Kenapa Harus Menolak Ujian Nasional (UN)

Mengapa Kita Harus Menolak UN
1. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengabulkan gugatan warga negera (Citizen Lawsuit) terhadap pelaksanaan UN. Majelis Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menolak eksepsi para tergugat yang terdiri dari Presiden RI, Wakil Presiden, Menteri Pendidikan Nasional dan Ketua badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP).
2. Majelis Hakim menyatakan bahwa para tergugat telah lalai dalam memberikan pemenuhan dan perlindungan hak asasi manusia terhadap warga negaranya yang menjadi korban UN, khususnya pada hak atas pendidikan dan hak-hak anak

3. Majelis hakim memerintahkan para tergugat untuk meningkatkan kualitas guru, kelengkapan sarana dan prasarana sekolah dan akses informasi yang lengkap disemua daerah di Indonesia sebelum pemerintah melaksanakan kebijakan pelaksanaan UN

4. Majelis hakim juga memerintahkan para tergugat untuk mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi gangguan psikologis dan mental peserta didik dalam usia anak akibat penyelenggaraan UN

5. Majelis hakim memerintahkan untuk meninjau kembali Sistem Pendidikan Nasional. Dan putusan ini diperkuat oleh Mahkamah Agung, tanggal 14 september 2009,

6. Adalah tidak adil jika pemerintah tidak menyiapkan seluruh fasilitas pendidikan dengan standar nasionak di seluruh daerah akan tetapi telah menyelenggarakan UN

7. Pemerintah hanya menerapkan Standar Nasional berupa nilai yang harus dicapai oleh peserta UN, akan tetapi pemerintah tidak menerapkan standar nasional bagi sekolah, bagi guru, bagi fasilitas yang dimiliki oleh sekolah.

8. Pemerintah menerapkan satu-satunya cara evaluasi terhadap pendidikan nasional adalah UN, padahal UN bukanlah satu-satunya metode.

9. UN mengukur/mengevaluasi pendidikan secara nasional, akan tetapi juga dipakai untuk mengukur kemampuan siswa secara pribadi.

10. Sumber daya yang dimiliki setiap sekolah di Indonesia berbeda , baik itu fasilitas (seperti lab bahasa, lab praktek kimia-fisika, dll) termasuk sumber daya manusia (guru). Akan tetapi bagi peserta UN diterapkan standar nasional. Ini adalah ketidakadilan, contoh : Sekolah yang memiliki Laboratorium bahasa asing (bahasa inggris) yang lengkap disamakan dengan sekolah yang tidak memiliki lab bahasa asing. Tidak mungkin sama siswa sekolah daerah perkotaan dengan daerah pedesaan walaupun dalam regional yang sama

11. Pemerintah tidak memberikan jaminan hidup (pendapatan/gaji) yang pantas bagi guru, sehingga guru tidak berkonsentrasi pada tugas mengajarnya.

12. UN hanya mengujikan mata pelajaran tertentu, ini indikasi terjadi pembedaan antara mata pelajaran, mana yang dianggap penting dan mana yang tidak. (bahasa inggris, bahasa indonesia, dll dianggap perlu diujikan, sementara seni, olahraga, agama, dll dianggap tidak perlu).

13. Mata pelajaran yang diujikan setiap tahun berubah/bertambah. Sehingga Penyelenggaraan UN terkesan coba-coba/trial and error

14. UN memaksa peserta UN untuk mempelajari semua pelajara yang telah diajarkan selama tiga tahun. Lantas untuk apa ujian semester yang siswanya sudah dinyatakan lulus. Karna belajar dalam keadaan terpaksa, ini berpengaruh pada pemahaman dan penguasaan mata pelajaran

15. UN membuat perbedaan antara pelajar kaya dan pelajar miskin. Pelajar kaya dengan mudah mendapatkan bimbingan belajar, les privat, dsb sementara pelajar miskin tidak bisa.

16. Persiapan untuk UN menyita waktu para pelajar dan guru dengan menyelenggarakan les sampai sore dan siswa dipaksa untuk belajar tanpa memperdulikan kondisi pelajar.

17. Persiapan untuk UN memaksa pengeluaran biaya yang besar oleh siswa. Untuk membayar guru untuk les, membayar bimbingan belajar, membayar les privat.

18. UN diselenggarakan dalam waktu tiga haru berturut-turut, sehingga tidak memberikan waktu yang luang bagi siswa untuk mengistirahtakan diri dan pikirannya.

