Max Weber

 

Max Weber

 

A.      Kehidupan dan Karya

Max Weber lahir di Erfurt, Thuringia, Jerman tahun 1864 dan meninggal di Munich 1920. Selama hidupnya Max Weber menghasilkan beberapa karya :

  1. Methodological Essays (1902)
  2. The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism (1902-1904)
  3. Economy and Society (1910-1914)
  4. Sociology of Religion (1916)

B.       Teori Tindakan Sosial

Max Weber mengungkapkan bahwa dunia sebagaimana kita saksikan terwujud karena tindakan sosial. Manusia melakukan sesuatu karena mereka memutuskan untuk melakukan itu, untuk mencapai apa yang mereka kehendaki. Setelah memilih sasaran, mereka memperhitungkan keadaan, kemudian memilih tindakan.

Bagi Max Weber, struktur sosial adalah produk (hasil) dari tindakan itu, cara hidup adalah produk dari pilihan yang dimotivasi. Memahami realitas sosial yang dihasilkan oleh tindakan itu berarti menjelaskan mengapa manusia menentukan pilihan. Teori sosiologi bukanlah teori mengenai sistem sosial yang memiliki dinamikanya sendiri, melainkan mengenai makna dibalik tindakan individu. Max Weber menyebut metode yang dikembangkannya sebagai verstehen.

Inti dari tindakan sosial adalah tindakan yang penuh arti dari individu yakni tindakan individu sepanjang tindakannya itu mempunyai makna atau arti subyektif bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain.

Max Weber mengemukakan lima ciri pokok  yang menjadi sasaran penelitian sosiologi, yaitu :

  1. Tindakan manusia yang menurut si pelaku mengandung makna yang subyektif dan ini meliputi berbagai tindakan nyata.
  2. Tindakan nyata dan bersifat membatin sepenuhnya dan bersifat subyektif
  3. Tindakan yang meliputi pengaruh positif dari suatu situasi, tindakan yang sengaja diulang dalam bentuk persetujuan secara diam-diam
  4. Tindakan itu diarahkan kepada seseorang atau kepada beberapa individu
  5. Tindakan itu memperhatikan tindakan orang lain dan terarah kepada orang itu.

Selain memusatkan perhatian pada tindakan yang berorientasi tujuan dan motivasi  pelaku, Weber juga yakin bahwa cara terbaik untuk memahami berbagai masyarakat adalah menghargai bentuk-bentuk tipikal tindakan yang menjadi ciri khasnya dengan merekonstruksi makna dibalik kejadian-kejadian sejarah yang menghasilkan struktur-struktur dan bentukan-bentukan sosial.

Menurut Max Weber, kita bisa membandingkan struktur beberapa masyarakat dengan memahami alasan-alasan mengapa warga masyarakat bertindak, kejadian-kejadian historis secara berurutan yang mempengaruhi karakter mereka dan memahami tindakan pada pelakunya yang hidup dimasa kini, akan tetapi walaupun demikian kita tidak bisa menggeneralisasi semua masyarakat atau semua struktur sosial.

 

C.      Tipe-tipe Tindakan

Max Weber mengklasifikasi empat tipe tindakan yang dibedakan dalam konteks motif pelakunya, sebagai berikut :

  1. Tindakan Tradisional (Traditional Action) yakni tindakan sosial murni, tindakan yang didasarkan pada kebiasaa-kebiasaan dalam mengerjakan sesuatu di masa lalu saja.
  2. Tindakan Afektif (Affectual Action) yakni tindakan yang dibuat-buat, dipengaruhi oleh perasaan emosi dan kepura-puraan si pelaku. Tindakan ini sukar dipahami, kurang atau tidak rasional
  3. Tindakan berorientasi tujuan atau penggunaan rasionalitas instrumental (Werktrational Action) yakni tindakan dimana pelaku menilai apakah cara-cara yang dipilihnya itu merupakan yang paling tepat ataukah lebih tepat untuk mencapai tujuannya. Tindakan ini menunjuk kepada tujuan itu sendiri. Tindakan ini rasional, karena pilihan-pilihan terhadap cara-cara kiranya sudah menentukan tujuan yang diinginkan.
  4. Tindakan berorientasi nilai atau penggunaan rasionalitas nilai (Zwerk Rational) yakni tindakan sosial murni, dalam tindakan ini pelaku tidak hanya sekedar menilai cara yang baik untuk mencapai tujuannya tapi juga menentukan nilai dari tujuan itu sendiri.

D.      Tipe-tipe Kekuasaan

Bagi Max Weber, dominasi adalah salah satu unsur yang terpenting dalam tindakan sosial, dalam sebagian besar variasi tindakan sosial, dominasi memainkan peranan besar tanpa kecuali setiap lapangan tindakan sosial sangat dipengaruhi oleh struktur dominasi.

Dari Max Weber diidentifikasi cara-cara memperoleh legitimasi oleh yang berkuasa yakni Tradisional, kharismatik dan Legal Rasional. Sistem otoritas legal rasional hanya dapat berkembang dalam masyarakat barat modern dan hanya dalam sistem otoritas rasional legal itulah birokrasi modern dapat berkembang penuh. Weber melihat birokrasi sebagai contoh klasik dari tindakan rasional (rasionalisasi).

