KARL MARX

A.      Kehidupan dan Karya

Karl Marx lahir di Trier, Rhinenland, Prusia pada tahun 1818 dan meninggal di London 1883 dan wafat pada tahun 1883. Selama hidupnya Marx telah melahirkan beberapa karya, sebagai berikut :

  1. Philosophical and Economic Manuscript (1844)
  2. German Ideology (1846)
  3. The Poverty of Philosophy (1847)
  4. The Communist Manifesto (1848)
  5. The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte (1852)
  6. Grundise  (Outline of a Critique Of Political Economy) (1857)
  7. Preface to a Contribution to The Critique of Political Economy (1857)
  8. Theories of Surplus Value (1862 – 1863)
  9. Capital, vol 1 (1863 – 1867)
  10. Critique of The Gotha Programme (1875)

B.       Pengaruh Pemikiran Hegel dan Feurbach

Pemikiran Filsafat Marx berakar dari pemikiran Hegel dan Feurbach, selain kedua tokoh tersebut, Marx juga mendalami pemikiran Adam Smith dan David Ricardo dalam membangun teorinya.

Dua konsep dari Hegel yang sangat berpengaruh pada pemikiran Marx, yakni Dialektika dan Idealisme Hegel. Dialektika adalah cara berpikir dan citra tentang dunia. Sebagai cara berpikir, dialektika menekankan arti penting dari proses, hubungan, dinamika, konflik dan kontradiksi. Disisi lain, dialektika adalah pandangan bahwa dunia bukan terususun dari struktur yang statis, tetapi terdiri dari proses, hubungan, dinamika, konflik dan kontradiksi. Walaupun gagasan dari hegel ini digunakan oleh marx, akan tetapi marx tidak menerima begitu saja, akan tetapi melakukan kritik bahkan beberapa perubahan. Hegel cenderung menerapkan dialektika hanya pada dunia gagasan, sedangkan marx merasa bahwa dialektika dapat diterapkan pada aspek kehidupan yang bersifat material seperti ada aspek ekonomi.

Dalam konsep idealisme Hegel, lebih ditekankan pentingnya pikiran dan produk mental ketimbang kehidupan material. Idealis tak hanya menekankan pada proses mental tetapi juga pada gagasan yang dihasilkan oleh proses mental tersebut.

Sementara Feurbach juga mengkritik pemikiran Hegel yang lebih menekankan kesadaran dan semangat masyarakat. Feurbach mengajukan konsep materialisme untuk mengkritik pemikiran idealis dari Hegel. Menurut Feurbach kita tidak perlu memusatkan perhatian pada gagasan akan tetapi pada realitas metarial kehidupan manusia dan Feurbach juga melakukan kritik terhadap agama yang kemudian mempengaruhi Marx dalam mengembangkan pemikirannya pada Materialisem Historis dan Kritik Marx terhadap Agama.

C.      Perkembangan Pemikiran Marx

Semua ahli sepakat bahwa pemikiran Marx mengalami perkembangan. Perkembangan pemikiran Marx dapat dibagi menjadi dua fase yakni Marx Muda dan Marx Tua.  Pada fase pertama yakni Marx Muda, Marx lebih filosofis dan terpengaruh oleh filsafat Hegel dan bersifat Humanis, dimana Marx mengidentifikasi telah terjadi penindasan pada manusia. Marx pada fase ini berusaha membebaskan manusia dari penindasan sistem politik reaksioner.

Dalam upaya ini, Marx menemukan keterasingan manusia dari dirinya sendiri (Konsep Alienasi) dimana Marx berusaha mengungkapkan sumber keterasingan tersebut. Marx menemukan bahwa keterasingan paling dasar berlangsung dalam proses pekerjaan manusia. Menurut Marx, pekerjaan adalah kegiatan dimana manusia bisa menemukan jatidirnya, akan tetapi sistem hak milik pribadi merubah makna pekerjaan menjadi sarana eksploitasi. Manusia tidak lagi menemukan jatidirinya akan tetatpi justru terasing dengan pekerjaannya yang sama dengan mengalami keterasingan pada dirinya sendiri.

Jadi menurut Marx, keterasingan yang terjadi disebabkan oleh kepemilikan pribadi, sebab kepemilikan pribadi membagi masyarakat menjadi kelas para pemiliki yang berkuasa dan para pekerja yang tereksploitasi. Manusia hanya bisa bebas dari eksploitasi dan keterasingannya jika kepemilikan pribadi dihapuskan.

