Orangtua Nabi Muhammad Saw Mati Kafir? [Antara Keyakinan Wahabi, Syiah dan Ahlus Sunnah]

 

“Aku senantiasa berpindah-pindah dari sulbi-sulbi orang-orang yang suci kepada rahim-rahim wanita-wanita yang suci”.

[Nabi Muhammad Saw, dimuat dalam Alusi, Ruh al-Ma’âni fi Tafsiri al-Qur’ân, Sayyid Mahmud Alusi, jil. 7, hal. 388]

Dalam keyakinan Wahabi, kedua orangtua Nabi Muhammad Saw meninggal dalam keadaan kafir, karena semasa hidupnya adalah penyembah berhala. Keyakinan ini berdasarkan sejumlah hadits yang dinilai sahih termasuk dimuat dalam kitab Sahih sendiri, bahwa penjelasan mengenai hal ini disampaikan sendiri oleh lisan Nabi, bahwa ayahnya di neraka.

Sementara dalam keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah dan Syiah Imamiyah, kedua orangtua Nabi Muhammad Saw meninggal dalam keadaan bertauhid. Bahkan bukan hanya kedua orang tua Nabi Muhammad Saw melainkan seluruh nasab beliau sampai ke Nabi Adam As, kesemuanya adalah ahli tauhid. Sebab tidak ditemukan satupun nash, ayah dan ibu Nabi Muhammad Saw pernah menyembah berhala, dan wafat dalam keadaan memeluk keyakinan tersebut.

Kalau semua nenek moyang Nabi Muhammad Saw adalah ahli tauhid, lantas bagaimana dengan ayah Nabi Ibrahim As yang nota benenya, termasuk dalam nasab Nabi Muhammad Saw, bukankah dalam penjelasan Al-Qur’an, ia meninggal dalam keadaan kufur, karena seorang penyembah berhala?

Baik, pertanyaan yang mesti kita ajukan dulu, apakah Azar yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai ayah nabi Ibrahim As adalah ayah kandung beliau, atau bukan?

Setidaknya ada lima tempat dalam Al-Qur’an yang menceritakan interaksi antara Nabi Ibrahim As dengan Azar, dengan penggunaan kata “Aba” yang dalam bahasa Indonesia artinya ayah/bapak.

Pertama

” Adapun permohonan ampunan Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya [ABIIHI], tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya. Maka ketika jelas bagi Ibrahim, bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (Qs. Al-Taubah [9]: 114).

Kedua

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar: “Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata.” (Qs. Al-An’am [6]: 74)

Ketiga

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah.” (Qs. Al-Zukhruf [43]: 26)

Keempat

“Kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari (siksaan) Allah terhadapmu.” Qs. Al-Mumtahanah [60]: 4)

Kelima

“Ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Apakah yang kamu sembah?” (Qs. Asy-Syu’ara [26]: 70) sampai ayat ke 86 pada surah yang sama, “dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat.”

Sekarang pertanyaannya, apakah “aba” dalam bahasa Arab selalu bermakna ayah kandung, atau mengandung pengertian lain?. Secara umum, sama halnya dalam bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia, kata “aba” tidak selalu bermakna ayah kandung, namun juga bisa bermakna, paman, kakek, ayahnya kakek. Bahkan mengandung pengertian yang lebih luas, ayah angkat, sosok pelindung, pengayom dan pemimpin di sebuah keluarga dan suku [harus yang berjenis kelamin laki-laki tentunya], dapat disebut “aba” atau bapak dalam bahasa Indonesia.

Sekarang kita melihat Al-Qur’an dalam menggunakan idiom “aba” pada ayat lain.

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu [ABAAIKA], Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. [Qs. Al-Baqarah: 133]

DEPAG menerjemahkan “Abaaika” dengan “nenek moyangmu”. Dalam ayat yang dimaksud “Abaa” adalah Ibrahim, Ismail dan Ishak. Ishak adalah ayah Ya’qub, Ismail adalah paman Ya’qub dan Ibrahim adalah kakek Ya’qub. Jadi “Aba” dalam ayat ini mengandung makna ayah kandung, paman dan kakek.

Kita lihat ayat lainnya.

