Mewaspadai idiologi Takfiri Sebagai Basis Gerakan ISIS

(Dimuat di Harian Mercusuar ; Tanggal 27 Agustus 2014)
Oleh : Nanang Wijaya*

Kalau seandainya anda mendengar kalimat yang diucapkan oleh seseorang, 99% diantaranya menunjukan bahwa yang bersangkutan kafir, masih ada 1% yang memungkinkan dia dinilai beriman maka jangan kafirkan dia. (Al Ghazali)

Bangsa Indonesia kembali resah dengan kehadiran gerakan ISIS (Islamic State of Syiria Iraq) yang merupakan gerakan Islam dari Timur Tengah. ISIS merupakan gerakan sempalan dari gerakan pemberontakan di Suriah (Pemberontakan Free Syirian Army dan Jabbal Nusrah) menjadi momok yang sangat menakutkan di Timur Tengah. Prilaku ISIS yang benar-benar tidak berprikemanusian tidak hanya pada orang dewasa akan tetapi bahkan tidak jarabf bayi dan anak-anakpun mereka melakukan pembunuhan dengan kejam seperti menembak, memenggal kepala dan mengubur hidup-hidup.

Pembunuhan yang dilakukan oleh ISIS tidak lagi mengenal mazhab, agama ataupun etnis, setiap yang berbeda pemahaman dan tidak mau mengikuti pemahaman keagamaan yang mereka yakini akan menjadi musuh dan segera dibunuhi. Berbeda dengan gerakan-gerakani radikal sebelumnya, ISIS memiliki kekuatan persenjataan yang sangat lengkap dan pasukan yang multinasional jika dilihat dari kewarganegaraan, sampai sekarang menjadi pertanyaan besar dari mana senjata-senjata itu didapatkan.

Keterlibatan puluhan orang Indonesia kedalam gerakan ISIS sudah cukup membuat kita waspada, apalagi beberapa waktu yang lalu website resmi ISIS telah menayangkan video ajakan agar generasi muda masyarakat Indonesia mau mengikuti ISIS dengan membaiat pimpinan ISIS, video ini diikuti dengan keikutsertaan sebagian kecil masyarakat Indonesia dengan sengaja mengibarkan bendera ISIS dalam setiap kegiatan, mural bendera ISIS di dinding perkotaan bahkan beberapa tokoh-tokoh yang pada masa lalu terlibat dalam aksi teror di Indonesia secara terang-terangan menyatakan diri telah bersumpah setia dengan ISIS.

Walaupun belum tampil sebagai kekuatan real, keberadaan ISIS di masyarakat patut mendapat kewaspadaan. Bangsa Indonesia sebenarnya sudah memiliki pengalaman yang banyak berkaitan dengan kegiatan dan tindakan teror. Bangsa Indonesia bahkan sempat menjadi sorotan dunia dengan tuduhan sebagai pusat kegiatan terorisme dengan meledaknya Bom bunuh diri di Legian Bali dengan korban sebanyak 202 tewas pada 12 Oktober 2002.

Akan tetapi sebelum bom Bali, pada tahun 1981 telah terjadi pembajakan Pesawat Garuda DC-9 Woyla (Penerbangan 206) yang mengakibatkan 5 orang tewas. Pada tahun 1985, terjadi aksi teror oleh sekelompok gerakan radikal Islam dengan melakukan pemboman Candi Borobudur. Sejak tahun 2000 sampai 2012 Indonesia sering coba dikacaukan gerakan-gerakan terorisme berupa peledakan bom di area publik juga pembunuhan tokoh-tokoh masyarakat yang dilakukan oleh gerakan Jamaah Islamiyah. Sampai sekarang pemerintah terus berusaha mengantisipasi gerakan terorisme dengan langkan deradikalisasi.

Bangsa ini seharusnya sudah berpengalaman dalam mengantisipasi tumbuhnya gerakan fundamentalisme ekstrim. Akan tetapi munculnya ISIS memberikan kepada kita gambaran walaupun sebagian besar masyarakat mulai dewasa merespon gerakan fundamentalis akan tetapi tetap saja ada sebagian kecil masyarakat yang dengan mudah terpengaruh dan bahkan sampai ikut terlibat. Sidney Jones (2003) mengungkapkan bahwa ancaman terorisme da radikalisme di Indonesia itu nyata, meskipun saat ini hanya minoritas Muslim saja yang radikal dan lebih sedikit lagi yang menggunakan kekerasan.
Kelompok-kelompok seperi Al Qaida, Jamaah Islamiyah, ISIS dll akan selalu muncul dan berkembang jikalau idiologi yang menjadi dasar gerakan-gerakan teror tersebut tidak pernah coba untuk diberantas dan dilawan. Selama idiologi tersebut ada dan terus diajarkan kepada masyarakat maka kelompok-kelompok teror akan terus bermunculan dengan nama-nama yang berganti. Idiologi yang menjadi basis gerakan fundamentalisme ekstrim adalah idiologi Takfirisme.