Kemudian pada fase berikutnya yang dikenal dengan fase Marx Tua, Marx lebih memusatkan perhatiannya pada syarat-syarat penghapusan kepemilikan pribadi yang dilakukannya dalam kerangka ilmiah. Para ahli menyebutkan perubahan ini dari murni filosofis berubahn ke sosiologis dan ekonomis yang dilakukan dalam kerangka ilmiah. Marx sendiri menyebut pemikirannya adalah sosialisme ilmiah, dimana Marx menyusun konsep Materialisme Historis dan Dialektika Historis (yang sangat dipengaruhi oleh Hegel dan Feurbach).

Pada fase ini, Marx mengungkapkan bahwa faktor yang menentukan sejarah bukanlah politik atau idiologi melainkan ekonomi. Perkembangan dalam cara produksi yang mempengaruhi struktur dan sistem sosial didalam masyarakat. Dan untuk mematangkan konsepnya, Marx lebih memfokuskan kajiannya pada perkembangan kapitalisme, dimana Marx menemukan dan mengungkapkan kontradiksi internal pada sistem ekonomi kapitalis akan menghancurkan dirinya sendiri dan akan melahirkan revolusi kelas pekerja yang menghapus sistem kepemilikan pribadi dan mewujudkan masyarakat sosialis tanpa kelas.

D.      Beberapa Konsep Dasar Marx
1.     

Menurut Marx, pekerjaan adalah tindakan manusia paling dasar, dalam pekerjaan manusia membuat dirinya menjadi nyata. Maka keterasingan dalam pekerjaan adalah dasar dari segala keterasingan. Mengapa pekerjaan menjadi tindakan manusia paling dasar ? Marx menjawab bahwa pekerjaan adalah

a)        Kegiatan khas manusia dimana bintang tidak melakukannya. Manusia berusaha memenuhi, berbeda dengan binatang yang langsung menerima dari alam akan tetapi manusia manusia memiliki kekhasan yakni mengubah dan mengerjakan alam untuk memenuhi kebutuhannya. Binatang bekerja dipengaruhi oleh naluri, sementara manusia bebas, sadar, terbuka dengan nilai-nilai lain (estetika) dan universal.

b)        Pekerjaan sebagai Objektivikasi manusia, bekerja menurut Marx berarti bahwa manusia mengambil bentuk alami dari objek alami dan memberikan bentuknya sendiri,  manusia mengobjektivikasikan dirinya ke dalam alam melalui pekerjaannya, manusia dapat melihat hasil pekerjaannya dan puas atas hasil pekerjaannya tersebut. Contoh seorang pelukis atau pemahat yang berkerja melukis atau memahat sebuah patung. Makna pekerjaan tercermin pada rasa puas dan bangga atas hasil pekerjaannya yang ia sendiri bebas mengekspresikannya.

c)        Pekerjaan dan sifat sosial manusia.  Menurut Marx, dengan pekerjaannya, manusia menunjukan diri sebagai makhluk sosial. Dalam pekerjaannya, manusia membutuhkan orang lainm baik hasil pekerjaan orang lain dalam membantu pekerjaannya ataupun hasil pekerjaannya akan membantu pekerjaan orang lain. Dari sini proses saling menghargai terbangun yang pada akhirnya pekerjaan menjadi jembatan antar manusia.

Kemudian Marx mengungkapkan keterasingan manusia dalam pekerjaannya. Pekerjaan adalah realisasi diri manusia, maka sudah seharusnya manusia gembira, puas dan dihargai atas pekerjaanya tersebut. Akan tetapi pada sistem ekonomi kapitalis, manusia justru tidak bekerja bebas akan tetapi terpaksa untuk bisa bertahan hidup. Manusia tidak bisa lagi memilih pekerjaan mana yang akan dilaksanakan sesuai dengan bakatnya akan tetapi manusia terpaksa melakukan pekerjaan apapun untuk menjamin kelangsungan hidupnya, termasuk bekerja pada pekerjaan yang beresiko tinggi. Akibatnya manusia :

a)      Terasing dari dirinya sendiri.

