Agama vs Facebook (catatan 21.03.20.11.19.20)

Saya sering mendapati status-status di Facebook berisi doa….seperti “Ya Tuhan izinkan aku bla…bla…bla…bla” atau “Ya Allah berikan aku bla…bla…bla…bla”

Setiap membaca status-status doa tersebut saya selalu berpikir……apakah doa tersebut memang ditujukan kepada Tuhan ? atau sebenarnya ditujukan kepada Facebooker lainnya ?  apakah doa itu serius ? atau hanya main-main ?

Salah satu teman facebook saya menjawab “berdoa khan bisa dimana saja dan kapan saja…termasuk di facebook”….masuk akal…masuk akal….jawabannya….tapi kalau kita benar-benar ingin serius berdoa…kita ingin doa kita diijabah oleh Tuhan…bukankah kita akan mengikuti petunjuk Tuhan dan NabiNya bagaimana adab berdoa…sehingga kita benar-benar mempersiapkan diri dan benar-benar berdoa….

bahkan Tuhan dan NabiNya mengklasifikasi waktu-waktu tertentu…hari-hari tertentu…bulan tertentu…tempat-tempat tertentu…yang tepat untuk berdoa….bahkan merinci bagaimana prosesi berdoa itu….

Tapi mungkin karena dahulu belum ada facebook…jadi belum ada petunjuk “adab berdoa lewat facebook”….saya jadi berpikir….tidak akan lama lagi akan ada fatwa atau buku terbit judulnya ‘ADAB BERDOA MELALUI FACEBOOK”….mungkin isinya : sebelum berdoa harus membersihkan diri…lalu duduk didepan komputer/laptop menghadap kiblat….memulai menekan tuts dengan tangan kanan..dst…🙂

kembali ke soal apakah doa yang ditulis di facebook  itu ditujukan kepada Tuhan atau kepada facebooker yang lain….justru berpikir jangan-jangan doa itu tidak ditujukan kepada Tuhan…tapi kepada sesama manusia…agar mereka tahu bagaimana keadaan kita…dan kita tidak peduli apa yang terjadi setelah doa itu ditulis difacebook….kita hanya peduli bahwa doa itu akan dibaca oleh teman-teman facebook kita….

Jadi jangan-jangan kita tidak butuh agama….yang kita butuh adalah….”FACEBOOK !!!!!!”….

Jangan-jangan kita tidak butuh Tuhan….sebab doa-doa kita tidak lagi ditujukan kepadaNya…tetapi kepada sesama facebooker….

saya jadi ingat om Durkheim yang pernah bilang sebenarnya agama atau Tuhan adalah wujud dari masyarakat itu sendiri…jadi apa yang masyarakat sakralkan selama ini…adalah diri mereka sendiri yaitu eksistensi masyarakat itu sendiri….sehingga kita sebenarnya butuh masyarakat itu sendiri….bukan yang lain

saya juga jadi ingat om Feurbach yang pernah bilang bahwa Tuhan itu proyeksi dari manusia itu sendiri…ketika mereka mendapati diri mereka lemah…maka mereka menghayalkan satu sosok yang sempurna segala-galanya….yang akan melindungi diri kita…..jadi kita ketika kita butuh Tuhan…kita sebenarnya butuh diri kita sendiri yang sempurna dan kuat…kita rindu menjadi superman…batman…spiderman…dan teman-temannya yang lain…agar bisa mengatasi kesulitan hidup

wah parah….jangan-jangan status-status yang berisi doa-doa…adalah manifestasi alam bawah sadar kita yang sebenarnya tidak lagi butuh Tuhan….tapi lebih butuh sesama…sesama facebooker……bukankah prilaku kita sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh alam bawah sadar kita ? kata om Freud

Kita butuh berkomunikasi dengan sesuatu yang lain…entah itu Tuhan…entah manusia..entah itu binatang…entah itu sosok didunia maya yang abstrak…entah itu tumbuhan….bahkan pernah saya menemukan teman saya yang masih waras…tapi berkomunikasi dengan tiang tembok….

Kita butuh mengeluh…..kita butuh sesuatu yang lain diluar diri kita mengetahui keadaan kita…..kita merasa eksis ketika ada sesuatu yang lain yang mengetahui kita……itu mungkin kiranya sehingga para filosof zaman dahulu kala….dahulu skaliiiiiii….bilang bahwa manusia adalah makhluk yang tidak bisa hidup sendiri….dia membutuhkan sesuatu yang lain…untuk menegaskan dirinya….

