Dongeng Putri Angsa dan Pencarian Makna Hidup (Bagian II ; Belajar Membaca…..lanjutan)

Setelah beberapa menit, menebarkan pandangannya keseluruh taman….Paman Kancil kemudian menutup matanya….akupun mencoba mengikutinya…menutup mataku…tapi sesekali saya mengitip melalui mata kiriku…apa yang dilakukan oleh Paman Kancil….sebab jika saya terus menutup mataku…saya tidak akan tahu tindakan apalagi yang dilakukan Paman Kancil….menutup mata adalah sengaja membutakan diri atas sekeliling….memutus eksistensi kita dengan eksistensi yang lain….sebenarnya saya tidak suka menutup mata…jika itu dilakukan untuk memutus eksistensi kita dengan eksistensi yang lain….bagiku sebuah ketidakpedulian….aku tidak suka ketidakpedulian….

setelah beberapa saat memejamkan matanya….Paman Kancil bertanya kepadaku sambil tetap memejamkan matanya….”putri angsa yang cantik…tidakkah engkau melihat taman ini begitu indah ?….apakah engkau tahu kenapa ia terlihat indah ?”

“iya Paman….aku bisa melihat dan merasakan taman ini begitu indah….tapi aku tidak tahu…mengapa ia menjadi indah”

“taman ini terlihat indah…karena segala yang ada didalamnya….bereneka ragam dan berbeda-beda….tapi keanekaragaman dan perbedaan itu pada porsi yang tepat….pada letak yang tepat….dan pada komposisi yang tepat….satu saja tumbuhan didalamnya mendominasi yang lain…maka keindahannya akan berubah….bayangkan jika kuncup semua bunga itu hanya memiliki satu warna….atau di taman ini hanya ada satu jenis bunga….kemungkinan keindahan yang kita rasakan tidak akan bertahan lama….

aku hanya terdiam….menunggu kata-kata Paman Kancil selanjutnya

“itu yang disebut dengan berbeda dalam kesetaraan….dan setara dalam perbedaan…..keindahan dalam hidup kita…jika kita menemukan perbedaan diri kita….lalu kita mampu menempatkan diri…pada posisi yang mana….sehingga perbedaan yang kita miliki tidak menghancurkan keindahan….tapi menambah keindahan itu”

itulah rahasia kenapa Raja tidak menciptakan satu tumbuhan di hutan ini…..agar kita belajar keindahan…..tapi  keindahan itu tidak datang begitu saja….sebab tetap saja ada tambuhan pengganggu atau gulma….yang merusak keindahan….gulma adalah eksistensi yang tidak mampu memnempatkan dirinya dalam komposisi keindahan….itulah makanya ia hadir untuk merusak keindahan…

Aku memberanikan diri bertanya “tapi kenapa gulma itu harus ada Paman ?”

sambil tetap memejamkan matanya, aku melihat Paman Kancil terseyum lalu berkata “agar kita tahu mana keindahan dan ketidak indahan….lalu kita akan berusaha mempertahankan keindahan….dengan membersihkan rumput-rumput pengganggu itu…..

“artinya Raja telah menganugerahkan keindahan kepada kita…..tapi kita tidak dibiarkan begitu saja menerima keindahan itu…..kita juga diberikan tugas untuk menjaga keindahan itu….maka untuk jalannya tugas itu….maka diciptakanlah tanaman pengganggu” lanjut Paman Kancil

“kecuali bagi para penutup mata….mereka tidak akan mengerti keindahan….tidak mengerti ketidakindahan….dan tidak pernah paham tugas menjaga keindahan”

“tapi Paman…..kita berdua menutup mata saat ini….kita masih bisa mengerti keindahan…bahkan membicarakannya sambil menutup mata” protesku

Senyum Paman Kancil semakin lebar dari biasanya….mungkin karena pertanyaanku sedikit kekanak-kanakan….tapi aku tidak peduli…sebab aku memang masih anak-anak….aku anak angsa tercantik di hutan ini……menurut ibuku….

Paman Kancil lalu menjawab “karena kita menutup mata untuk menikmati keindahan….bukan tidak peduli keindahan….keindahan dan makna terkadang harus dinikmati….dalam hening….dalam sepi….dalam keadaan mata terpejam….tanpa gangguan dari yang lain…itu yang disebut dengan tafakkur….itu sebabnya dalam dunia manusia….manusia-manusia suci selalu memiliki waktu untuk menyendiri….untuk meresapi keindahan dan makna….dan bertemua keindahan sejati dan makna yang sejati.

Aku terdiam…penasaran apa kata-kata Paman Kancil berikutnya

Paman Kancil lalu membuka matanya….”hari ini cukup anakku….engkau harus kembali kerumahmu….ibumu pasti sudah menunggumu…besok kita belajar abjad…A..B..C..D agar engkau bisa membaca tulisan Raja di alam raya ini…tapi juga tulisan manusia yang di kertas-kertas itu”

“baiklah paman” akupun segera bangkit dengan cepat….seolah semua berlalu dengan cepat….aku berharap  pertemuanku dengan Paman Kancil yang akan datang dapat dipercepat pula….aku bergegas pulang.

sebelum kami terpisah jauh…..tiba-tiba Paman Kancil berseru “anakku…waktu tetaplah waktu….ia tak bergeming….ia tidak terpengaruh dengan perasaan manusia….yang kadang merasa lambat dan merasa cepat….maka jalani semuanya….ingat…pada komposisi dan porsi yang tepat…..sampaikan salamku pada ibumu”

“Iya…paman” lalu aku membalikan badan sambil berjalan pulang dengan riang gembira….semoga hari esok…aku dipertemukan lagi dengan Paman Kancil.

Sesampainya dirumah…aku melihat ternyata ibuku sedang menerima tamu…aku coba mengintip kedalam…ternyata tamu itu adalah Abah Gajah….

Abah Gajah adalah salah satu tetua di hutan kami yang teguh memegang tradisi dan adat berlaku dihutan kami….abah gajah termasuk binatang paling keras memberikan hukuman jika terjadi pelanggaran tradisi di hutan kami…..sekarang ia bertamu di rumahku….ada apa gerangan ?  aku jadi bertanya-tanya….

aku mencoba mendengarkan pembicaraan mereka…sambil merapatkan badanku kedinding rumah….tidak terlalu jelas…beberapa potongan kalimat aku dengar

“itu tidak bisa dibiarkan….si Kancil yang gila itu akan mempengaruhi anakmu….apalagi kalau si kancil itu bercerita soal ayahnya…………” suara itu kemudian hilang….aku mencoba lebih merapatkan telingaku ke dinding…tapi hasilnya nihil…

“ayahku ??????” aku sangat terkejut dan bertanya-tanya

 

(avatarwijaya.bandung.02.03.20.11.06.35)

Tentang laboratoriumpencerahan

I'm a student......
Pos ini dipublikasikan di Catatan Harian, Kajian. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s