  • Terasing dari hasil produksinya, sebab hasil produksinya adalah milik perusahan atau pabrik dimana ia bekerja
  • Terasing dari makna pekerjaannya, manusia tidak bisa lagi mengungkapkan jatidirinya lewat pekerjaannya.
  • Terasing dalam pekerjaannya, manusia tidak bisa lagi memilih pekerjaan yang dilakukan. Akan tetapi terpaksa melakukan pekerjaan tertentu, walaupun mungkin pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan dirinya.

b)      Terasing dari orang lain. Dalam sistem kapitalis, Marx melihat hubungan yang dibangun adalah hubungan persaingan, dimana pemilik pabrik bersaing dengan pemilik pabrik yang lain sementara pekerja bersaingan dengan pekerja yang lain dalam mendapatkan pekerjaan. Sementara waktu untuk membangun kebersamaan dengan orang lain menjadi sempit bahkan tidak ada sebab waktu tersita dalam proses produksi demi keuntungan.

2.      Teori Kelas

Kelas sosial didefenisikan sebagai golongan sosial dalam sebuah tatanan masyarakat yang ditentukan posisi tertentu dalam proses produksi. Menurut Marx pelaku perubahan bukanlah terletak pada individu-individu tertentu akan tetapi kelas-kelas sosial. Maka sejarah bergerak dan berubah ditentukan oleh kelas-kelas yang ada dalam masyarakat.

Setiap masyarakat terdapat dua kelas sosial yakni kelas-kelas yang berkuasa dan kelas-kelas yang dikuasai, kemudian oleh Marx disebut dengan kelas atas dan kelas bawah. Kelas-kelas ini terbentuk akibat dari kepemilikan pribadi.

Kelas atas atau biasa juga disebut dengan kelas majikan/borjuis adalah para pemilik sumber-sumber produksi, alat-alat produksi, pabrik, mesin dan tanah. Sementara kelas bawah atau biasa disebut buruh/proletiariat adalah mereka yang tidak memiliki tempat dan sarana pekerjaan akhirnya hanya bisa menjual tenaga mereka kepada kelas pemilik. Sehingga para pekerja tidak lagi memiliki tenaga mereka akan tetapi sudah dimiliki oleh para majikan, inilah sumber keterasingan dalam pekerjaan.

Dalam sistem produksi kapialis, sebenarnya kedua kelas ini saling membutuhkan. Sebab para majikan tidak bisa menjalankan usahnya jika tidak memiliki pekerja, sementara pekerja tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya jika tidak memiliki pekerjaan yang ditawarkan oleh para majikan. Akan tetapi hubungan ini tidak seimbangan, sebab keteragantungan kelas pekerja lebih besar, sebab jumlah para pekerja sangat banyak, sehingga para majikan bisa dengan mudah memberhentikan dan mengganti para pekerja. Yang tentunya ini bisa mengancam hidup para pekerja. Sehingga dalam posisi ini, kelas pekerja menjadi lemah dan menerima apa saja syarat yang diajukan oleh pada majikan, termasuk rendahnya upah kerja.

Hubungan antara kelas atas dengan kelas bawah adalah hubungan kekuasaan, dimana kelas atas menguasai hidup kelas bawah dan kelas bawah bersedia melakukan apa saja demi mempertahakan pekerjaan mereka. Sehingga Marx menyebut hubungan ini adalah hubungan yang menindas, dimana kelas berusaha untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya dari hasil pekerjaan kelas bawah.

3.      Kontradiksi internal dalam sistem kapitalis

Marx berpendapat bahwa struktur sistem kapitalis akan menghasilkan konflik, masalah dan ketegangan. Marx menyebutnya dengan ‘kontradiksi internal’, yang hanya bisa diselesaikan dengan membongkar sistem dan merekonstruksi dengan sistem yang baru.

Sebagai contoh, kaum kapitalis sudah ‘terstruktur’ oleh sistem kapitalisme akan selalu memangkas biaya produksi mereka sendiri untuk mendapatkan keuntungan. Persaingan/kompetisi akan memaksa hal ini. Upah pekerja akan terus diturunkan, sebab jika tidak mereka akan bangkrut. Selain itu, agar hasil produksi laku, maka harga hasil produksi juga harus diturunkan. Hal tersebut mengakibatkan keuntungan akan turun dan menyebabkan kebangkrutan. Maka beberapa usaha akan tutup sebab mengalami krisis ekonomi.

