucinya agama, ia tentunya memiliki potensi untuk disalahpahami, sehingga lahir keyakinan yang jauh dari kebenaran murni/sejati. Artinya keyakinan-keyakinan yang bertebaran saat ini tentunya ada yang lahir dari kesalahan pemahaman atas dimensi normatif agama. Maka dibutuhkan proses dinamisasi akan kebenaran yang kita yakini agar terus mendekat kepada kebenaran sejati/murni.

Proses dinamisasi ini mensyaratkan adanya daya/sikap kritis. Dimana daya kritis itulah yang akan terus menilai kebenaran-kebenaran yang ada. Daya kritis tidak hanya dipakai untuk menilai keyakinan yang lain, justru daya kritis itu harus dipakai untuk keyakinan kita sendiri.

Kecenderungan kita adalah begitu kritis dengan keyakinan, pemahaman, kepercayaan yang lain, kemudian kita mematikan daya kritis itu terhadap keyakinan, kepercayaan dan pemahaman kita sendiri dengan alasan bahwa keyakinan, pemahaman dan kepercayaan sudah pasti benarnya. Dan ini keliru, seharusnya kita kritis terlebih dahulu dengan kita sendiri kemudian dengan yang lain.

Matinya daya kritis dalam diri seseorang akan membuat proses dinamisasi yang bertujuan untuk mendekati Kebenaran sejati/murni menjadi statis. Keyakinan yang ada akan menjadi dogma, indoktriasi dan kemudian matinya daya kritis akan melahirkan sikap taklid, yang akan menerima dan mempertahankan keyakinan begitu saja. Sikap ini akan diikuti dengan sikap menghakimi keyakinan yang lain.

Iklan

Tentang laboratoriumpencerahan

I'm a student......
Pos ini dipublikasikan di Kajian. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s