Gagalnya Bantuan Asing Dalam Pembangunan Indonesia

  1. Pengantar

Pembangunan merupakan bentuk perubahan sosial yang terarah dan berencana melalui berbagai macam kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Bangsa Indonesia, seperti termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 telah mencantumkan tujuan pembangunan nasionalnya. Kesejahteraan masyarakat adalah suatu keadaan yang selalu menjadi cita-cita seluruh bangsa di dunia ini.

Pembangunan secara sederhana diartikan sebagai suatu perubahan tingkat kesejahteraan secara terukur dan alami. Perubahan tingkat kesejahteraan ditentukan oleh dimensi ekonomi, politik dan hukum, sementara perubahan alami ditentukan oleh siapa yang berperan dalam perubahan itu.

Keberhasilan pelaksanaan pembangunan masyarakat sangat bergantung kepada peranan pemerintah dan masyarakatnya. Keduanya harus mampu menciptakan sinegri. Tanpa melibatkan masyarakat, pemerintah tidak akan dapat mencapai hasil pembangunan secara optimal. Pembangunan hanya akan melahirkan produk-produk baru yang kurang berarti bagi masyarakatnya, tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya.

Demikian pula sebaliknya, tanpa peran yang optimal dari pemerintah, pembangunan akan berjalan secara tidak teratur dan tidak terarah, yang akhirnya akan menimbulkan permasalahan baru. Selain memerlukan keterlibatan masyarakat, pembangunan juga membutuhkan strategi yang tepat agar dapat lebih efisien dari segi pembiayaan dan efektif dari segi hasil. Pemilihan strategi pembangunan ini penting karena akan menentukan dimana peran pemerintah dan dimana peran masyarakat, sehingga kedua pihak mampu berperan secara optimal dan sinergis.

Selain dengan amanat yang diemban dalam Undang-undang, pembangunan dan pelaksanaannya harus berorientasi ke bawah dan melibatkan masyarakat luas, melalui pemberian wewenang perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di tingkat daerah. Dengan cara ini pemerintah makin mampu menyerap aspirasi masyarakat banyak, sehingga pembangunan yang dilaksanakan dapat memberdayakan dan memenuhi kebutuhan rakyat banyak.

Rakyat harus menjadi pelaku dalam pembangunan, masyarakat perlu dibina dan dipersiapkan untuk dapat merumuskan sendiri permasalahan yang dihadapi, merencanakan langkah-langkah yang diperlukan, melaksanakan rencana yang telah diprogramkan, menikmati produk yang dihasilkan dan melestarikan program yang telah dirumuskan dan dilaksanakan.

Soetomo (2006 : 56) menjelaskan bahwa, pembangunan masyarakat dilihat dari mekanisme perubahan dalam rangka mencapai tujuannya, kegiatan pembangunan masyarakat ada yang mengutamakan dan memberikan penekanan pada bagaimana prosesnya sampai suatu hasil pembangunan dapat terwujud, dan adapula yang lebih menekankan pada hasil material, dalam pengertian proses dan mekanisme perubahan untuk mencapai suatu hasil material tidak begitu dipersoalkan, yang penting dalam waktu relatif singkat dapat dilihat hasilnya secara fisik.

Pendekatan yang pertama seringkali disebut sebagai pendekatan yang mengutamakan proses dan lebih menekankan pada aspek manusianya, sedangkan pendekatan yang kedua disebut sebagai pendekatan yang mengutamakan hasil-hasil material dan lebih menekankan pada target.

Secara umum community development adalah kegiatan pengembangan masyarakat yang dilakukan secara sistematis, terencana dan diarahkan untuk memperbesar akses masyarakat guna mencapai kondisi sosial, ekonomi dan kualitas kehidupan yang lebih baik apabila dibandingkan dengan kegiatan pembangunan berikutnya. Dengan dasar itulah maka pembangunan masyarakat secara umum ruang lingkup program-programnya dapat dibagi berdasarkan kategori sebagai berikut : (1) community service, (2) community empowering, dan (3) community relation (Rudito & Budimanta, 2003 : 29, 33).