Kalo trio kwek-kwek Yunani kuno (Socrates/plato/aristoteles)….bilang kita butuh manusia lain…sehingga kita disebut binatang berkelompok…

Kalo kaum agamawan…bilang kita butuh Tuhan….sehingga kita disebut binatang yang bertuhan

Kalo kaum marxian…bilang kita butuh pekerjaan…sebab hasil pekerjaan adalah wujud eksistensi kita….sehingga kita disebut binatang yang bekerja…

Kalo kaum idealisme….bilang kita butuh akal/ide…sebab dengan akal/ide manusia bisa menegaskan eksistensi kita…sehingga kita disebut binatang yang berakal…

kalo kaum materialisme…bilang kita butuh materi…sebab dengan kepemilikan materi menegaskan siapa kita…sehingga kita disebut binatang pengumpul materi…

tapi sekarang….kita butuh FACEBOOK…sebab dengan facebook…kita menegaskan eksistensi kita….sehingga saya setuju manusia sekarang disebut dengan HOMO FACEBOOKERIUS…..binatang yang lahir….bukan zaman batu…bukan zaman perunggu..bukan zaman besi….tapi zaman facebook…maka menjadilah kita binatang berfacebook….

jangan-jangan para bayi yang masih didalam perut…juga sudah saling mengirim status antar mereka…tapi ini perlu penelitian lebih lanjut oleh para ahli bayi….

Dengan Facebook…kita bisa melakukan apa saja….berdoa…mengeluh…cari pekerjaan…cari uang…cari jodoh….menyusun idiologi…menyebar pemahaman…menculik….pacaran….merampok…berderma…ceramah..khotbah….bahkan bunuh diri…

Facebook menjadi semacam agama baru…dengan ritual wajibnya menulis status……

ck..ck..ck..ck..

(setelah menulis catatan ini…saya mencoba melihat status-status yang pernah saya tulis…beberapa hari yang lalu…beberapa bulan yang lalu…beberapa tahun yang lalu…dan ternyata….saya menemukan satu atau dua status yang saya tulis berisi doa…alamaaaaaaak…ternyata saya…$^&(*&*^&$#^&())*&^%$@!@#$%^& 🙂

lalu buru-buru saya menjawab….”ah..itu dulu atuh…sekarang mah..tidak lagi”………(dasar tukang apologi)

🙂

(Nanang Wijaya.bandung.21.03.20.11.19.20)

Tentang laboratoriumpencerahan

I'm a student......
Pos ini dipublikasikan di Catatan Harian, Kajian. Tandai permalink.

3 Balasan ke Agama vs Facebook (catatan 21.03.20.11.19.20)

  1. leo machox berkata:

    ..jadi bagaimana baiknya?

  2. albi berkata:

    Itulah jahilnya

  3. pencari kebenaran berkata:

    Hubungan agama dengan ilmu

    Sebelum kita berbicara secara panjang lebar seputar hubungan antara agama dengan ilmu dengan segala problematika yang bersifat kompleks yang ada didalamnya maka untuk mempermudah mengurai benang kusut yang terjadi seputar problematika hubungan antara agama dengan ilmu maka kita harus mengenal terlebih dahulu dua definisi pengertian ‘ilmu’ yang jauh berbeda satu sama lain,yaitu definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan dan versi sudut pandang manusia yang lahir melalui kacamata sudut pandang materialist.
    Pertama adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang materialistik yang kita kenal sebagai ‘saintisme’ yang membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’,(sehingga bila mengikuti definisi saintisme maka otomatis segala suatu yang bersifat abstrak – gaib yang berada diluar wilayah pengalaman dunia indera menjadi tidak bisa dimasukan sebagai wilayah ilmu).faham ini berpandangan atau beranggapan bahwa ilmu adalah ‘ciptaan’ manusia sehingga batas dan wilayah jelajahnya harus dibingkai atau ditentukan oleh manusia.
    Kedua adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan yang mendeskripsikan ‘ilmu’ sebagai suatu yang harus bisa mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit sehingga dua dimensi yang berbeda itu bisa difahami secara menyatu padu sebagai sebuah kesatuan system.pandangan Ilahiah ini menyatakan bahwa ilmu adalah suatu yang berasal dari Tuhan sehingga batas dan wilayah jelajahnya ditentukan oleh Tuhan dan tidak bisa dibatasi oleh manusia artinya dalam persoalan ilmu manusia harus mengikuti pandangan Tuhan.
    Bila kita merunut asal muasal perbedaan yang tajam antara konsep ilmu versi saintisme dengan konsep ilmu versi Tuhan sebenarnya mudah : kekeliruan konsep ‘ilmu’ versi saintisme sebenarnya berawal dari pemahaman yang salah atau yang ‘bermata satu’ terhadap realitas,menurut sudut pandang materialist ‘realitas’ adalah segala suatu yang bisa ditangkap oleh pengalaman dunia indera,sedang versi Tuhan : ‘realitas’ adalah segala suatu yang diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi ‘ada’,dimana seluruh realitas yang tercipta itu terdiri dari dua dimensi : yang abstrak dan yang konkrit,analoginya sama dengan realitas manusia yang terdiri dari jiwa dan raga atau realitas komputer yang terdiri dari software dan hard ware.
    Berangkat dari pemahaman terhadap realitas yang bersifat materialistik seperti itulah kaum materialist membuat definisi konsep ilmu sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’ dan metodologi ilmu dibatasi sebatas sesuatu yang bisa dibuktikan secara empirik.ini bertentangan dengan konsep dan metodologi ilmu versi Tuhan,karena realitas terdiri dari dua dimensi antara yang konkrit dan yang abstrak maka dalam pandangan Tuhan (yang menjadi konsep agama) konsep ilmu tidak bisa dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia indera dan metodologinya pun tidak bisa dibatasi oleh keharusan untuk selalu terbukti secara empirik,sebab ada realitas abstrak yang metodologi untuk memahaminya berbeda dengan metodologi untuk memahami ilmu material (sains),dan kedua : manusia bukan saja diberi indera untuk menangkap realitas yang bersifat empirik tapi juga diberi akal dan hati yang memiliki ‘mata’ dan pengertian untuk memahami realitas yang bersifat abstrak.