Nabi Yusuf As berkata:

“Dan aku mengikuti agama nenek moyangku [ABAAI]: Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya).” [Qs. Yusuf: 38]

Nabi Yusuf As adalah anak dari Ya’qub As. Jadi Ishak adalah kakeknya, dan Ibrahim adalah ayah dari kakeknya. Dan untuk menyebut ayah kandung, kakek dan ayah kakeknya, Nabi Yusuf As mengggunakan kata “Abaai”.

Dengan dua ayat ini, bisa disimpulkan, “Aba” tidak selalu bermakna ayah kandung, melainkan juga bisa bermakna paman, kakek dan ayah dari kakek.

Sekarang kita kembali kepada interaksi antara Nabi Ibrahim As dengan Azar.

Ceritanya begini. Azar berprofesi sebagai tukang kayu, dan dia bekerja untuk Namrudz termasuk untuk membuatkan patung-patung berhala untuk disembah. Azar meski dia sendiri yang membuat patung itu, ia pun memiliki keyakinan yang sama dengan mayoritas kaumnya, yaitu menganggap patung itu tuhan dan beribadah kepadanya.

Nabi Ibrahim As prihatin dengan kondisi itu. Dengan lembut ia menasehati Azar.

Al-Qur’an mengabadikan kisahnya:

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar: “Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata.” (Qs. Al-An’am [6]: 74)

Azar tidak menghiraukan nasehat tersebut. Bahkan menentang Ibrahim As dengan keras.

Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”. [QS. Maryam 46]

Namun Nabi Ibrahim As dengan tetap lembut berjanji akan mendoakan Azar agar meninggalkan keyakinan batilnya tersebut.

“Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari (siksaan) Allah terhadapmu.” Qs. Al-Mumtahanah [60]: 4)

Dan suatu waktu, Nabi Ibrahim As memenuhi janjinya tersebut, dengan memohonkan ampun kepada Allah Swt untuk Azar. “dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat.” (Qs. Asy-Syu’ara [26]: 86)

Namun hal itu mendapat pengingkaran dari Allah Swt.

” Adapun permohonan ampunan Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya. Maka ketika jelas bagi Ibrahim, bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (Qs. Al-Taubah [9]: 114).

Dengan petunjuk Allah Swt, bahwa mendoakan ampunan dan keselamatan bagi orang musyrik itu terlarang, meskipun itu kerabatnya [baca Qs. At-Taubah: 113], maka Nabi Ibrahim As pun kemudian berlepas diri. Nabi Ibrahim As sempat memohonkan ampun, karena terikat janji pada Azar dan karena ia begitu sangat lembut hatinya.

Sekarang, kita menyimpulkan beberapa poin sebagai berikut:

pertama, penggunaan kata “Aba” dalam Al-Qur’an tidak melulu bermakna ayah kandung, namun juga bisa digunakan untuk, paman, kakek dan seterusnya. Oleh karena itu demikian juga, sebuatan “Aba” oleh nabi Ibrahim As untuk Azar. Syiah dan Ahlus Sunnah yang meyakini, bahwa silsilah kenabian dari Nabi Muhammad Saw sampai Nabi Adam As terdiri dari para muwahid [orang yang bertauhid] maka “Aba” yang dinisbatkan Ibrahim As kepada Azar bukan bermakna ayah kandung dan kakek, melainkan paman.

kedua, karena sudah tahu hukumnya, bahwa terlarang mendoakan orang yang meninggal dalam keadaan musyrik, meskipun itu dari kerabat sendiri, maka tentu saja Nabi Ibrahim As tidak akan mendoakan ampunan untuk Azar.

Sekarang kita lihat Al-Qur’an menceritakan dengan apik, penggalan terakhir dari perjalanan dakwah Nabi Ibrahim As, yang termuat dalam satu surah, yang nama surahnya menggunakan nama suci beliau As.

Di Mekah, dihadapan Ka’bah, dibagian-bagian akhir dari usianya, Nabi Ibrahim As berdoa kepada Allah Swt. Mendoakan agar kota Mekah dijadikan negeri yang aman, dijauhkan agar anak cucunya tidak menyembah berhala, mendoakan kebaikan untuk keturunannya, agar tetap mendirikan shalat, agar dihormati, agar mendapatkan rezeki, agar menjadi ahli syukur.