Sistem kapitalis, menghasilkan ketegangan dan konflik yang mengancam akan meruntuhkan perusahaan; konflik dengan upah pekerja yang terus diturunkan; ketatnya persaingan antara kapitalis, dan keputusasaan yang ditimbulkan oleh siklus perdagangan. Lebih jauh, Marx berpendapat, kontradiski tersebut akan meningkatkan setelah terjadi kondisi, yakni

a)    Masyarakat semakin terpola kepada dua kelas besar, yakni kelas berkuasa dan menindas sementara kelas yang lain adalah kelas pekerja dan yang ditindas.

b)   Persaingan antar pemiliki pabrik menyebabkan beberapa pabrik akan tutup dan bangkrut sehingga terdapat hanya beberapa pabrik yang bisa bertahan. Pabrik yang bertahan ini semakin menguasai dan semakin menindas dengan memilih pekerja yang akan digunakannya dan akan memberhentikan pekerja yang dianggap tidak produktif

c)    Perusahaan yang bertahan akan memonopoli produksi, akibatnya untuk mendapatkan keuntungan maka perusahan dengan seenaknya mempermainkan harga produk dan menurunkan upah kerja

d)   Akibat dari bangkrutnya perusahaan/pabrik dan pemberhentian dari pekerjaan, kelas pekerja akan semakin banyak kehilangan pekerjaannya. Artinya orang-orang miskin yang tidak dapat memenuhi kebutuhannya akan semakin banyak.

Keempat kondisi ini akan terus berlangsung pada sistem ekonomi kapitalis dan menurut Marx akan mengantarkan sistem kapitalis menuju kehancurannya akibat dari kontradiksi tersebut yang memicu revolusi dari kaum tertindas.

4.      Revolusi

Kontradiksi internal pada sistem ekonomi kapitalis menyebabkan pemerataan semua bentuk kepemilikan menjadi pemilikkan modal disatu pihak dan pemerataan segala bentuk pekerjaan menjadi pekerjaan upahan dipihak yang lain, sehingga hanya tinggal dua kelas yang berhadapan, yaitu kaum kapitalis (borjuis) dan kaum pekerja (proletar)

Akan tetapi hubungan antara keduanya tidak seimbang, dimana kaum borjuis sedikit jumlah akibat persaingan antara mereka tapi menindas sementara kaum pekerja (proletar) semakin banyak. Akibat dari kehilangan pekerjaan atau kecilnya upah, kelas pekerja (proletar) semakin tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Kaum pekerja (proletar) diperhadapkan pada pilihan untuk memberontak terhadap sistem yang ada atau mati. Ini yang disebut oleh Marx dengan kesadaran kelas.

Para kaum pekerja (proletar) semakin sadar bahwa hidup mereka semakin tertindas dan kondisi ini bisa diubah dengan merebut sumber-sumber produksi dan alat-alat produksi. Kesadaran kelas ini akan mengantarkan persatuan seluruh kaum pekerja (proletar) dalam perjuangan bersama yakni melakukan revolusi terhadap sistem ekonomi kapitalis dengan merebut sumber-sumber dan alat-alat produksi.

Revolusi yang dilakukan oleh para pekerja permulaannya akan bersifat politis yakni merebut kekuasaan negara dan mendirikan “diktator proletariat”. Diktator proletariat akan menggunakan kekuasaannya untuk menanggalkan semua kekuasaan kelas atas (bourjuis) terhadap sumber dan alat produksi dan mencegah segala kemungkinan upaya kaum borjuis untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Dalam revolusi ini seluruh kepemilikan diambil dan diserahkan kepada negara yang dikelolah oleh diktator proletariat. Jika perbedaan kepemilikan pribadi sudah tidak ada dan seluruh kepemilikan telah berada ditangan kaum pekerja, maka diktator proletariat hilang dengan sendirinya. Ini yang oleh Marx disebut dengan masyarakat Komunis.

5.      Materialisme Sejarah

Marx mengklaim bahwa pandangan dan pemikirannya disandarkan pada upaya ilmiah sehingga Marx menyebutnya dengan Sosialisme Ilmiah. Jadi proses yang terjadi pada sistem kapitalis, baik itu keterasingan sampai kepada revolusi proletariat adalah suatu keharusan atau keniscayaan yang akan terjadi sebab sesuai dengan hukum yang terungkap secara objektif dan ilmiah, Marx menyebut hal ini dengan hukum objektif perkembangan sejarah.

Hukum tersebut diawali dengan hukum dasar perkembangan masyarakat adalah bahwa produksi kebutuhan-kebutuhan material manusia menentukan bentuk masyarakat da perkembangannya.

Menurut Marx, bukan kesadaran manusia yang menentukan kesadaran mereka, akan tetapi keadaan sosial merekalah yang menentukan kesadaran mereka. Bukan apa yang dipikirkan tentang dirinya melainkan keadaan masyarakat yang nyata.

