Rekonstruksi Pemahaman keagamaan

1. Pada awalnya yang ada hanya dzat Allah dan itulah kebenaran murni

2. Kebenaran Murni tersebut di turunkan ke dunia dalam bentuk ajaran melalui Malaikat dan Nabi. Dari kebenaran murni yang tak terbatas menuju kedunia yang terbatas. Dari bahasa Ilahi yang tak terbatas diturunkan kepada manusia dengan menggunakan bahasa manusia (arab) yang terbatas.

3. Posisi Nabi menjadi unik, sebab mereka adalah sosok yang dipilih dan dipersiapkan untuk menerima ajaran tersebut. Olehnya potensi kekeliruan dalam memahami ajaran menjadi tidak ada sebab mereka dalam pengawasan langsung Allah.

4. Untuk kasus Islam. Kebenaran Murni tak terbatas tersebut kemudian dimanifesitasikan oleh rasul Muhammad ke dalam bentuk Kitab Suci (al Quran dengan menggunakan bahasa arab) dan prilaku (Tindkaan dan ucapan) beliau sehari-hari.

5. Manifestasi kebenaran murni berupa Kitab Suci dan Prilaku Rasul Muhammad kemudian dipahami dan dilaksanakan kembali oleh para sahabat. Terjadi proses Objektifikasi, Internalisasi dan Eksternalisasi ajaran dari Rasul Muhammad kepada pemahaman para sahabat,

6. Keragaman karakter, daya tangkap/pemahaman, intensitas kebersamaan dengan Rasul, geografis dan niat para sahabat dalam menerima ajaran membuat pemahaman atas ajaran dari rasul berpotensi untuk berbeda.

7. Objektifikasi, Internalisasi dan Eksternalisasi ajaran yang dilakukan oleh para sahabat atas ajaran dari rasul sesungguhnya memiliki potensi untuk keliru. Pada fase ini kita tidak memiliki jaminan apa-apa terhadap kebenaran pemahaman mereka selain posisi mereka sebagai sahabat (orang yang pernah bertemu langsung dengan Rasul). Selain potensi kekeliruan, potensi kebenarannya pun tetap ada.

8. Pemahaman dari para sahabat kemudian mengalami Objektifikasi, Internalisasi dan Eksternalisasi ajaran (di pelajari, interpretasi, dimaknai dan dilaksanakan menurut makna yang diakui) lagi oleh para tabi’in. Tentunya pada fase ini, potensi untuk kekeliruan juga semakin besar dibandingkan pada fase sahabat.akan tetapi potensi kebenarannya pun tetap ada.

9. Pemahaman dari Tabi’in mengalami Objektifikasi, Internalisasi dan Eksternalisasi ajaran (di pelajari, interpretasi, dimaknai dan dilaksanakan menurut makna yang diakui) lagi oleh para pengikut (siswa) dari para tabi’in (disebut tabi’ tabi’in). Potensi kekeliruannya pun semakin besar, jika dibandingkan dengan fase sahabat dan fase tabi’in. akan tetapi potensi kebenarannya pun tetap ada.

10. Pemahaman para tabi’ tabi’in kemudian terus diajarakan dari generasi ke generasi dengan rentang waktu kurang lebih 1430 proses itu terus berlangsung. Dengan fase yang begitu panjang, maka potensi kekeliruannya pun semakin besar. walaupun potenti untuk benar tetap ada.

11. Dan sekarang…..kita menerima Ajaran Islam dari Ibnu Taimiyyah, dari muhammad abdul wahab, dari Jamaluddin al Afghai, dari Muhammad Abduh, dari ibnu Qayyim Al Jauziah, dari Hasan al Banna, dari sayyid qutb, dari Qardhawi, dari Taqiyuddin an nabhani, dari Khomeini, dari ali syariati, dst

12. Pada fase selanjutnya kita menerima ajaran Islam dari Wahid Hasyim, dari para wali songo, dari Ahmad Dahlan,dari A Hasan, dari AA Gym, dari Ustd Jefry, dari beragam ustad yang lagi trend saat ini, dari pemimpin-pemimpin kelompok keagamaan yang kita ikuti. dst

13. Pada fase selanjutnya kita menerima ajaran Islam, dari mentor kita di kampus, dari murrabi kita di taman-taman pengajian, dari instruktur kita di training2, dari teman-teman kita yang senior di pergerakan yang kita ikuti, dst.

14. Begitu panjang perjalanan ajaran agama yang kita anut, apalagi jika diurut dari nabi pertama Adam sampai saat ini.

15. Pertanyaannya adalah masihkah ajaran itu sama dengan Kebenaran Murni sebagaimana pada Allah dan yang diajarkan oleh Nabi ??????????????

16. Atau telah terjadi penyimpangan ajaran ???? Kesulitan kita adalah semua ajaran ini yang beragam ini menyebut dirinya ajaran Islam dan menggunakan legitimasi Kitab Suci dan Praktek Nabi (hadits) serta bersikukuh bahwa ajarannya yang paling benar.

Tentang laboratoriumpencerahan

I'm a student......
Pos ini dipublikasikan di Kajian. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s