    Mengapa bisa terjadi sesuatu yang dianggap sebagian manusia sebagai ‘benturan antara agama dengan ilmu’ (?) bila dilihat dengan kacamata Ilahi sebenarnya bukan terjadi benturan antara agama dengan ilmu sebab baik agama maupun ilmu keduanya berasal dari Tuhan yang mustahil berbenturan.benturan itu terjadi karena kesalah fahaman manusia termasuk karena kesalahan manusia dalam membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagaimana yang dibuat oleh saintisme itu,
    Bila kita runut fitnah benturan antara agama dengan ilmu itu terjadi karena berbagai sebab,pertama : manusia membatasi definisi pengertian ‘ilmu’ diseputar wilayah dunia indera,sebaliknya agama tidak membatasi wilayah ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera (karena ilmu harus mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang lahiriah-konkrit) sehingga otomatis ilmu yang di persempit wilayah jelajahnya (sehingga tak boleh menjelajah dunia abstrak) itu kelak akan menimbulkan banyak benturan dengan agama.jadi yang berbenturan itu bukan agama vs ilmu tapi agama versus definisi pengertian ‘ilmu’ yang telah dipersempit wilayah jelajahnya.
    Dan kedua : fitnah benturan ‘agama vs ilmu’ terjadi karena ada banyak ‘benalu’ didunia sains yang mengatasnamakan sains padahal ia cuma teori belaka yang bersifat spekulatif kemudian teori itu dibenturkan dengan agama sehingga orang awam melihatnya seperti ‘benturan agama dengan ilmu’ (padahal itu hanya fitnah).untuk dihadapkan dengan agama sains harus bersih dari teori khayali artinya sains tak boleh diwakili oleh teori yang tidak berdasar kepada fakta seperti teori Darwin,sebab bila saintis membuat teori yang tak sesuai dengan kenyataan otomatis pasti akan berbenturan dengan agama sebab konsep agama berlandaskan kepada realitas yang sesungguhnya (yang telah Tuhan ciptakan sebagaimana adanya).
    Dalam konsep Tuhan ilmu adalah suatu yang memiliki dua kaki yang satu berpijak didunia abstrak dan yang satu berpijak didunia konkrit,dan konsep ilmu seperti itu akan bisa menafsirkan agama.sebaliknya konsep ilmu versi kaum materialistik hanya memiliki satu kaki yang hanya berpijak didunia konkrit yang bisa dialami oleh pengalaman dunia indera sehingga dengan konsep seperti itu otomatis ilmu akan menjadi seperti sulit atau tidak bisa menafsirkan agama.
    Jadi bila ada fihak yang memprovokasi seolah ada ‘benturan antara agama versus ilmu’ maka kita harus analisis terlebih dahulu secara ilmiah jangan menelannya secara membabi buta,apalagi dengan bersikap a priori terhadap agama.kasus Darwin sama sekali bukan benturan antara agama vs ilmu tapi antara teori ‘ilmiah’ yang tidak berdasar fakta vs deskripsi kitab suci,begitu pula kasus Galileo itu bukan benturan agama vs ilmu tapi antara temuan ilmuwan vs penafsiran pendeta terhadap kitab sucinya yang belum tentu tepat,(tak ada ayat kitab suci yang secara astronomis menyatakan bumi sebagai pusat galaksi tata surya dan harus difahami saat itu pendeta melihatnya dari kacamata sudut pandang ‘filosofis’).
    ‘ilmu’ dalam saintisme ibarat kambing yang dikekang oleh tali pada sebuah pohon ia tak bisa jauh melangkah karena dibatasi wilayah jelajahnya harus sebatas wilayah pengalaman dunia indera sehingga ‘yang benar’ secara ilmiah menurut saintisme adalah segala sesuatu yang harus terbukti secara empirik (tertangkap mata secara langsung), dengan prinsip inilah kacamata saintisme menghakimi agama sebagai sesuatu yang ‘tidak berdasar ilmu’.