19. Peserta UN dibawah tekanan psikologis (ketakutan tidak lulus) dalam mengikuti UN

20. Gelar “Tidak lulus’: akan berpengaruh pada aspek psikoligis siswa, sosial (pandangan masyarakat terhadap siswa yang tidak lulus negatif)

21. UN hanya menilai aspek kognitif peserta UN sementara tidak perdulikan aspek afektif dan psikomotorik. Dalam lebih menonjolan hafalan. Sehingga aspek moral, akhlak, prilaku di sekolah, intensitas mengikuti pelajaran, dll tidak menjadi penilaian

22. UN hanya mengukur kecerdasan inteligensia peserta dan mengabaikan kecerdasan spritual, kecerdasan emosional dan kecerdasan fisik peserta, maka UN mereduksi makna pendidikan hanya soal kemampuan otak.

23. UN menciptakan budaya licik, nepotisme, curang yang dilakukan oleh para sisiwa dan para guru. Karena memaksakan standar yang harus dicapai oleh sekolah.

24. Pihak sekolah (guru) yang selama tiga tahun mendampingi siswa dalam belajar sehingga tahu benar bagaimana siswanya tidak memiliki pengaruh apapun terhadap kelulusan, walaupun ada akan tetapi pengaruh itu kecil.

25. UN membatas hak pendidikan warga negara, sebab bagi siswa yang tidak lulus tentunya tidak bisa melanjutkan pendidikannya.

26. UN tidak memperdulikan nilai mata pelajaran lain, contoh : bahasa indonesia : 7, bahasa Inggris 7 tapi Matematika 4, maka peserta dianggap tidak lulus.

27. UN telah memakan korban, dengan beberapa kasus bunuh diri siswa yang tidak lulus dan pemerintah tidak memperdulikan hal ini

28. Dalam beberapa kasus, ada siswa yang kenal pintar dalam satu bidang studi justru tidak lulus pada bidang studi tersebut.

29. Penyelenggaran paket C tidak sinergis dengan penerimaan pada perguruan Tinggi, sehingga peserta paket C tidak bisa mendaftar pada perguruan tinggi utamanya negeri.

30. Selama penyelenggaraan UN bertahun-tahun, tidak pernah berpengaruh pada perbaikan mutu pendidikan. Ambil contoh saja antara 2007-2008-2009, apakah telah terjadi perbaikan mutu pendidikan ? sementara standar kelulusan terus naik.

31. Jika terjadi kegagalan (banyak siswa yang tidak lulus) pemerintah selalu mempersalahkan pihak sekolah.

32. ????????

Tentang laboratoriumpencerahan

I'm a student......
Pos ini dipublikasikan di Catatan Harian. Tandai permalink.

2 Balasan ke Kenapa Harus Menolak Ujian Nasional (UN)

  1. junaidin ompu gaji berkata:

    un perlu….
    laksanakan terus dengan syarat:
    perhatikan dan laksanakan un berdasarkan 32 point tersebut
    kalo motivasi pelaksanaan un untuk dapat ceperan, lebih baik un di-stop dulu
    penuhi semua semua kebutuhan satuan pendidikan khususnya di luar kota, desa, dan pedalaman Indoenesia. soal un jangan samakan dongs dengan siswa kota. siswa desa kagak ngerti listening misalnya, ya pantaslah… mereka gak kenal barang itu kok… tapi toh tetap disuruh listening sama dengan siswa kota,
    bicara standar nasional jangan hanya diukur dari sekolah kota, sekolah desa juga bagian dari indonesia, belum adilkan…
    bangun indoensia mulai dari pinggir indonesia

  2. FANELKABAN berkata:

    Tidak adillah seperti itu karena UN bukan merupakan penentuan siswa itu lulus atau tidak saya melihat didaerah pedalaman belum mendapatkan fasilitas pendidikan yang memadai. Mengapa pemerintah menyelenggarakan UN sedangkan di daerah indonesia belum terpenuhnya guru yang mengajar atau kekuranagan guru. Itu harus diperhatikan pemerintah. Percuma pejabat disekolahkan tinggi – tinggi tetapi tidak ada perubahan bagi bangsa ini. Anggota DPR hanya mengantuk, bolos dari sidang, studi banding keluar negeri, sedangkan di sekolah baik SD,SMP,SMA,maupun perguruan tinggi sudah ada pelajaran. Persoalan bantuan logistik yang diduga masyarakat terjadi penyimpangan. Ini harus diperhatikan oleh presiden dan jajaran pemerintah lainnya berikanlah yang terbaik untuk rakyat dan bangsa ini. Wujudkan cita – cita bangsa ini sesuai pada pembukaan UUD 1945 alinea ke 4. Soal mobil mersedes saya rasa berlebihan mengapa harus mersedes bukannya mobil lain yang standar. Jika ada sisa berikanlah kepada masyarakat yang membutuhkan. Punyalah hati yang mulia dalam hidup ini kita sama – sama manusia yang harus menlong. Saya mengajak anda untuk menolong dan berbagi antar sesama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s