Nabi Ibrahim As tidak lupa mengucapkan syukur atas nikmat yang telah dikaruniakan Allah Swt padanya di hari tuanya, yaitu keberadaan Ismail dan Ishak, dan ia berdoa agar dirinya dan keturunannya menjadi ahli shalat.

Dan dipenghujung panjatan doanya, Nabi Ibrahim As berdoa begini:

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua IBU BAPAKKU dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari kiamat).” [Qs. Ibrahim: 41]

Kalau idiom “Aba” masih bisa dimaknai selain ayah kandung, maka kata “Waliwālidayya” tidak memiliki pengertian lain, selain kedua orang tua kandung, yaitu ayah dan ibu kandung.

Maka ayat ini menunjukkan secara tegas:

Diakhir-akhir usianya, Nabi Ibrahim As mendoakan ampunan untuk kedua orangtuanya yang disejajarkannya dengan orang yang beriman lainnya. Kalau ayah ibunya meninggal dalam keadaan musyrik dan kafir, Nabi Ibrahim As tidak akan mungkin memohonkan ampunan untuk keduanya.

Kesimpulannya:

Pertama, Ayah dan ibu kandung Nabi Ibrahim As adalah orang beriman dan ahli tauhid.

Kedua, Azar bukan ayah kandung Nabi Ibrahim As melainkan, paman. Sebagaimana paman Nabi Muhammad Saw yang musyrik, yang juga namanya diabadikan dalam Al-Qur’an, Abu Lahab. [Kalaupun Azar bukan paman, bisa jadi ayah angkat dan semacamnya, yang jelas bukan ayah kandung]

Dalam keyakinan Syiah, sebuah hadits, yang meskipun kedudukannya dianggap sahih sekalipun namun jika secara sarih/jelas bertentangan dengan ayat Al-Qur’an, maka hadits tersebut harus ditolak. Termasuk hadits bahwa ayah ibu Nabi Muhammad Saw meninggal dalam keadaan kafir.

Lantas bagaimana Ahlus Sunnah wal Jamaah memahami riwayat sahih yang menyebutkan ayah Nabi Muhammad Saw di neraka?. Sebagaimana riwayat berikut:

“Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah menceritakan kepada kami Affan menceritakan kepada kami Hamad bin Salamah dari Tsabit dari Anas bahwasanya seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, dimanakah bapakku?”. Rasululllah Saw bersabda, “Di dalam neraka.” Maka ketika orang itu beranjak pergi, Rasulpun memanggilnya dan berkata, “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di dalam neraka.” [HR. Muslim no. 347]

Wahabi memahami riwayat diatas secara tekstual, tidak kontekstual. Berpegang pada riwayat diatas, Wahabi berkeyakinan ayah Nabi Muhammad Saw meninggal dalam keadaan kufur dan letaknya di neraka. Namun tidak dengan pemahaman ulama Ahlus Sunnah.

Ahlus Sunnah memahaminya begini:

Pertama, hadits diatas, tidak secara langsung menyebut ayah Nabi Muhammad kafir, lantas mengapa secara tergesa-gesa disimpulkan demikian?

Kedua, konteksnya dalam riwayat diatas, yang bertanya adalah Arab Badui yang baru masuk Islam. Dengan mendapat jawaban demikian dari Rasulullah Saw bahwa ayahnya masuk neraka, maka iapun kecewa dan langsung pergi. Besar kemungkinan kekecewaannya itu akan membuatnya kembali kepada keyakinan lamanya. Nabi Sawpun harus punya cara untuk bisa mengajaknya kembali dan menenangkannya, maka Nabi Saw mengatakan padanya, bahwa ayahnya juga di neraka.

Dengan memahami konteks seperti itu, maka tidak boleh secara serampangan memahaminya dengan mengambil zahirnya begitu saja. Namun Wahabi memahaminya demikian. Coba bandingkan dengan cara Ahlus Sunnah memberikan jawaban sebagaimana ucapan Imam Nawawi ketika mensyarah hadits diatas. Beliau menulis, “Ia adalah bentuk luwesnya pergaulan Rasulullah untuk menghibur sipenanya, dengan mengatakan sama-sama tertimpa musibah.”