Secara terminologi Takfiri adalah mengkafirkan orang yang berbeda pemahaman dan berbeda sikap. Tindakan pengkafiran ini biasanya disertai dengan pemaksaan kehendak agar orang-orang yang berbeda pemahaman dan sikap mengikuti penganut gerakan takfiri tersebut. Jika upaya pemaksaan tidak dapat dilakukan maka para penganut Takfiri tidak segan-segan melakukan kekerasan sampai kepada pembunuhan yang brutal seperti pemenggalan kepala atau pembunuhan di depan khalayak umum.

Kriteria pertama Takfiri adalah mengedepankan dan menonjolkan perilaku ekstrim. Kekerasan merupakan identitas utama yang disandang oleh setiap Takfiri dan cerminan mereka. Kriteria kedua Takfiri adalah membunuh dan meneror orang-orang tak berdosa. Mereka menganggap sama semua individu di sebuah komunitas dan membantai mereka secara serentak, karena berbeda pemahaman maupun keyakinan akan kebenaran. Penggunaan kekerasan inilah yang menjadi idiologi Takfiri patut diwaspadai.

Tidak salah menjadi fundamentalis dalam menganut ajaran agama, akan tetapi yang menjadi keliru jika keyakinan fundamentalis tersebut diikuti dengan sikap ekstrim terutama pro pada kekerasan. Fundamentalisme ekstrim bukan hanya fenomena yang dimiliki oleh Islam, akan tetapi fenomena yang dimiliki oleh hampir seluruh ajaran agama yang ada.

Kita tentu tidak bisa lupakan kekerasan para biksu Budha di Myanmar yang melakukan kekerasan brutal terhadap muslim. Kita juga akan terus melihat prilaku fundamentalisme ekstrim dari penganut Hindu di India yang terus menerus konflik dengan penganut ajaran agama lain. Agama Kristen pun memiliki penganut yang dapat di kategorikan sebagai fundamentalisme ekstrim sebagaiman konflik Irlandia Utara dan Inggris sampai sekarang masih terus berkecamuk.

Aksi fundamentalis ekstrim dalam setiap agama dan Idiologi takfiri dalam Islam tidak bisa lepas dari keadaan kejiwaan God of Complex dalam kajian psiokologi modern. God of Complex adalah keadaan kejiwaan yang merasa begitu dekat dengan Tuhan. Perasaan yang dekat dengan Tuhan memunculkan klaim bahwa mereka adalah wakil Tuhan atau tentara Tuhan di muka bumi ini, mereka adalah manusia-manusia suci sehingga orang-orang yang berbeda pemahaman dan berbeda penafsiran keagamaan merupakan orang-orang sesat dan pengikut syaitan/Iblis.

Penganut idiologi takfiri ataupun pengidap kejiwaan God of Complex selalu beranggapan orang-orang yang berbeda telah sesat mengikuti syaitan/iblis. Itu sebabnya orang-orang berbeda patut dikembalikan ke jalan yang benar atau dimusnahkan. Hal inilah yang mendorong terjadinya prilaku pemaksaan dan pembunuhan brutal terhadap mereka yang berbeda pemahaman dan pendapat.

Pembunuhan dengan cara apapun akan selalu dianggap sebagai tindakan suci dan merupakan perintah dari Tuhan. Agama menjadi tidak berprikemanusiaan dan menjadi brutal. Padahal salah satu misi utama kedatangan Islam di muka bumi ini adalah menyebarluaskan rasa kasih sayang, kerukunan, dan kedamaian. Tak hanya antar-sesama manusia, tetapi juga pada makhluk-makhluk Allah lainnya, seperti binatang, tumbuh-tumbuhan, air, bumi, hutan, dan lain sebagainya. Karena itu sulit dipahami jika manusia yang satu dengan yang lainnya tidak berusaha mewujudkan perdamaian. Misi perdamaian Islam juga tercermin dalam kata ‘Islam’ itu sendiri yang berarti selamat, sejahtera, aman, dan damai.

Idiologi takfiri dan kejiwaan God of Complex inilah menjadi biang dan basis lahirnya gerakan fundamentalis ekstrim. Pemerintah dan masyarakat Indonesia sedianya harus selalu waspada terhadap idiologi ini. Sebab jika tidak maka kita akan terus berhadapan aksi teror dari gerakan fundamentalis ekstrim keagamaan dengan bentuk dan nama yang berubah-ubah di masa depan.

Tentang laboratoriumpencerahan

I'm a student......
Pos ini dipublikasikan di Kajian. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s