FENOMENA PONARI DAN BATU AJAIBNYA

Oleh : Nanang Wijaya

(Diterbiktan di HarianMercusuar tanggal 19 Feburari 2009)

Nanang Wijaya - Fenomena Ponari

Nanang Wijaya - Fenomena Ponari

Sudah hampir sebulan fenomena Ponari terus menjadi bahan berita di media massa dan kita dapat saksikan begitu banyaknya bahkan mencapai ribuan pasein yang menunggu untuk mendapat berkah dari Ponari dan batu ajaibnya bahkan ada yang mengantri selama berhari-hari.

Tentunya sebagian dari kita menilai fenomena Ponari adalah pentas prilaku irrasional masyarakat indonesia yang masih begitu percaya dengan hal-hal yang ghaib. Akan tetapi perlu mendapat renungan dan kajian kritis mengapa masyarakat Indonesia masih percaya dengan hal-hal yang ghaib, sampai-sampai menyandarkan hidup dan mati mereka kepada sesuatu yang belum pasti memberika kesembuhan seperti Ponari dan batu ajaibnya ? dan fenomena Ponari bukan satu-satunya fenomena, tentunya begitu banyak fenomena perdukunan lainnya dengan segala bentuk pengobatannya yang juga irrasional akan tetapi tidak mendapat sorotan media sehingga tidak terkenal.

Kita kemudian menghubungkan fenomena berjubelnya pasien Ponari dengan tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah. Kita menganggap prilaku irrasional masyarakat lahir dikarenakan tingkat pendidikan, kesadaran bersekolah dan mutu pendidikan yang diterima masyarakat begitu rendah. Analisa ini ada benarnya, akan tetapi sesungguhnya analisa ini menempatkan masyarakat pada posisi bersalah dan bertanggungjawab sendiri atas irrasionalitas prilaku mereka.

Padahal siapapun dia, tidak mungkin memilih untuk tidak bersekolah, tidak mungkin memilih untuk bodoh dan tidak mungkin memilih untuk irrasional. Maka seharusnya kita bertanya kenapa masyarakat tidak rasional padahal mereka sendiri tidak ingin ? jawabannya adalah sistem ! pada sistem pendidikanlah yang harus kita lacak mengapa masyarakat irrasional, mau mengantri berhari-hari dengan mendapat celupan batu ajaib Ponari, mau mengais tanah yang dialiri air bekas mandi Ponari.

Sekali lagi sistem pendidikan kita ! Pendidikan yang menjadi hak bagi seluruh warga saat ini telah menjadi barang dagangan, tempat mengeruk keuntungan. Sekolah yang seharusnya menampung siapapun dia, telah menjadi tempat eksklusif, hanya dapat dinikmati orang-orang berduit. Kalaupun ada sekolah gratis, maka hanya satu dua dan itupun hanya ditingkat Sekolah Dasar. Kalaupun ada dana BOS, akan tetapi banyak disunat kiri-kanan dan entah apa efeknya bagi kemajuan kualitas pendidikan kita.

Jangan pernah kita berharap fenomena Ponari dan batu ajaibnya akan hilang begitu saja, jika sistem pendidikan kita tidak keluar dari kungkungan watak kapitalismenya. Maka fenomena Ponari dan batu ajaibnya adalah kritikan bagi sistem pendidikan kita. Hal lain yang berhubungan erat dengan fenomena Ponari dan batu ajaibnya adalah hak sehat yang tentunya menjadi milik masyarakat dan pemerintah berkewajiban untuk memenuhinya. Setali tiga uang dengan sistem pendidikan kita, dunia kesehatan juga dicengkram kuat oleh kapitalisme. Persoalan kesembuhan dan bahkan persoalan nyawa menjadi nomor berikutnya setelah persoalan keuangan di dunia kesehatan kita.

Jika masyarakat disuruh memilih, apakah berobat kepada Ponari dan batu ajaibnya atau kepada dokter di rumah sakit. Dapat dipastikan masyarakat akan memilih dokter, tapi apa yang hendak dikata, biaya dokter begitu melambung tinggi, biaya obat begitu mahal belum lagi prilaku-prilaku tenaga kesehatan yang begitu sigap dan cekatan melayani orang kaya akan tetapi begitu lamban dan terkesan administratif ketika seorang miskin datang dengan hanya berbekal kartu keterangan miskin.

Walaupun ada obat generik, walaupun ada program sehat untuk orang miskin akan tetapi kita tahu bersama bagaimana pengurusan administrasi kartu miskin itu begitu bertele-tele sampai-sampai pasien miskin tidak tertolong lagi karena lama menunggu pengurusan administrasi dan begitu banyak berita yang kita saksikan dimana orang-orang miskin terlantar di rumah sakit bahkan beberapa saat yang lalu ada berita seorang pasien tidak bisa keluar (disandera) Rumag Sakit karena tidak membayar pengobatannya. Jika ada lalu idiom “orang miskin dikarang sakit” karena biaya pengobatan mahal maka sekarang “orang miskin boleh sakit sebab ada Ponari dan batu ajaibnya”.

Ponari dan batu ajaibnya memberika harapan sehat bagi orang miskin tatkala harapan itu telah direnggut oleh kapitalisme didunia kesehatan kita. Ponari dan batu ajaibnya memberika angin segar bagi orang miskin yang tadinya tidak lagi memiliki jalan untuk penyembuhan. Ponari dan batu ajaibnya bagaikan satrio piningit bagi masyarakat miskin ketika semua pilihan kesembuhan telah tertutup dihadapan mereka.

Tapi sayang pemerintah kita tidak mampu membaca makna fenomena ini dan terus membuat perubahan. Akan tetapi para pejabat kita melihat fenomena ini dengan tertawa kecil sambil berkata “alangkah bodohnya orang-orang ini” Pintar dan sehat adalah hak warga negara, hak yang wajib dipenuhi oleh pemerintah sebagai pemegang amanah untuk mengelolah negeri ini. Kedua hak ini tidak akan pernah terpenuhi jika masih dalam cengkraman kapitalisme, dikelolah dengan watak kapitalis dan dinikmati oleh orang-orang yang kapitalis.

Ponari dan batu ajaibnya merupakan kritik bagi kita semua, merupakan perlawanan atas sistem pendidikan dan kesehatan dinegeri ini. Semoga kita semua terutama para pejabat mampu memaknai Ponari dan batu ajaibnya dan melakukan perubahan !

Iklan

Satu Balasan ke FENOMENA PONARI DAN BATU AJAIBNYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s