Maksudnya, jawaban Nabi Saw bahwa ayahnya juga di neraka adalah bentuk luwesnya pergaulan Rasulullah yang tidak menghendaki orang lain kecewa dengan jawabannya. Terlebih lagi sang penanya masih lemah iman, mudah murtad dan susah paham. Maka Nabi Saw pun mensamarkan penjelasannya bahwa bapaknya juga masuk dalam neraka. Inilah yang dimaksud tawriyah, Nabi Saw mensamarkan jawabannya, antara bapak kandung dengan bapak dalam artian paman. Yang dimaksud Nabi Saw “Inna Abi wa Abaka fin Nar” adalah “Sesungguhnya pamanku dan ayahmu di neraka.” Meskipun sang penanya, memahamnya bapak Nabi Saw dan bapaknya, keduanya di neraka.

Imam Jalaluddin Suyuthi, salah satu imam Ahlus Sunnah menulis satu kitab khusus untuk membuktikan lewat nash-nash dan argumentasi logis bahwa kedua orang tua Nabi Muhammad Saw dan seluruh nenek moyangnya di surga. Judulnya, “Abawai Rasulillah fil Jannah”. Pada halaman 29 dari kitab itu, Imam Suyuthi ra menulis, “Aku telah menyelami semua bacaan, maka aku mendapati bahwa semua ibu pada Nabi adalah wanita-wanita yang beriman, maka lebih pantas lagi ibunya Nabi Muhammad Saw juga wanita yang beriman.”

Lalu bagaimana dengan hadits riwayat Muslim:

Rasulullah Saw bersabda, “Aku meminta izin kepada Tuhanku untuk untuk memohonkan ampun untuk ibuku maka Dia tak mengizinkanku, kemudian aku minta izin untuk menziarahi kuburnya maka Dia mengizinkan aku. (HR. Muslim 976]

Wahabi begitu mendengar riwayat ini langsung menyimpulkan ibu Nabi Saw mati kafir dan tempatnya di neraka, karena itu Nabi Saw tidak diizinkan untuk mendoakannnya. Wal ‘iyadzubillah.

Namun tidak demikian dengan ulama Ahlus Sunnah.

Imam Jalaluddin Suyuti dalam At-Ta’zhim wal Minnah Suyuthi hal. 29 cet. Dar Jawami’ Kairo menuliskan, bahwa larangan memohonkan ampun tidak lantas bisa disimpulkan bahwa yang bersangkutan itu kafir, sebab di awal-awal Islam Nabi Saw dilarang untuk menyolatkan dan mengistighfarkan orang mukmin yang ada hutangnya tapi belum lunas,  karena istighfar Nabi Saw akan dijawab Allah dengan segera, maka siapa yang diistighfarkan Rasul dibelakang doanya akan sampailah kepada derajat yang mulia di surga, sementara orang yang berhutang itu tertahan pada maqomnya sampai dilunaskan hutangnya sebagaimana yang ada dalam hadits (jiwa setiap mukmin terkatung dengan hutangnya sampai hutangnya itu dilunaskan). Maka seperti itu pulalah ibu Nabi alaiha salam bersamaan dengan posisinya sebagi seorang wanita yang tak pernah menyembah berhala, maka beliaupun tertahan dari surga di dalam barzakh  karena ada sesuatu yang lain diluar kufur.

Sementera Syaikh Zaki Ibrahim pimpinan Tariqat Syadziliyah Mesir menuliskan dalam kitabnya, ‘Ismatun Nabi hal. 96, bahwa istighfar adalah bagian dari penghapusan dosa, maka  seseorang tidak akan berdosa selama dakwah Islam belum sampai kepadanya. Maka tidak perlulah Rasulullah Saw memintakan ampun untuk orang yang belum terhitung telah melakukan dosa dan Allahpun juga tak akan mengiqobnya sebagai dosa. Maka memintakan ampun kepada ibunya, adalah suatu hal yang sia-sia, dan bukanlah sifat para Nabi melakukan suatu hal yang sia-sia.

