Hegemoni Makna atas Penafsiran Kita

tanganRelasi kita dengan realitas adalah pemaknaan. Kita memaknai apa saja segala sesuatu yang ada diluar diri kita, quran, firman, manusia lain, kata-kata, batu, bintang, Tuhan, malaikat, apa saja.
Dan makna yang tercipta itu akan membentuk prilaku kita selanjutnya.

Akan tetapi sesungguhnya kita telah memiliki makna tertentu sebelum kita mencoba memaknai sesatu. Dan makna awwal terbentuk oleh kultural tertentu pula. Akhirnya menutup kita dari makna sesungguhnya dari sesuatu itu.

Sebut kata sosialisme…..maka yang makna muncul adalah kiri, komunis, atheis, dsb…
Sebut kata filsafat kepada orang ahlus sunnah…maka yang muncul adalah sesat, kafir. dsb….
Sebut kata Kristen kepada orang islam…..
Sebut kata Islam kepada orang kristen
Sebut kata yahudi kepada orang islam
Sebut kata syiah kepada orang sunni…..
Sebut kata sunni kepadai orang syiah…..
Sebut kata Muhammadiyah kepadai orang NU di pedesaan
dan lain-lain

AKhirnya kita tidak lagi mau mencari tahu makna sebenar-benarnya. Akan tetapi kita langsung mempercayai dan berprilaku atas makna yang sudah menguasai kita sebelumnya, padahal bisa jadi makna-makna tersebut keliru atau dalam perjalannya mengalami distorsi..

Padahal untuk mengetahui sesuatu….sebutlah filsafat yang sebagian orang menganggap sesat…tentunya harus kita pelajari dari mana asalnya, siapa tokohnya, apa ajarannya, dimana salahnya, apa gunanya, dsb.. semua itu menjadi tertutup akibat hegemoni makna kultural tertentu.

Pengetahuan kita menjadi dangkal…sangat dangkal….

Sebut kata marx kepada seorang aktivias pengajian…pasti dia langsung menolaknya dan menganggapnya atheis…..tanyakan pokok-pokok pikiran , tanyakan kekeliruannya dimana, tanyakan argumentasinya untuk membantah pikiran marx….dan aktivis pengajian akan menjawab “pokoknya marx itu atheis..untuk apa dipelajari lagi !!!!!”…jawaban yang sangat dangkal

Padahal kebenaran apapun yang kita yakini, apakah itu membenarkan sesuatu atau menolak sesuatu haruslah disertai dengan argumentasi yang kuat. Tidak sekedar yakin tapi dangkal pengetahuannya.

Bandung, 24 Oktober 2009

Nanang Wijaya

Tentang laboratoriumpencerahan

I'm a student......
Pos ini dipublikasikan di Kajian. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Hegemoni Makna atas Penafsiran Kita

  1. asep berkata:

    suatu kajian yang kritis……cuma waktunya cukup tidak untuk semua kita pelajari?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s