Mall,Supermarket, Hypermarket, Minimarket vs Pasar Tradisional ; sebuah pertarungan yang tidak seimbang (Catatan 20.03.20.11.09)

Saya benar-benar terkejut membaca perkembangan Supermarket 50 % pertahun, Hypermarket 70% pertahun dan yang lebih fantastis adalah Minimarket berkembang 254,8% pertahun….sementara pasar tradisional menghilang  8% pertahun….dan Indonesia ternyata mendapat gelar Negeri Seribu Mall oleh dunia…..(sumber : Mal Surga Tanpa Tuhan Ruang Tanpa Waktu;Omar Ishananto)

apa artinya ?

mungkin orang akan menjawab “artinya kita tidak lagi belanja di tempat yang becek…bau…kotor dan semerawut….sebab tempat yang begitu telah digantikan oleh tempat yang bersih…dengan suhu udara bisa diatur….terdengar alunan musik….dengan aroma udara yang selalu wangi….bukankah itu lebih baik ?

Tapi pikiranku melayang…..akan kemana nenek-nenek penjual sayur yang rela duduk berjam-jam menunggui jualannya agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga

akan kemana kakek-kakek yang menjual buah…karena berharap ia bisa membelikan cucunya boneka walaupun yang termurah

akan kemana ibu-ibu penjual kue-kue hasil buatan sendiri….yang rela meninggalkan anak-anaknya dirumah….yang berharap bisa membeli beras untuk menghindari keluarga kelaparan atau kurang gizi…walaupun harga beras semakin hari semakin naik padahal negeri ini adalah negeri petani

akan kemana penjual-penjual lainnya….yang sejak pagi buta telah berjibaku dengan jualannya…agar bisa membahagiakan keluarganya….sebab negara ini tidak memberikan jaminan kebahagiaan…

Ini adalah pertarungan yang tidak seimbangan….pemodal besar + kebijakan penguasa + Polisi Pamong  berhadapan dengan sisa-sisa semangat para penjual kecil….hasilnya adalah pengusiran…penggusuran…dan matinya pasar-pasar tradisional.

Penguasa negeri ini….bukannya memberikan mereka kesempatan untuk mengembangkan usaha….tapi justru memberikan kuasa kepada para pemodal besar menggusur mereka….

Penguasa negeri ini…bukannya memihak kepada rakyatnya….malah berpura-pura dengan mengeluarkan kebijakan untuk rakyat miskin dengan segala persyaratan yang sulit dan alur birokrasi pengurus yang begitu panjang dan melelahkan….akhirnya program-program itu tetap jatuh kepada para pemodal besar.

Penguasa negeri ini….bukannya melindungi penjual-penjual kecil yang terpaksa jualan di pinggir jalan…tanpa peduli terik matahari dan dinginnya hujan….malah menggusur mereka…mempersalahkan mereka atas rusaknya keindahan kota…tanpa peduli bahwa di rumah ada manusia-manusia yang terancam kelaparan….

Penguasa negeri ini…bukannya mencintai rakyatnya….justru menjauhi para penjual-penjual di pasar tradisional…karena bau keringat mereka merusak penciuman para pejabat….teriakan mereka untuk menjajakan barang dagangannya memekakkan telinga para pejabat….tangan kasar mereka melukai kulit lembut para istri pejabat…

Penguasa negeri ini…..demi kenikmatan berbelanja para keluarga mereka….mereka tega menghapus pasar-pasar tradisional dari peta kota…padahal pasar tradisional adalah tumpuan hidup para rakyat kecil….pasar tradisional adalah jantung pendapatan para penjual kecil…yang jika denyutnya mati karena Mall…Supermarket…Hypermarket atau minimarket…..maka ancaman kelaparan dan gizi buruk sudah didepan pintu….

sebuah pertarungan yang tidak seimbangan……

Masih adakah nurani para pejabat negeri ini ?

 

(Nanang wijaya.bandung.20.03.20.11.09.06)

 

Tentang laboratoriumpencerahan

I'm a student......
Pos ini dipublikasikan di Catatan Harian, Kajian. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s