  1. Kegagalan Bantuan Asing

Modernisasi menjadi sebuah model pembangunan yang berkembang dengan pesat seiring keberhasilan negara dunia kedua. Negara dunia ketiga juga tidak luput oleh sentuhan modernisasi ala barat tersebut. berbagai program bantuan dari negara maju untuk negara dunia berkembang dengan mengatasnamakan sosial dan kemanusiaan semakin meningkat jumlahnya. Namun demikian kegagalan pembangunan ala modernisasi di negara dunia ketiga menjadi sebuah pertanyaan serius untuk dijawab. Beberapa ilmuan sosial dengan gencar menyerang modernisasi atas kegagalannya ini. Modernisasi dianggap tidak ubahnya sebagai bentuk kolonialisme gaya baru, bahkan para ilmuwan menyebutkan seolah musang berbulu domba.

Pembangunan ala modernisasi tidak dapat lepas dari bantuan negara maju. Program bantuan berawal dari kebijakan Marshall Plann yang diambil oleh Amerika Serikat untuk membangun kembali Eropa Barat yang lemah dalam hal ekonomi sebagai akibat dari Perang Dunia II. Pada masa ini, Amerika Serikat berhasil mengambil peran yang dominan dalam percaturan ekonomi dan politik dunia. Bantuan yang ditawarkan oleh Amerika juga mempunyai misi politik yaitu untuk membendung kekuatan ideologi komunis yang berkembang pesat.

Terlebih lagi pada masa itu banyak bermunculan negara-negara merdeka baru di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Perang ideologi menjadi sebuah alasan bagi Amerika Serikat untuk mencari “sekutu” baru dan membendung kekuatan komunis.

Kemunculan negara maju setelah Amerika Serikat menerapkan Marshall Plan membawa dampak pada semakin banyaknya negara donor yang bersedia untuk memberikan bantuan kepada negara miskin. Bantuan negara maju tidak ubahnya sebagai bentuk kolonialisme gaya baru, yang menghegemoni negara miskin dan negara berkembang. Gejala bantuan asing semakin meningkat tajam seiring tumbuhnya industri besar yang mampu memperkerjakan pekerja dan mengakumulasi modal  dalam jumlah yang besar. Terlebih lagi dengan kegagalan negara miskin dalam melaksanakan pembangunan pasca kemerdekaannya.

Berbagai bantuan asing berkembang melalui organisasi nasional maupun internasional untuk membantu berbagai program yang ditujukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Program tersebut terkadang juga diwujudkan dalam proyek-proyek pembangunan fisik untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat negara berkembang. Namun demikian, bantuan asing ini tidak lepas dari misi politik negara maju.

Tekanan politik diberikan kepada negara penerima bantuan yang diarahkan pada kepentingan ekonomi dan politik dalam negeri negara maju. Negara-negara Eropa Barat berusaha memperkokoh pengaruhnya pada bekas negara jajahan melalui program bantuan ini, sedangkan Amerika Serikat memiliki kepentingan untuk tetap mendominasi dalam percaturan dunia internasional.

Bantuan antar pemerintah dalam bentuk hutang luar negeri menjadi sebuah pilihan rasional negara miskin dibandingkan hutang dari pihak swasta melalui bank internasional yang lebih bersifat komersial dengan bunga yang relatif tinggi. Terdapat tiga ciri bantuan asing yang menyebabkan negara miskin lebih tertarik untuk mendapatkannya dibandingkan dengan mencari investasi swasta asing, yaitu :

  1. Bantuan asing tersebut dapat digunakan untuk pembangunan sarana sosial yang secara ekonomi dianggap kurang menguntungkan bagi investor.

  2. Bantuan asing lebih mudah dikontrol oleh pemerintah untuk menjamin kepastian penggunaannya sesuai tujuan pemerintah.

  3. Bantuan asing dapat diperoleh dari donor dalam berbagai bentuk dan berbagai syarat yang dapat dinegosiasikan dibandingkan dengan investasi swasta serta yang tak kalah pentingnya tingkat bunga yang jauh lebih rendah.

Namun kenyataan yang ada menunjukkan bahwa dengan tingkat bunga yang rendah tersebut, negara miskin masih mengalami kesulitan untuk membayar hutang luar negeri. Beban hutang luar negeri semakin lama semakin besar dan menjadi ciri tersendiri bagi pembangunan pada negara dunia ketiga. Bantuan luar negeri dan invastasi swasta asing sebenarnya merupakan sebuah sinergi karena sebagian besar bantuan asing membawa keuntungan komersial bagi perusahaan yang berada di negara donor. Berbagai program pembangunan yang dilakukan oleh negara miskin sebagian besar menggunakan tenaga ahli dan teknologi yang juga berasal dari negara donor.

