Analogi-analogi (Bagian ke tujuh)

Si Bapak telah menyelesaikan acara minum kopinya. ketika masih menunggu taksi lewat, si Bapak melihat seorang yang sedang belajar mengendarai motor di lapangan samping warung.

Si Bapak langsung berpikir tentang empat kenikmatan :

Kenikmatan Pertama adalah kenikmatan hayali, kenikmatan yang dirasakan ketika kita menghayalkan sebuah kondisi dimana kita ingin mengalaminya.

Seperti seseorang yang belum tahu mengendarai motor, ketika melihat orang lain begitu asyik mengendarai motor. Maka ia mengkhayalkan seandainya dia tahu mengendarai motor. Kondisi menghayal itu memiliki kenikmatan tersendiri.

Kenikmatan Kedua, kenikmatan yang dirasakan ketika seseorang sedang dalam situasi memperlajari sesuatu yang ingin dikuasainya. Kenikmatan ini akan terus membuatnya penasaran, tegang, asyik, ingin terus menerus mencoba tanpa kenal waktu, menyampingkan segala resiko yang akan dihadapi, dst

seperti seseorang yang sedang belajar mengendarai motor. Dia akan tegang tapi asyik, dia akan takut tapi terus mencoba, dia akan tidak memperhatikan waktu, dia tidak akan memperdulikan resiko jatuh/kecelakaan, dll

Kenikmatan Ketiga adalah kenikmatan yang dirasakan ketika seseorang telah menguasai sesuatu yang ingin dikuasainya, setelah menempuh berbagai macam masalah ketika sedang belajar.

Kenikmatan ini akan membuat seseorang akan terus memperlihatkan keahliannya kepada orang lain dengan bangga.

Seperti seseorang yang baru saja tahu bagaimana mengendarai motor, maka ia akan memperlihatkan kemampuannya kepada teman-temannya, memacu motornya dengan laju, memperdengarkan suara motornya keras-keras.

Kenikmatan keempat adalah kenikmatan yang dialami oleh seseorang ketika dia tidak lagi membutuhkan keahlian yang dari awal diusahakan untuk dikuasai dengan penuh usaha dan pengorbanan.

Kenikmatan keempat ini adalah kenikmatan yang melampaui, melampaui keahlian, melampaui kebutuhan, melampaui pengakuan. Kenikmatan ini adalah kenikmatan menjadi legenda……Dia menjadi simbol, menjadi hening, menjadi titik acuan, menjadi sendiri…. Dan biasanya menjadi…..Guru/Resi/Mast

er/dll

Seseorang yang telah melampaui keahliannya, maka ia tidak lagi membutuhkan pengakuan, dia tidak perlu memperlihatkan orang lain keahliannya, tidak butuh pengakuannya, sebab ia telah melampaui keahliannya.

…………………….

Si Bapak coba mengaitkannya dengan proses beragama seseorang.

Kenikmatan pertama : seseorang yang hanya menghayalkan bahwa dia menguasai ajaran agama ketika melihat orang lain berceramah, menguasai agama, berdiskusi, berdebat. Dia ingin seperti orang itu.

Kenikmatan Kedua : seseorang yang terus berusaha mempelajari agama, dia menghadiri semua majelis ilmu, dia akan membaca banyak buku, dia akan selalu berdiskusi, dll dan selama proses itu ada rasa penasaran yang besar, tidak memperdulikan waktu dan asyik dengan proses mencarinya.

Kenikmatan Ketiga : seseorang yang sudah menguasai ajaran agama.

Kenikmatan Keempat : Seseorang yang sudah menjalani hidup dalam tradisi sufisme.

………………………..

Akan tetapi dalam perjalan keagamaan seseorang, ada yang hanya berproses pada kenikmatan pertama, ada yang hanya berproses pada kenikmatan kedua dan ada yang hanya berproses pada kenikmatan ketiga…..mereka merasa sudah puas dengan tahapan tersebut dan tidak mau bergerak ke tahapan berikutnya 🙂

Bersambung ke analogi berikutnya

Tentang laboratoriumpencerahan

I'm a student......
Pos ini dipublikasikan di Kajian. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s