    Bandingkan ; dalam agama wilayah jelajah ilmu itu luas tidak dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi sebab itu ‘ilmu’ dalam agama bisa merekonstruksikan realitas secara keseluruhan baik yang berasal dari realitas yang abstrak (yang tidak bisa tertangkap mata secara langsung) maupun realitas konkrit (yang bisa tertangkap oleh mata secara langsung),jadi ilmu dalam agama tidak seperti kambing yang dikekang.
    Kemudian bila yang dimaksud ‘ilmu’ oleh kacamata sudut pandang saintisme adalah apa yang mereka sebut sebagai ‘sains’ maka itu adalah pandangan yang keliru,sebab untuk mendefinisikan apa itu ‘sains’ kita harus berangkat dari dasar metodologinya,bila metodologi sains adalah metode empirisme dimana parameter kebenaran ilmiah nya adalah bukti empirik maka kita harus mendefinisikan ‘sains’ sebagai ‘ilmu seputar dunia fisik-materi’ sebab hanya dunia fisik-materi itulah yang bisa dibuktikan secara empirik,sedang definisi pengertian ‘ilmu’ menurut versi Tuhan adalah alat atau jalan atau cara untuk mengelola dan memahami keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit (sehingga kedua alam itu bisa difahami sebagai sebuah kesatuan unit-sistem),dan metodologi ilmu versi Tuhan itu tidak dibatasi oleh keharusan bukti empirik sebab pertama : realitas itu terdiri dari yang abstrak dan yang konkrit sehingga untuk memahami keduanya secara menyatu padu otomatis metodologi ilmu tak bisa dikonsep harus sebatas yang bisa terbukti secara empirik sebab bila demikian maka dunia abstrak menjadi keluar dari konstruksi ilmu,dan kedua : secara alami manusia sudah diberi akal dan hati yang memiliki ‘mata’ untuk menangkap dan memahami realitas atau hal hal yang bersifat abstrak.bila mata indera adalah alat untuk menangkap realitas dunia lahiriah-material,maka akal adalah alat untuk menangkap konstruksi dunia abstrak sedang hati menangkap essensinya.
    Jadi kesimpulannya bila dilihat dari kacamata Tuhan maka apa yang dimaksud ‘sains’ sebenarnya adalah salah satu cabang ilmu dan bukan ilmu dalam pengertian yang bersifat menyeluruh,tapi kacamata sudut pandang saintisme mengklaim bahwa (satu satunya) definisi pengertian ‘ilmu’ adalah sebagaimana konsep yang telah mereka buat dengan metodologi yang telah mereka tetapkan sebagaimana telah tertera dalam buku buku filsafat ilmu.kaum materialist tidak mau menerima bila konsep ‘ilmu’ dikaitkan dengan realitas dunia abstrak sebab saintisme berangkat dari kacamata sudut pandang materialistik ‘bermata satu’.yang pasti bila kita menerima definisi konsep ‘ilmu’ versi barat (dengan metodologi yang harus terbukti secara empirik) maka agama seperti ‘terpaksa’ harus difahami sebagai ‘ajaran moral’ bukan kebenaran berasas ilmu (sebagaimana pemahaman filsafat materialist terhadap agama).padahal menurut konsep Tuhan agama adalah kebenaran berdasar ilmu,(hanya ‘ilmu’ yang dimaksud adalah konsep ilmu yang bersifat universalistik yang hanya bisa difahami oleh manusia yang ‘bermata dua’/bisa melihat kepada realitas dunia abstrak dan dunia konkrit secara berimbang).
    Jadi mari kita analisis masalah (ilmu dan kebenaran ) ini dari dasar dari realitas yang bersifat menyeluruh,sehingga umat manusia tidak terdoktrin oleh ‘kebenaran’ versi sudut pandang materialist yang sebenarnya berpijak pada anggapan dasar bahwa yang real atau ‘realitas’ adalah hanya segala suatu yang bisa tertangkap dunia indera (dan secara metodologis bisa dibuktikan secara empirik),dan terlalu picik untuk bersandar pada anggapan demikian, mengingat hanya sebagian kecil saja realitas yang bisa ditangkap oleh dunia pengalaman indera manusia,sehingga wajar bila melalui agama Tuhan memberitahukan kepada manusia realitas yang dunia panca indera manusia tidak bisa menangkapnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s