  1. Motif Prestasi ; Mc Clelland dan Etika Protestan ; Max Weber

Seperti diungkapkan diatas, bahwa pembangunan tidak lepas dari peran pemerintah sebagai lembaga resmi dalam melakukan pembangunan akan tetapi peran masyarakat juga menjadi sangat penting sebagai objek pembangunan. Masyarakat tidak hanya diperlakukan sebagai objek akan tetapi harus dilibatkan secara langsung dalam rangkaian pembangunan, seperti perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembangunan.

Dalam melakukan kegagalan bantuan asing terhadap pembangunan di Indonesia bisa dilakukan pendekatan dengan teori Motif Prestasi David Mc Clelland dan juga Teori Etika Protestas Max Weber.

    1. Motif Prestasi Mc Clelland

Teori Motif Prestasi Mc Clelland sering dianggap sebagai salah satu teori dan tokoh penting dalam teori modernisasi. Teori Mc Clelland berangkat dari perspektif psikologis sosial. Dalam bukunya The Achievement Motive in Economic Growth, Mc Clelland memberika dasar-dasar tentang psikologi dan sikap manusia, kaitanyya dengan bagaimana perubahan sosial terjadi.

Dalam perkembangan budaya, Mc Clelland lebih melihat aspek pertumbuhan ekonomi dimana saling mempengaruhi dengan aspek budaya. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah mengapa beberapa bangsa tumbuh secara pesat di bidang ekonomi sementara bangsa yang lain tidak ?

Umumnya pertumbuhan ekonomi selalu dijelaskan dengan faktor eksternal yakni faktor diluar dari manusia itu sendiri. Akan tetapi bagi Mc Clelland persoalan pertumbuhan ekonomi lebih merupakan faktor internal yakni nilai-nilai dan motivasi yang mendorong untuk mengeksploitasi peluang untuk meraih kesempatan, singkatnya dorongan internal untuk membentuk dan merubah nasib sendiri

Alasan mengapa rakyat Dunia Ketiga terbelakang menurut Mc Clelland karena rendahnya need for achievement. Teori ini didasari pada studi Mc Clelland yang dilandasi oleh teori psikoanalisis Freud. Mc Clelland melakukan study di Amerika yang memfokuskan pada studi tentang motivasi dengan mencatat impian atau khalayan orang dalam bentuk cerita. Kesimpulannya bahwa impian atau khayalan ada kaitannya dengan dorongan dan perilaku dalam kehidupa mereka yang dinamakan the need for achievement (N’ach) yakni nafsu untuk bekerja secara baik, bekerja tidak demi pengakuan sosial atau gengsi, tetapi dorongan kerja demi memuaskan batin dari dalam. Bagi mereka yang mempunyai dorongan N’ach tinggi akan bekerja lebih keras, belajar lebih cepat, dsb. Perhatian ditujukan pada orang-orang yang mempunyai N’ach tinggi dan pengaruhnya dalam masyarakat.

Bagi Mc Clelland, N’ach sesungguhnya penyebab pertumbuhan ekonomi di barat, sehingga N’ach akan selalu berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi. Dari studi tersebut Mc Clelland menemukan motive lain yang juga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi tepatnya menghalangi yakni need for power dan need for affiliation.

Orientasi N’ach sebagai landasan tumbuhnya etos kerja bisa dibentuk dan ditularkan kepada setiap orang, maka untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi maka acheivement oriented haruslah di kampanyekan kepada setiap orang dengan cara pendidikan sejak dini. Disinilah peran keluarga sangat memegang peranan penting.

    1. Etika Protestan ; Max Weber

Teori weber mempersoalkan masalah manusia yang dibentuk oleh nilai-nilai budaya di sekitarnya, khususnya nilai-nilai agama yakni peran agama sebagai faktor yang menyebabkan munculnya kapitalisme di Eropa Barat dan Amerika Serikat.

