Si faqir dan si Bapak Bicara Tentang Mereka Yang Anti Demokrasi (Seri Cerita Sangat Pendek)

Bis yang ditumpangi Faqir tiba-tiba berjalan melambat……didepan ada kemacetan yang cukup panjang….tentunya bagi para penumpang yang terburu oleh waktu maka kemacetan adalah hal yang sangat mengesalkan….biasanya umpatan pun mulai dikeluarkan kepada siapa saja….bagai senapan menembak membabi buta…..padahal jika pada situasi normal hal-hal tersebut kita jalani dengan enjoy…

Setelah beberapa saat….akhirnya diketahui sumber kemacetan adalah demontsrasi yang dilakukan salah satu organisasi Islam yang selalu mengklaim diri sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia dan di dunia…..walaupun mereka sudah berjalan dipinggir jalan akan tetapi tetap saja menyebabkan kemacetan sebab badan jalan mengalami penyempitan.

Dan ternyata salah satu penumpang yang terburu oleh waktu dan kesal pada kemacetan ini adalah seorang bapak yang duduk di sebelah si Faqir…..si Bapak terus melihat arloji yang melingkar di tangannya.

“tinggal menunggu waktu, pasti si Bapak ini akan segera menumpahkan kekesalannya” pikir si Faqir.

dan memang tidak menunggu lama, akhir si Bapak pun menumpahkan kekesalannya.

“demo..sih..demo…tapi jangan mengganggu orang lain” kata si Bapak

“tapi pak….mereka itu organisasi islam dan sedang memperjuangkan kebenaran” pancing si Faqir

“organisasi Islam apaan !!!….Islam itu datang bukan menzalimi orang yang tidak bersalah….tidak mempersulit orang lain….sekarang….mereka demonstrasi kepada pemerintah….kenapa kita yang di bis ini terzhalimi….kalo mereka itu sadar akan hak-hak orang lain dan menghormatinya…..tidak usah pake jalan kaki….ngumpul saja satu persatu di depan kantor yang dituju….kenapa mesti jalan ?” kata si Bapak

“khan mereka ingin supaya masyarakat tahu….apa yang mereka perjuangkan pak” si Faqir terus memancing

“ah…masyarakat juga tidak peduli…malah kesal dengan mereka…..lagian saya perhatikan selama ini…perjuangan organisasi itu…nggak ada apa-apanya….nggak ada pengaruhnya dengan bangsa ini….beribu kali mereka demo…tetap saja bangsa ini punya orang miskin banyak”

“menurut bapak…kenapa ya seperti itu ?” tanya si Faqir

“perjuangannya nggak jelas….abstrak….apa-apa solusinya ganti sistem…apa-apa solusinya ganti sistem…..khan kalo sistem tidak diganti…berarti tidak akan ada perbaikan…..lantas kapan sistemnya bisa diganti ?” jawab si Bapak

“mungkin menunggu takdir kali pak” si Faqir menimpali

“itu dia yang salah…..kalo merasa sistem itu benar…ya perjuangkan dong….dengan cara apapun…bahkan kalo perlu angkat senjata….perjuangan mereka itu khan gamang…..” kata si bapak

“maksudnya pak…..” si faqir terus memancing dengan harapan ia mendapat pengetahuan dari si Bapak

“pertama….mereka menolak demokrasi….mengatakan demokrasi itu dari barat dan sistem kafir…..tapi kalau bukan sistem demokrasi dianut di negeri ini…mana bisa mereka demonstrasi dan teriak seperti itu…..artinya demokrasi lah yang memberikan mereka kesempatan untuk tumbuh dan berkembang…..eh…sekalinya tumbuh…malah minta demokrasi dihapuskan….” jawab si bapak

si Faqir hanya diam

“bayangkan kalo kita sampe sekarang masih pake sistem otoriter….seperti zaman Suharto dulu….mana ada demonstrasi yang mau ganti sistem negara…itu khan makar…pasti langsung ditangkapi satu-satu….buktinya….organisasi mereka nanti berani muncul setelah reformasi…setelah era demokrasi…dulunya mana ? nggak ada…kagak bisa tumbuh mereka….nanti setelah demokrasi…hak asasi di hormati di negeri ini…baru mereka muncul….dan pasang dada…seolah-olah merekalah pejuang Islam….itu sama saja ada orang memberi mereka kesempatan hidup….eh malah mereka mau membunuh orang itu……. ”

Si Faqir hanya tersenyum mendengarkan, lalu berkata “artinya mereka itu anak durhaka demokrasi…ya pak ?”