Imam Muslim dalam meriwayatkan hadits diatas memberinya judul, “Minta izinnya Nabi Saw kepada Allah untuk menziarahi makam ibunya.” Bukan memberi judul, “Minta izinnya Nabi Allah untuk menziarahi makam musyrik.”

Di dalam kitab “At-Tajul Jami’ lil Ushul fii Ahaditsir Rasul karya Syeikh Manshur Ali Nashif pada jilid 1 hlm. 382 dituliskan, bahwa kedua orangtua Nabi Saw adalah ahli fatrah, dan menurut ulama jumhur bahwa ahli fatrah itu adalah orang-orang yang selamat (orang-orang yang selamat dari api neraka dan mereka tetap dimasukkan ke dalam surga). Firman Allah Swt dalam surat Al-Isra ayat 15, “Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” Bahkan berlaku dan absah menurut ahli mukasyafah bahwa Allah ta’ala menghidupkan kembali kedua orangtua Nabi saw setelah beliau diangkat jadi Rasul. Kemudian, mereka beriman kepada Nabi saw. Olehkarena itu, sudah pasti mereka termasuk ahli surga.

Imam Al-Qodhi Abu Bakar ibnu Al-Arabi salah seorang ulama muhaqqiqin besar mazhab Maliki  pernah ditanya:

Bahwa ada orang yang mengatakan orang tua Nabi Saw di neraka. Apa jawab Ibnu Al-Arobi? Beliau mengatakan; “Terlaknat orang yang mengatakan orang tua Nabi di neraka karena Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasulullah, Allah melaknat mereka di dunia dan akhirat dan Allah menyiapkan kepada mereka adzab yang hina” ( Al-Ahzab 57).

Kalau orang Arab Badui saja tersinggung ketika ayahnya dikatakan di neraka, apalagi menyematkan hal demikian atas pribasi suci dan agung, Nabiullah Muhammad Saw.

Meskipun menerima kesahihan kedua riwayat diatas yang sering dijadikan landasan keyakinan bagi Wahabi yang menguatkan persepsi mereka bahwa Orangtua Nabi Saw wafat dalam keadaan kafir, ulama Ahlus Sunnah tidaklah memahaminya sebagaimana Wahabi yang memahaminya secara zahir.

Kalau Wahabi tetap meyakini bahwa orangtua Nabi Saw meninggal dalam keadaan kufur, maka pertanyaan berikut harus mereka jawab:

Pertama, kalau dalam konsideran Islam disebutkan musyrik itu najis [baca Qs. At-Taubah: 28], mungkinkah Allah Swt mengangkat Nabi yang akan mendakwahkan ajaran suci Islam dipilihnya dari orang yang jiwanya najis karena menyekutukan Allah Swt?

Kedua, kalau nabi-nabi lainnya dari kalangan Bani Israel memiliki silsilah yang sedemikian mulia, Nabi Ishak, Nabi Ya’qub, Nabi Yusuf, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Ilyas, Nabi Ilyasa, Nabi Yunus, Nabi Zakaria, Nabi Yahya dan Nabi Isa, yang orang tua mereka bukan hanya muwahid, namun juga seorang Nabi, apakah layak penghulu para Nabi, yang dipilih Allah Swt sebagai nabi yang paling agung, yang Allah Swt pun bershalawat atasnya, yang pertama kali masuk surga diangkat dari keturunan seorang yang kafir, musyrik dan najis?.

Ketiga, kalau dikatakan kedua orang tua Nabi Muhammad Saw meninggal dalam keadaan kafir, karena tidak sempat menerima dakwah tauhid [meninggal saat Muhammad belum diangkat jadi Nabi] maka itu adalah kezaliman kepada keduanya, dan siapapun yang meninggal tanpa menerima dakwah tauhid sebelumnya.  Sungguh, Allah Swt jauh dari hal tersebut, sebab sebagaimana dalam Al-Qur’an disebutkan, “Dan tidak ada satu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” [Qs. Al-Fathir: 24], maka tentu saja dimasa kedua orangtua Nabi masih hidup pasti ada pemberi peringatan. Sehingga meskipun hidup dalam periode fatrah [masa kekosongan antara dua kenabian], orang-orang dimasa tersebut tetap ada pemberi peringatan, yang menyampaikan dakwah tauhid sebagaimana dakwah para Anbiyah As.