Weber mencoba menjawab pertanyaan mengapa beberapa negara di eropa dan Amerika serikat mengalami kemajuan ekonomi yang pesat dibawah sistem kapitalisme. Setelah melakukan analisis, weber mencapai kesimpulan bahwa salah satu penyebab utamanya adalah apa yang disebutnya sebagai Etika Protestan

Dalam etika protestan memilika kepercayaan bahwa seseorang itu sudah ditakdirkan sebelumnya untuk masuk surga atau neraka. Tetapi orang yang bersangkutan tentu saja tidak mengetahuinya. Karena itu mereka menjadi tidak tenang, menjadi cemas karena ketidakjelasan nasibnya ini.

Salah satu cara untuk mengetahui apakah mereka akan masuk surga atau neraka adalah keberhasilan kerjanya di dunia sekarang ini. Kalau seseorang berhasil dalam kerjanya didunia ini, hampir dapat dipastikan bahwa dia ditakdirkan untuk naik surga setelah dia mati nanti. Kalau kerjanya selalu gagal di dunia, hampir dapat dipastikan bahwa dia akan pergi ke neraka.

Adanya kepercayaan ini membuat orang-orang penganut agama protestan calvin bekerja keras untuk meraih kesuksesan. Mereka bekerja tanpa pamrih, artinya mereka bekerja bukan untuk mencari kekayaan material, melainkan terutama untuk mengatasi kecemasannya, inilah disebut dengan Etika Protestan oleh Weber. Yakni cara kerja keras dan sungguh-sungguh lepas dari imbalan material. Etika Protestan inilah yang diakui sebagai faktor utama tumbuhnya kapitalisme Eropa.

  1. Analisis Kegagalan Bantuan Asing dalam Pembangunan

Dalam pembangunan sekurang-kurannya ada tiga faktor yang saling mempengaruhi, yakni : Perencanaan pembangunan, Infrastruktur pembangunan termasuk modal dan Masyarakat sebagai objek pembangunan.

Perencanaan pembangunan merupakan kebijakan pemerintah yang seharusnya hasil dari penyerapan aspirasi dari masyarakat. Sebelumnya jika perencaaan pembanguna bersifat Top-Down akan tetapi dengan kelemahan gagalnya pemerintahan dalam menangkap aspirasi masyarakat. Maka perencanaan pembangunan haruslah bersifat Bottom-Up, dimana perencanaan pembangunan harus dimulai dengan penyerapan aspirasi masyarakat.

Penyerapan aspirasi masyarakat mensyaratkan bahwa masyarakat sudah harus terlibat untuk mengetahui dan mengevaluasi pembanguna selama ini, sehingga masyarakat memiliki masukan terhadap perencanaan pembangunan yang tepat sesui dengan kebutuhan mereka. Dalam hal ini keterlibatan ini sudah mengisyaratkan masyarakat harus memiliki budaya kerja dan motivasi kerja yang tinggi.

Infrastruktur pembangunan adalah segala yang mendukung perencanaan pembangunan yang berupa material. Pembangunan di Indonesia salah satu hal yang menjadi sangat penting adalah modal atau pendanaan. Dengan menggunakan idiologi pembangunan modernisasi, maka selama ini Bangsa Indonesia melakukan pinjaman luar negeri sebagai investasi pembangunan.

Akan tetapi ironisnya, pinjaman telah dilakukan, perencanaan telah dibuat oleh pemerintah, pembangunan di Indonesia tetap tidak dapat mensejahterahkan masyarakatnya dalam artian mengalami kegagalan.

Kegagalan tersebut bisa dilacak pada masyarakat sebagai bagian penting dalam pembangunan. Peranan masyarakat selama hanya sekedar objek pembangunan, padahal masyarakat memiliki peranan penting dalam keberhasilan pembangunan. Dimana masyarakatlah menjadi pelaku (subjek) pembangunan sekaligus sebagai objek pembangunan. Dimana keterlibatan mereka menjadi penting.

Kesadaran akan posisi penting dalam proses pembangunan haruslah terbangun dalam masyarakat. Sebab proses pembangunan mensyaratkan kerja keras dari para pelaku pembangunan. Maka melakukan pembangunan dibutuhkan apa yang disebut oleh Mc Clelland N’ach. Dimana N’ach akan mendorong masyarakat untuk bekerja keras dalam melakukan perencanaan dan pengelolaan sumber daya infrastruktur yang ada.

Infrastruktur yang ada jika tidak dikelolah dengan baik, walaupun infrastruktur tersebut tersedia secara lengkap. Pengelolaan infrastruktur membutuhkan kecermatan, ketepatan dan perencanaan yang matang. Akan tetapi pengelolaan infrastrktur tidak lepas dari prilaku budaya dari pengelolah.

