Reaksi Aktivis terhadap Kritikan

Karena saya ingin tahu bagaimana para aktivis-aktivis pergerakan bersikap ketika pikiran atau pendapatnya di kiritk. Maka saya sengaja membuat riset kecil-kecilan.

Saya sengaja mengkritik, menyanggah ataupun mendebat setiap pendapat yang ditulis pada status ataupun catatan pada facebook.

Dan ketika melakukan itu, saya mendapat beragam reaksi dari para aktivis pergerakan. Saya membagi reaksi tersebut pada tiga kategori.

Kategori pertama : reaksi terbuka : mereka menerima kritikan, mengucapkan terima kasih atas kritikan, menjawab kritikan dengan bahasa yang baik dan membuka peluang untuk berdiskusi.

Kategoti kedua : reaksi setengah terbuka dan setengah tertutup : mereka langsung menyanggah segala kritikan (apologi), membenarkan pendapatnya, menyalahkan kritikan, sudah mulai terkesan menyerang balik kritikan, menggunakan kata-kata baik dan masih membuka peluang untuk diskusi (lebih tepatnya debat)

Kategori Ketiga : reaksi tertutup : Mereka membela mati-matian pendapatnya, menyalahkan orang yang mengkritik, balas menyerang kritikan, menggunakan bahasa yang kasar, mencaci maki (kafir, munafik, tidak islami, menyimpang, tidak dewasa, kekanak-kanakan, bodoh, goblok, perlu belajar banyak, dll)

Kategori ketiga membalas kritikan dengan bahasa yang diharapkan langsung mematikan, mengalahkan, meng-KO-kan, membuat pengkritiknya tidak berkutik dan menutup pintu diskusi ataupun debat.

Jawaban yang mereka tulis sangat sarat dengan emosi, kemarahan, kedengkian, tidak ingin dikalah, tidak mau menerima pendapat orang lain, dll

ketegori ketiga biasanya menggunakan Argumentum ad hominem

Argumentum ad hominem adalah argumentasi yang diajukan tidak tertuju pada persoalan yang sesungguhnya, tetapi terarah kepada pribadi yang menjadi lawan bicara atau dalam bahasa kerennya dikenal dengan istilah Personal Attack.

Saya menganggap kategori ketiga tidak bermoral/beradab/berakhlak

dalam menanggapi kritik

Dan dari pengalaman selama ini, kategori pertama paling sedikit jumlahnya dan kategori ketigalah yang paling banyak jumlahnya……..

Dan menjadi pertanyaan bagi saya : Kenapa kategori ketiga itu banyak jumlahnya ?????

apakah pergerakan islam sekarang, lebih memperhatikan aspek intelektual tapi kemudian melupakan membangun kepribadian, membangun akhlak bagi para aktivis/kadernya, membangun jiwa, membangun sisi bathinia ?

Sehingga mereka terampil dalam berdebat, membalas kritikan tapi tidak bisa menggunakan kata-kata yang berakhlak, kata-kata yang menimbulkan simpati, kata-kata yang enak didengar.

Tapi riset ini masih perlu dan harus dibuktikan dengan riset yang lebih lengkap, ilmiah dan terukur….sehingga dapat membantu pergerakan untuk membuat kebijakannya dalam mencetak kader-kadernya.

Sebab bagaimana jadinya Dakwah Islam jika para pendakwahnya penuh dengan orang-orang pada kategori ketiga.

Iklan

Tentang laboratoriumpencerahan

I'm a student......
Pos ini dipublikasikan di Kajian. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s