Filsafat dan Agama

Saya sangat yakin sekali, jika filsafat merupakan pintu perbaikan keadaan masyarakat indonesia saat ini. Sebab dengan filsafat maka cara berpikir kita akan tertuntun dengan baik……akan tetapi sebagian orang beranggapan bahwa agamalah penyelesai masalah…..tapi bagiku agamapun harus tunduk pada filsafat….sebab dengan filsafat kita menemukan agama yang benar.

Iklan

2 Balasan ke Filsafat dan Agama

  1. Electra berkata:

    Saya setuju. untuk menjembatani dialog antar peradaban, mazhab atau kelompok, Filsafat sangat efektif….

  2. pencari kebenaran berkata:

    Agama versus filsafat

    Sebelum kita berbicara lebih jauh tentang benturan antara agama dan filsafat maka kita harus terlebih dahulu mengetahui hakikat agama dan juga filsafat sehingga kala terjadi benturan antara keduanya kita bisa memahami latar belakang terjadinya benturan itu serta bisa menempatkan dimana agama harus diletakkan dan dimana filsafat harus diletakan.
    Secara simpel tapi sangat mendasar kita harus menempatkan agama sebagai konsep-sudut pandang Tuhan dan filsafat sebagai konsep sudut pandang manusia dan definisi demikian sebenarnya cukup untuk melukiskan secara mendasar apa itu agama dan apa itu filsafat.mengenai karakteristik dari keduanya kita akan mengetahuinya secara lebih mudah bila kita telah melekatkan agama dengan Tuhan dan filsafat dengan manusia.kita akan mengetahui dan memahami sisi manapun dari agama bila itu selalu dikaitkan dengan Tuhan dan kita akan mengetahui sisi manapun dari filsafat bila itu selalu dikaitkan dengan manusia.mengenai kelebihan dan kekurangannya pun akan kita ketahui tinggal kita melekatkan agama dengan sifat Tuhan dan filsafat dengan sifat manusia.
    Sebaliknya kita akan menemukan kerancuan apabila kita menyandarkan atau mengembalikan agama kepada manusia,misal menganggap agama sebagai ‘sesuatu yang berasal dari manusia’ atau ‘ciptaan’ seorang yang disebut ‘nabi’dan disisi lain mengkultuskan filsafat sebagai ‘muara kebenaran’,dengan prinsip cara pandang seperti itu agama hanya akan menjadi obyek penghakiman dan bulan bulanan filsafat.sehingga sekali lagi agama akan bisa dilihat karakteristiknya yang sejati termasuk superioritasnya manakala apapun yang ada dalam agama disandarkan pada Tuhan.
    Dengan memahami hakikat agama dan filsafat secara mendasar kita bisa mengukur : layakkah bila filsafat menghakimi agama karena itu sama dengan berarti manusia menghakimi Tuhan,bandingkan dengan bila agama menghakimi filsafat itu artinya sama dengan Tuhan menghakimi manusia.
    Setelah memahami penjelasan mendasar diatas maka kita akan meyakini bahwa bahasan apapun yang melibatkan agama dengan filsafat didalamnya akan rancu,kabur,rumit dan pelik bila tidak berangkat dari definisi pemahaman terhadap agama dan filsafat yang bersifat mendasar sebagaimana diuraikan diatas.sebagai contoh bila seseorang cenderung terlalu takjub dengan filsafat atau mengaguminya secara berlebihan sehingga ujungnya cenderung mengkultuskannya sebagai ‘simbol kebenaran’ maka dijamin kala menemukan bahasan yang bersinggungan dengan agama ia akan menemukan kerumitan yang luar biasa karena ada banyak pertentangan tajam diantara keduanya,dan ujungnya sifat mengagumi secara berlebihan terhadap filsafat akan membuat seseorang mudah bersikap apriori terhadap agama dengan memandang agama secara apriori sebagai miring dan negative dan kala menemukan enturan antara agama dengan filsafat ia akan cenderung berfihak kepada filsafat.