Bantuan asing sebagai pinjaman yang diperuntukan pengelolaan pembangunan di Indonesia, jika tidak dikelolah dengan baik maka bantuan tersebut tidak akan bisa dipakai dalam pembangunan di Indonesia. Maka pengelolaan tersebut tentunya berkaitan dengan N’ach dan budaya pengelolah.

Kurangnya N’ach yang dimiliki oleh pelaku pembangunan dalah hal ini masyarakat dan pemerintah, membuat progres pembangunan menjadi tidak berjalan tidak baik. Progres yang lambat ditambah dengan budaya kerja masyarakat di Indonesia sangat rendah seperti diinsyaratkan dalam etika protestan.

Selain N’ach yang kurang, proses pembangunan di Indonesia juga dipengaruhi moral para pelaku pembangunan. Kenyataan yang ada adalah bantuan asing justru dikorupsi untuk kepentingan pribadi. Jika dalam Etika Protestan, bekerja dilandasi oleh kepercayaan atas nilai-nilai agama, maka pengelolaan pembangunan di Indonesia lepas dari nilai-nilai agama.

Akibatnya prilaku yang tidak bermoral mewarnai proses pembangunan yang berimplikasi pada gagalnya pembangunan dalam mensejahterakan masyarakat, justru hanya mensejahterakan sebagian kecil masyarakat.

  1. Kesimpulan dan Penutup

Indonesia telah melakukan pinjaman luar negeri untuk melakukan proses pembangunan dalam negeri, akan tetapi proses pembangunan tersebut sampai sekarang mengalami kegagalan dengan indikator kemiskinan, pengangguran dan kesejahtraan tidak tercapai. Maka menjadi pertanyaan apa yang menjadi sebab kegagalan tersebut.

Kegagalan pembangunan dapat dilacak dari The need for Achievement dan Budaya Prilaku yang dilandasi oleh nilai-nilai agama yang dianut dan dimiliki masyarakat Indonesia termasuk para pejabat pemerintah.

Lemahnya N’ach yang dimiliki oleh pelaku pembangunan (masyarakat dan pejabat pemerintah) menyebabkan progres pembangunan yang menjadi lambat dan tidak dimilikinya Etika Protestan (jika di Indonesia lebih pada ajaran Islam) dalam mempengaruhi prilaku pejabat dan masyarakat di Indonesia justru menjadikan infrastruktur pembangunan menjadi objek korupsi yang pada akhirnya pembangunan mengalami kegagalan.

Moral pejabat menjadi faktor yang sangat penting sebagai penyebab kegagalan pembangunan di Indoneisa. Budaya korupsi adalah bukti dari ketika nilai-nilai agama tidak dijadikan sebagai landasan dalam bekerja sebagaimana Etika Protestan yang kemudian membangun semangat kapitalisme di Eropa.

Jika nilai-nilai agama menjadi landasan dalam proses pembangunan, maka nilai-nilai kejujuran, kepercayaan dan kerja keras demi nilai agama mewarnai proses pembangunan sehingga tentunya kita tidak mendapati lagi budaya korupsi terhadap bantuan-bantuan asing dalam proses pembangunan di Indonesia.

Maka untuk melakukan perbaikan proses pembangunan di Indonesia, maka N’ach masyarakat Indonesia harus ditingkatkan dan ajaran agama harus menjadi faktor penting dalam pembantukan prilaku atau budaya pelaku pembangunan (masyarakat dan pejabat) dalam proses pembangunan.

Daftar Bacaan

Budiman, Arief. 2002. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Gramedia. Jakarta.

Faqih, Mansour, 2006. Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi. Pustaka Pelajar. Yogyakarta

Khairuddin. 1992. Pembangunan Masyarakat. Tinjauan Aspek; Sosiologi, Ekonomi, dan Perencanaan. Liberty. Yogyakarta.

Slamet, M. 2003. Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan. IPB. Press. Bogor.

Soetomo, 2006. Strategi-Strategi Pembangunan Masyarakat. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Iklan

Satu Balasan ke Gagalnya Bantuan Asing Dalam Pembangunan Indonesia

  1. SAUT BOANGMANALU berkata:

    TERIMAKASIH TAS INFORMASI DAN TULISANNYA, CUKUP BERMANFAAT BUAT BACAAN. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s