Kalau jarak antara pasca wafatnya Nabi Muhammad Saw dengan masa kita, yang menembus rentang waktu 1400 tahun dan sampai saat ini masih ada pendakwah tauhid meskipun itu bukan Nabi, apalagi kalau itu hanya rentang waktu 600 tahun dari masa Nabi Isa As sampai kemudian diangkatnya Muhammad sebagai Nabi. Tentu saja, pendakwah tauhid dan yang memegang teguh agama hanif Nabi Ibrahim As masih tetap ada. Dan kalau masih ada, apakah Allah Swt memilih Nabi Muhammad Saw terlahir dari orangtua yang musyrik dan kafir?.

Atau kalaupun tidak ada pemberi peringatan maka, tetap tidak ada azab bagi mereka yang hidup di periode fatrah, sebagaimana firman Allah Swt, “Dan Kami tidak akan memberikan azab sebelum Kami mengutus seorang Rasul.” [Qs. al-Isra’: 15]. Ayat ini menegaskan, jika Allah Swt belum mengutus seorang Rasul, maka Allah tidak akan memberi azab. Lantas darimana Wahabi menyimpulkan kedua orangtua Nabi Saw mati kufur karena tidak sampai dakwah tauhid kepada mereka?.

Keempat, mari kita ingat doa Nabi Ibrahim As. “Wahai Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.” [QS. Ibrahim: 35]. Kita yakin, doa Nabi Ibrahim As agar anak keturunannya tidak menyembah berhala, pasti dikabulkan Allah Swt sebagaimana doanya agar negeri Mekah menjadi negeri yang aman. Lantas jika ada diantara generasi Nabi Ibrahim yang musyrik dan menyembah berhala, maka itu adalah pilihan sendiri, bukan karena doa Nabi tidak terkabul. Lantas apakah logis, Nabi Muhammad Saw terlahir dari generasi Nabi Ibrahim As yang menyembah berhala sementara Nabi Ibrahim telah mendoakan agar keturunannya tidak menjadi penyembah berhala?.

Kelima, Nabi Muhammad Saw senantiasa menganjurkan umat Islam agar mendoakan kebaikan bagi kedua orangtua, doa inipun sangat akrab bagi kita, “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” [Qs. Al Israa’: 24]. Dan betapa mirisnya, Nabi yang menganjurkan hal tersebut, namun beliau sendiri terlarang untuk melakukannya, karena kedua orang tuanya meninggal dalam keadaan kufur, dan haram untuk didoakan, logiskah?. Coba sebut saja, satu hukum dalam Islam yang dianjurkan Nabi Saw untuk dilakukan, namun ia sendiri terlarang untuk melakukannya. Justru yang ada, Nabi Saw terlebih dahulu melakukannya sendiri, sebelum menganjurkannya.

Terakhir, kalian [Wahabi] tidak memiliki hujjah satupun bahwa kedua orang tua Nabi pernah menyembah berhala dan juga tidak memiliki hujjah bahwa keduanya ahli tauhid, maka yang paling aman adalah ambillah sikap pertengahan, yakni diam. Jika kalian orang yang baik, kalian akan menempatkan Nabi Saw dalam posisi yang paling agung, termasuk berhusnuzhon, bahwa kedua orangtuanya adalah juga ahli tauhid. Namun jika, jiwa kalian kerdil, maka permalukanlah diri kalian dengan mengkafirkan siapapun yang kalian kehendaki termasuk orangtua Nabi Saw sekalipun.

Bagimu bukan aib, untuk meyakini orangtua Nabi Saw mati kafir, namun menjadi aib bagimu, jika diantara sahabat Nabi Saw ada yang dituding murtad, sampai kau rela mati untuk itu. [padahal dalam Sahih Bukhari sendiri disebutkan adanya sejumlah sahabat yang murtad sepeninggal Nabi Saw]

Ahlus Sunnah dan Syiah satu dalam memandang iman orangtua para Anbiyah As, namun tidak bagi Wahabi.

Tentang laboratoriumpencerahan

I'm a student......
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s