Masyarakat lain di dunia tetap didominasi oleh sistem otoritas tradisional atau kharismatik yang umumnya merintangi perkembangan sistem hukum rasional dan birokrasi modern. Sistem otoritas tradisional berasal dari sistem kepercayaan di zaman kuno, contohnya adalah seorang pemimpin yang berkuasa karena garis keluarga atau sukunya selalu merupakan pemimpin kelompok.

Pemimpin kharismatik mendapatkan otoritasnya dari kemampuan atau ciri-ciri luar biasa atau mungkin dari keyakinan pihak pengikut bahwa pemimpin itu memang mempunyai ciri-ciri seperti itu. Meski dua tipe kekuasaan tersebut mempunyai arti penting dalam sejarah masa lalu, Max Weber yakin bahwa masyarakat akan menuju kepada sistem otoritas legal rasional.

 

E.       Tipe-tipe Ketidaksetaraan (Kelas)

Seperti Marx, Max Weber juga melihat hubungan-hubungan yang tidak setara dalam kehidupan sosial (kelas), akan tetapi Max Weber menolak konsep Marx yang mengatakan bahwa ketidaksetaraan kelas menjadi bagian terpenting. Bagi Max Weber, kelompok status yang mengandung prestis tertentu dan partai-partai yang memiliki pengaruh politik dapat menjadi sumber keuntungan yang signifikan sebagai anggota kelas.

Kelas menurut Max Weber tidak semata-mata berdasarkan kepemilikan sara produktif, tetapi kepemilikan segala macam kesempatan hidup yang dihasilkan oleh kekuatan pasar dalam masyarakat. Oleh sebab itu Max Weber mendefenisikan kelas dalam konteks kapasitas individual untuk meraih ganjaran untuk menjual keahliannya di pasar dalam masyarakat.

 

F.       Agama dan Kapitalisme

Banyak dari karya historis dan komparatif Max Weber terfokus pada pengaruh keyakinan agama terhadap tindakan. Max Weber membangun analisnya tentang faktor-faktor yang mendorong munculnya kapitalisme. Menurut Max Weber, bentuk masyarakat modern merupakan representasi institusional dan rasionalisasi.

Bagi Max Weber moderenitas terbaik dipahami sebagai hasil akhir dari proses rasionalisasi tersebut. Penelitiannya mengenai sejarah diarahkan untuk menjawab pertanyaan mengapa pada masyarakat non barat perkembangan ilmiah, kesenian, politik maupun ekonomi tidak mengikuti jalur rasionalisasi seperti di barat. Max Weber mengungkapkan peranan pemimpin agama dalam mempromosikan berbagai macam ide dan orientasi pada berbagai masyarakay penting.

Max Weber melihat ada keterkaitann antara kehidupan penganut calvinis yang diberi pedoman oleh agama mereka dan jenis prilaku  dan sikap yang diperlukan bagi kapitalisme agar bekerja secara efektif. Weber menjelaskan bagaimana Calvinis didorong untuk memusatkan diri pada pekerjaan duniawi dan pada saat yang sama juga mewujudkan kehiduapan asketis (sederhana, rajin berubadah dan hidup hemat).

Max Weber berpendapat bahwa penekanan pada kreatif dan kerja keras berkombinasi dengan tuntutan agar menjalankan gaya hidup asketis (suatu gaya hidup yang khas bagi agama-agama puritan). Calvinis yakin bahwa mereka tidak akan diberikan ganjaran keselamatan oleh Tuhan kecuali jika mereka sukses dan produktif dalam kehidupan. Oleh karena itu kehidupan harus didedikasikan kepada efesiensi dan rasionalitas untuk memaksimalkan produktivitas mereka.

Disinilah keterkaitannya dengan  kapitalisme, berbeda dengan bentuk ekonomi yang lain. Agar kapitalisme bekerja, maka produktivitas harus tinggi, modal harus diakumulasi, dikonsumsi dengan hemat dan diinvestasikan kembali untuk mengembangkan teknik-teknik produksi yang lebih efesien demi memperoleh keuntungan lebih besar.

Bagi Max Weber, agama telah memainkan peranan kunci dalam pertumbuhan kapitalisme barat, tetapi sebaliknya gagal mengembangkan kapitalisme dimasyarakat lain. Menurut Max Weber bahwa sistem agama rasionallah (Calvinisme) yang memainkan peranan sentral tersebut, sebaliknya pada masyarakat lain, Max Weber menemukan sistem agama yang lebih irrasional, misalnya hinduisme, konfusianisme, tao, dll) merintangi perkembangan sistem ekonomi rasional. Tetapi pada akhirnya agama-agama itu hanya memberikan rintangan sementara, karena sistem ekonomi dan bahkan seluruh struktur sosial masyarakat pada akhirnya akan menjadi rasional.

 

Tentang laboratoriumpencerahan

I'm a student......
Pos ini dipublikasikan di Kajian. Tandai permalink.

4 Balasan ke Max Weber

  1. Ping balik: [Tugas Sosiologi Umum 4 ,Tri Rahayu Irianty] Rasionalitas dan Tindakan Sosial « kuliah tantan

  2. Dian icha berkata:

    Kamsahmnida untuk info nya. Sangat berguna sekali buat saya.

  3. Moh. Nutfa- Sosiologi Untad 2008 berkata:

    ini blog yang saya sukai. punya pak Nanang
    pak tolong artikelnya tambah lg dengan teori2 kritis lainnya seperti Karl Kautsky dll. makasih

  4. nuri afrianti berkata:

    kenapa tindakan sosial menurut max weber sama dengan tindakan ekonomi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s