    Banyak nya fihak yang membuat tulisan seputar agama versus filsafat menunjukan pertama ; memang ada banyak terdapat benturan dan pertentangan antara agama versus filsafat karena keduanya berada pada dua kutub yang berbeda,kedua karena agama adalah sudut pandang Tuhan dan filsafat adalah sudut pandang manusia maka otomatis akan terdapat benturan diantara keduanya,ketiga karena dunia filsafat bukan hanya dihuni oleh orang yang beriman yang dengan rasio nya berusaha untuk membela keimanannya tapi sebenarnya mayoritas diisi oleh orang tak beriman yang pandangan pandangannya otomatis sering berbenturan dengan pandangan agama.
    Sebenarnya suatu yang baik dan benar memposisikan agama dan filsafat dalam posisi yang saling berbenturan ketimbang selalu berupaya mencari persesuaiannya,sebab dengan cara (mempertentangkan) demikian maka manusia akan mengetahui identitas masing masing secara jelas dan terang.bila kita memakai persentasi maka isi dari filsafat itu sekian persen bersesuaian dengan agama dan sekian persen bertentangan.sama dengan ibarat hitam dan putih itu bisa dipadukan dalam harmonisasi warna tapi untuk mengetahui identitas yang jelas dari apa itu ‘putih’ maka manusia harus mempertentangkannya dengan hitam,demikian pula siang dengan malam bila kita melihatnya dari satu sisi (harmonisasi) maka kita akan melihatnya sebagai keterpaduan tapi untuk mengenal makna pengertian ‘malam’ secara hitam-putih maka manusia harus mempertentangkannya dengan malam.
    Demikian kita akan bisa melihat secara jelas identitas,perbedaan,karakteristik agama bila kita membandingkannya dengan filsafat,demikian pula sebaliknya karakteristik yang khas dari filsafat kan terlihat jelas bila kita membandingkannya dengan agama.beberapa hasil tela’ah yang bisa diperoleh dari hasil saling memperbandingkan antara agama dengan filsafat diantaranya :
    1.kita bisa mengetahui bahwa apapun yang dibahas dalam agama pada ujungnya semua bermuara pada satu titik yaitu Tuhan dan hal demikian makin jelas apabila kita membandingkannya dengan filsafat sebab dalam filsafat apapun yang dibahas tidak bermuara ke satu titik tapi kebanyak kepala yaitu ke banyak pendapat dan bahkan diantara pandangan yang berbeda beda itu satu sama lain ada yang saling bersesuaian ada yang saling menguatkan tapi ada yang saling berlawanan dan saling meruntuhkan.
    2.kita bisa mengetahui bahwa kebenaran agama berasas kepada hal hal yang bersifat hakiki manakala kita membandingkannya dengan filsafat yang bila kita bandingkan dengan agama disamping ada yang mengacu kepada hal hal yang bersifat hakiki juga ada yang sering berpijak kepada hal hal yang bersifat relatif dan spekulatif.sifat hakiki itu bisa kita ketahui dari sifat pernyataan atau deskripsi yang tidak berubah ubah sehingga kebenaran yang ada dalam agama menjadi kebenaran yang baku.dan salah satu karakter dari sifat hakiki adalah ia tidak berubah oleh waktu-keadaan-situasi dlsb.berbanding terbalik dengan yang terjadi dalam filsafat maka sifat pernyataannya sering berubah ubah dari waktu ke waktu,misal sebuah pandangan diruntuhkan oleh pandangan lain seiring lahirnya pandangan baru yang dianggap lebih baik dan lebih sesuai dengan zaman.dan itulah ciri dari kebenaran yang bersifat relative adalah essensinya berubah ubah dari waktu ke waktu.sedang pada agama walau para nabi dan kita suci bergantian dari zaman ke zaman dan konsepnya disesuaian dengan keadaan zaman tetapi essensinya sama sekali tidak berubah.
    Baik agama maupun filsafat ada pada satu ruang dan waktu yang sama atau ada pada realitas yang sama dan menafsirkan realitas yang sama jadi benturan dan pertentangan sudah pasti akan selalu ada di berbagai sisi sebab agama dan filsafat menafsirkan realitas secara berbeda,agama mengikuti sudut pandang Tuhan dan filsafat mengikuti sudut pandang manusia.