Keadaan sosial manusia adalah produksinya, pekerjaannya, manusia ditentukan oleh produksi  mereka sendiri, baik apa yang mereka produksikan maupun cara mereka berproduksi. Jadi manusia tergantung pada syarat material produksi mereka.

Cara-cara produksi akan menentukan cara manusia berpikir dan cara produksi akan melahirkan kelas-kelas sosial. Maka bagi Marx, kesadaran, agama, moralitas, kebudayaan bersifat sekunder  karena hanya hasil dari struktur masyarakat dari pola produksinya.

6.      Mode Produksi

Dari teori Materialisme Historis, Marx mengemukakan mode produksi dalam masyarakat. Mode produksi adalah cara-cara berproduksi pada masyarakat yang mempengaruhi kehidupan masyarakat tersebut. Mode produksi tersebut adalah mode produksi komunis primitif/kuno dimana ciri menonjol dari mode produksi ini adalah bahwa manusia dimiliki sebagai kekayaan oleh sebagian orang yang lebih berkuasa, produksi ini berbasis perbudakan. Mode produksi feodal, dalam mode  produksi ini kelas dominan adalah tuan tanah yang mengontrol para pekerka pada bidang pertanian, dimana tenaga kerja menyewa tanah dari tuan tanah dan mereka diwajibkan untuk menyerahkan sebagian hasil produksi sebagai biaya sewa kepada tuan tanah.

Mode produksi kapitalis, mode produksi ini berkembang seiring dengan idustrialisasi dimana pabrik-pabrik berdiri, usaha pertanian berubah. Kelas penyewa pada mode produksi feodal berubah menjadi kelas pekerja buruh pada pabrik-pabrik yang kemudian disebut dengan kaum proletar yang tertindas dan nantinya akan melalukan revolusi dan mewujudkan masyarakay komunis. Mode produksi komunis, pada fase ini, kelas menjadi hilang setelah direbut dalam revolusi kaum proletar.

7.      Basis dan bangunan Atas

Materialisme Historis melahirkan kerangka masyarakat yang terbagi kedalam dua bagian besar, yakni Basis dan Bangunan Atas. Basis adalah bidang bidang produksi material dan bangunan atas adalah proses kehidupan sosial, politik dan spritual. Kehidupan bangunan atas ditentukan dan dipengaruhi oleh kehidupan dalam basis.

Basis ditentukan oleh dua faktor, yakni tenaga produksi dan hubungan-hubungan produksi. Tenaga produksi adalah kekuatan yang dipakai oleh masyarakat dalam mengerjakan dan mengubah alam yang didalamya terdapat :

  • Alat-alat kerja
  • Manusia dengan kecakapan kerjanya
  • Pengalaman dalam produksi (teknologi)

Sementara hubungan produksi adalah hubungan kerjasama atau pembagian kerja antara manusia yang terlibat dalam proses produksi seperti hubungan pemilik modal dengan pekerja.

Ciri khas basis adalah pertentangan antara kelas atas (pemiliki modal, majikan, borjuis) dengan kelas bawah (pekerja, buruh, proletar).

Bangunan Atas terdiri atas : tatanan institusional dan tatanan kesadaran kolektif. Tatanan institusional adalah segala macam lembaga yang mengatur kehidupan bersama masyarakat diluar bidang produksi seperti negara, hukum, sistem pendidikan, dll. Sedangkan kesadaran kolektif memuat segala sistem kepercayaan, norma-norma dan nilai-nilai yang memberikan kerangka pengertian, makna dan orientasi spritual. Berdasarkan konsep basis dan bangunan atas, maka agama dan negara adalah tatanan institusional yang dipengaruhi oleh basis. Bahkan Marx mengungkapkan bahwa negara dan agama adalah tanda dari keterasingan manusia yang diakibatkan oleh sistem kapitalis

]Sehingga menurut marx, perubahan yang terjadi pada basis akan berpengaruh pada bangunan atas. Maka jika mengingkan perubahan dalam masyarakat harus merubah pada basis yakni produksi material dan ini hanya bisa dilakukan dengan revolusi

Tentang laboratoriumpencerahan

I'm a student......
Pos ini dipublikasikan di Kajian. Tandai permalink.

Satu Balasan ke KARL MARX

  1. Didik berkata:

    Teori marx saat ini sudah ketinggalan dan bisa disebut tak laku lagi. Kondisinya sudah tidak seperti jamannya dia. Yang dia sebut proletariat, bukan lagi proletariat seperti jamannya. Sekarang para buruh yang disebut proletariat adlah para buruh borjuis dengan segala keinginan materi. perhatikan gaya hidup mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s