“benar itu…benar….mereka dibesarkan demokrasi…tapi tidak mengakui demokrasi……yang kedua……mereka yang mati-matian berteriak tolak demokrasi….tapi rela hidup dan mencari makan di sistem demokrasi ini…..kalo benar-benar menolak demokrasi…seluruh sistemnya dong ditolak….lalu perlihatkan kepada orang lain sistem seperti apa yang mereka tawarkan….khan sekarang tidak jelas….dan tidak nampak sistem yang mereka tawarkan untuk mengganti demokrasi…kecuali teori…”

“mereka menolak demokrasi…..tapi masih ikut pemilu di negeri ini….bukankah itu sistem demokrasi…..mereka menolak demokrasi tapi masih punya KTP….masih punya kartu keluarga…bahkan ada yang jadi ketua RT…bukankah itu sistem demokrasi….mereka menolak demokrasi….tapi jadi pegewai negeri….malah terima gaji lagi….artinya mereka berteriak tolak demokrasi….tapi nggak rela kalo gaji pegawai mereka di potong…ha…ha..ha…ha” si Bapak tertawa ketika menyadari ucapannya

si faqir ikut tertawa…soalnya dia mengingat beberapa temannya yang aktif di organisasi itu…tapi berstatus sebagai pegawai negeri….”betul juga ya pak…..seharusnya ketika mereka menolak demokrasi…konsekuensinya adalah mereka juga harus menolak semua sistem yang ada dan diatur berdasarkan sistem demokrasi itu…ha..ha…ha..ha”

“benar itu nak….mereka menolak demokrasi tapi berharap gaji dari sistem demokrasi…..apalagi yang mahasiswa-mahasiswa itu……mereka digerakan untuk menolak demokrasi….tapi ketika pendaftaran beasiswa dibuka…mereka juga buru-buru mendaftarkan diri sebagai calon penerima beasiswa dari pemerintah….dan berharap lolos menjadi penerima beasiswa dari pemerintah yang menganut sistem demokrasi….

Si faqir semakin keras ketawanya….”benar pak…benar pak….ha..ha..ha..ha…banyak teman saya begitu pak…..malah biasanya mereka kesal…kalo pencairan beasiswa lambat…ha..ha…ha…ha”

“perjuangan itu harus konsisten…ketika mereka menolak satu sistem…seluruh sistem itu harus mereka tolak dalam prakteknya…dan ketika mereka menawarkan sistem alternatif…mereka harus mempraktekkannya dalam kehidupan mereka sehari-hari…sehingga orang lain bisa melihat bagaimana kehebatan sistem yang mereka tawarkan itu…..itu namanya ibda bi nafsi…mulai dari diri sendiri…..

di negeri ini…pernah dahulu di zaman suharto…sekelompok orang yang menolak sistem negara ini…mereka pergi ke hutan dan membuka hutan menjadi perkampungan mereka sendiri…kemudian mereka menerapkan sistem yang mereka yakini disitu…kemudian mengajak orang lain untuk melihat dan kalau tertarik mempersilahkan mereka bergabung….tapi karena semakin hari semakin besar komunitas itu….akhirnya pemerintah Suharto menyerbu mereka dengan tentara….itu namanya konsisten….walaupun mungkin kita bisa mengkritik strategi mereka….tapi yang penting itu….penerepan keyakinan dalam kehidupan…dan sistem berkehidupan…..tapi organisasi yang ini….tidak ada satupun tempat dimana mereka mempraktekkan sistem alternatif mereka….itu maksud saya mereka gamang dalam perjuangan mereka….

“kalo hanya dengan alasan sistem harus tegak sedunia….tapi Rasul berjuang dahulu…tidak langsung sedunia…tapi mulai dari satu negeri…yaitu negeri Madinah…kemudian melebar ke daerah yang lain…maaf nak…kayaknya bapak harus turun disini…karena tujuan saya ke rumah sakit ini untuk menjengguk teman bapak seperjuangan dulu” si Bapak lalu menjabat tangan si Faqir…lalu bergegas turun dari Bis.

si Faqir tersenyum….terbayang-bayang di pikirannya…bagaimana kalo sahabat-sahabatnya yang aktifis organisasi yang tadi dibicarakan bertemu dengan si Bapak….pasti lain ceritanya….tapi bagi Si Faqir banyak pelajaran yang diambil dari perbincangan tadi…karena makna dan pengetahuan bisa muncul dari mana saja….bahkan dari orang yang berbeda keyakinan dari kita…tergantung kita apakah berdiskusi dalam perbedaan atau berdebat dalam perbedaan…

bagi si Faqir antara berdiskusi dan berdebat itu berbeda…..dan si faqir lebih memilih untuk diskusi

si faqir melemparkan pandangannya ke langit yang sedang cerah melalui jendela Bis

(avatarwijaya.bandung.07.03.20.11.11.24)

Tentang laboratoriumpencerahan

I'm a student......
Pos ini dipublikasikan di Catatan Harian, Kajian. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s