    Sebagaimana selalu ditulis dalam buku buku teks filsafat para filsuf adalah orang orang yang selalu berusaha untuk menjangkau keseluruhan,sehingga keseluruhan itu terpikirkan serta selalu berusaha untuk menjangkau hakikat segala suatu sedalam dalamnya.prinsipnya dalam wacana filsafat manusia selalu berambisi untuk bisa menjangkau dan seolah ingin merangkum realitas secara keseluruha.
    Tapi dibalik ambisi yang menggebu gebu itu manusia harus realistis dan rasional sebab manusia adalah makhluk yang serba terbatas dalam segala suatu khususnya dunia panca inderanya,sehingga manusia sebenarnya harus selalu bertanya kepada dirinya : bisakah manusia menangkap dan memahami keseluruhan (realitas) tanpa Tuhan (?)
    Sebab suatu yang sangat naïf dan ironis bila disatu sisi manusia ingin berusaha untuk menjangkau keseluruhan tapi disisi lain manusia menolak deskripsi Tuhan perihal realitas yang berada diluar jangkauan manusia untuk bisa menangkapnya.padahal manusia diberi alat berfikir yang bisa menangkap kebenaran yang berasal dari realitas yang abstrak itu yaitu akal (sebab akal memiliki dua mata ia bisa melihat kedunia abstrak juga ke dunia konkrit).tapi manusia (yang bersudut pandang materialist) terlalu orientasi kepada tangkapan dunia indera nya sehingga konsep konsep Ilahiah yang (sebagian) berasal dari realitas yang bersifat abstrak selalu dianggap sebagai suatu yang ‘irrasional’ artinya selalu menolak bila akal nya harus digunakan untuk memahami konsep yang berasal dari realitas dunia abstrak.
    Akibat dari penjelajahan berfikir yang tanpa tuntunan petunjuk Tuhan itu kita bisa melihat wacana filsafat ujungnya hanya bermuara pada banyaknya pertanyaan pertanyaan yang bahkan hingga hari ini tak bisa dijawab oleh filsuf manapun.ambil contoh terhadap pertanyaan : mana yang lebih dahulu ada ayam atau telor,laki laki atau wanita (?)………semua adalah pertanyaan – pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh sang pencipta : hakikatnya Tuhan yang menciptakan laki laki terlebih dahulu lalu wanita,hakikatnya Tuhan yang menciptakan ayam terlebih dahulu lalu ayam itu bertelur.
    Begitu pula terhadap banyak pertanyaan lain yang hingga saat ini bertumpuk dalam dunia filsafat seperti : apa sebenarnya hakikat hidup,apa sebenarnya hakikat realitas,kemana jiwa kita setelah kematian (?) semua hanya bisa dijawab oleh yang maha pencipta.(tidak realistis dan tidak rasional bila manusia yang menjawabnya,dan sangat realistis dan sangat rasional bila Tuhan yang menjawabnya).
    Tulisan ini untuk mengingatkan bahwa kemanapun filsafat pergi dan setinggi apapun ia berusaha menjangkau ingat ia berasal dari keserba terbatasan manusia,sebab itu sangat tidak layak bila kacamata filsafat digunakan untuk menghakimi agama,yang rasional adalah agama yang harus menghakimi filsafat sehingga yang benar dan yang salah yang ada atau lahir dari dunia filsafat bisa kita pilah.
    Karena filsafat berasal dari kacamata sudut pandang manusia maka apa yang lahir dari filsafat harus selalu kita bagi kedalam dua kategori : ada yang benar dan ada yang salah,keliru besar bila ada yang mengkultuskan filsafat sebagai ‘sumber atau ibu atau muara kebenaran’ sebab bila kita analisis dalam dunia filsafat teramat banyak pandangan atau pemikiran yang salah.dan apa atau siapa yang bisa menghakimi filsafat (?) tentu bukan manusia sebab bila manusia menghakimi manusia itu tak akan pernah ada ujungnya sebab masing masing akan cenderung selalu berusaha membela diri,masing masing akan selalu menganggap hasil pemikirannya sebagai ‘kebenaran’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s