Kekerasan Atas Nama Agama

Oleh : Nanang Wijaya

Tindakan kekerasan dan brutalisme kepada kemanusiaan atas nama Tuhan dan agama sejatinya adalah bentuk pelecehan atas Tuhan dan agama itu sendiri.

Kita tidak bisa menutup mata bahwa diberbagai belahan bumi sedang berlangsung berbagai kekerasan, Myanmar sedang terjadi pembantaian dan pembersihan etnis Rohingnya, di Palestina sudah berpuluh-puluh tahun telah terjadi penistaan kemanusiaan, di negara-negara Timur Tengah tengah terjadi perang saudara sementara di negara-negara Afrika yang sedang berjuang melawan kemiskinan tengah pula berlangsung konflik yang seakan tiada akhirnya.

Mayoritas konflik dan kekerasan yang terjadi selalu melibatkan agama yang menjadi sumber legitimasi kekerasan dan menjadikan agama sebagai motif dasar permusuhan dan perpecahan. Padahal sejatinya agama adalah sarana membimbing dan membina manusia untuk lebih dekat dengan Maha Pencipta dan menuntun manusia dalam merangkai kehidupan yang tenang, damai dan bahagia.

Hampir semua ahli Sosiologi Agama seperti E. B. Tylor, Betty R. Scharf, Greg Fealy, John Esposito dan Juergensmeyer mengungkapkan bahwa dalam prakteknya dalam kehidupan kita selalu menemukan kenyataan agama menampilkan dua wajah yang berbeda dan bertentang. Satu wajah yang penuh kedamaian, cinta kasih sayang, kekeluargaan, dan ketundukan pada Ilahi sementara wajah yang lain agama menampilkan radikalisme, kekerasan, konflik dan peperangan. Dua wajah yang benar-benar dan selalu bertentangan.

Wajah agama yang menampilkan prilaku radikalisme, kekerasan dan peperangan yang menjadi dasar dan alasan bagi sebagian manusia untuk menolak dan menjadi atheis. Para penolak agama (atheis) terkadang bukan menolak agama karena ajarannya akan tetapi menolak agama karena melihat prilaku-prilaku sebagian kaum beragama yang benar menistakan kemanusiaan yang begitu kejam dan tak berprikemanusiaan dalam setiap konflik dengan alasan agama dan Tuhan.

Ada banyak kesalahan berpikir kaum atheis dalam menyimpulkan dan mengambil sikap penolakkan atas agama akibat dari metode pengamatan dari sisi empiris historis agama. Tentunya kita harus membedakan agama dari sisi normatif (ajaran murni) dan agama dari sisi praksis (tafsir oleh penganut). Selanjutnya dalam memahami agama bersikap over generalization adalah sikap yang dilarang adalah metode ilmiah jika memahami sebuah objek kajian.

Setiap agama tentu terbuka untuk ditafsirkan oleh penganutnya dengan pemahaman dan pengetahuannya masing-masing, hal ini menyebabkan lahirnya beragam praktek-praktek prilaku beragama dalam satu agama. Ajaran agama yang murni (genuine) hanyalah pada Kitab Suci dan penyebar pertama (Nabi) masing-masing agama. Tatkala penganut beragama membaca Kitab Suci dan mencoba memahami maka akan banyak variabel yang aka mempengaruhi penafsiran tersebut. Sementara tak bisa dipungkiri bahwa prilaku akan tergantung pada penafsiran.

Ketika sekelompok penganut agama Budha Myanmar melakukan kekerasan terhadap etnis Rohingya yang muslim, kita tidak boleh terburu-buru mengklaim bahwa kekerasan tersebut adalah ajaran dari agama Budha. Sama halnya yang terjadi dengan agama Islam, abad 21 dikenal sebagai abad bangkitnya etnis dan agama (Hutington : 2005) akan tetapi abad ini pula dikenal dengan abad bangkitnya kaum radikalis Islam yang melakukan berbagai aksi terorisme diberbagai penjuru dunia termasuk di Indonesia. Akan tetapi aksi-aksi terorisme yang dilakukan sekolompok kaum Islam tersebut tidak boleh langsung begitu saja dinisbahkan pada ajaran Islam dan tidak boleh kita beranggapan bahwa semua ummat Islam memiliki pemahaman yang sama.

Pemahaman kekerasan yang dianut sebagian kaum beragama adalah hanyalah salah satu hasil penafsiran pengikut dari ajaran agama murni. Di semua agama selalu ada penafsiran yang radikal dan pro kekerasan dengan berbagai variabel pendorong dan pembentuknya. Akibatnya semua agama di dunia ini akan selalu ada kelompok-kelompok yang radikal dan pro kekerasan yang melakukan berbagai tindakan kekerasan.

Kekerasan atas nama agama tidak boleh dipahami dengan instant dan hanya menggunakan satu pendekatan. Sebab kekerasan atas nama agama selalu lahir dari reaksi-reaksi atas situasi dan kondisi tertentu (John Esposito : 2003). Faktor politik global, ekonomi global dan pada politik lokal sangat mempengaruhi lahirnya konflik-konflik atas nama agama. Sehingga kita sebenarnya menolak setiap kajian atau analisis yang terburu-buru mengkaitkan antara kekerasan dengan agama tertentu dalam setiap konflik.

Sebab tidak jarang agama justru adalah korban yang dijadikan sebagai pemicu konflik demi kepentingan-kepentingan tertentu. Agama hanya menjadi alat untuk melegitimasi kekerasan demi kepentingan politik, ekonomi. Agama menjadi kuda tunggangan demi meraih keinginan dan ambisi tertentu. Sehingga terjadi kesalahpahaman atas agama dan penolakkan atas agama dalam kehidupan.

Kita tentunya menolak setiap kekerasan atas nama Tuhan dan agama. Kita pun menolak setiap upaya untuk menjadikan sebagai alat demi kepentingan tertentu. Untuk itu saatnya kaum beragama menampilkan wajah agama yang sesungguhnya yakni wajah agama yang damai dan penuh cinta kasih.

*Pemerhati Sosial Budaya dan Tinggal di Kota Palu
Tulisan ini dimuat di Harian Mercusuar Palu tanggal 20 Mei 2013 

Iklan

Tentang laboratoriumpencerahan

I'm a student......
Pos ini dipublikasikan di Kajian. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s