IPDN ku Sayang…….IPDN ku Malang

IPDN ku Sayang…….IPDN ku Malang
Nanang Wijaya, S. Sos
(Kader Pelajar Islam Indonesia (PII) Sulawesi Tengah)

Hampir dua pekan terakhir, kita disuguhkan pemberitaan tentang “Tragedi IPDN” yang cukup mengejutkan kita. Media massa begitu gencar memberitakannya, setiap jam kita terus disuguhkan adegan yang penuh dengan kekerasan, tendangan, pukulan, ekspresi kepuasan para senior dan rintihan kesakitan para yunior.

Sebuah sekolah calon pemimpin, sekolah para praja yang nantinya menjadi pengabdi dan pengayom masyarakat ternyata telah melakukan pembunuhan atas pelajar-pelajarnya dengan dalih pembinaan. Sekolah yang seharusnya menumbuhkan jiwa dan akhlak kepemimpinan pada para pelajarnya justru melatih para pelajaranya dengan jiwa yang penuh dendam dan kekerasan yang berujung pada kematian, bahkan dengan melihat jumlah korban maka pantas disebut dengan pembantaian, dimana korban-korban berikutnya sedang menanti untuk terakhiri hidupnya.

Sebuah sekolah calon pemimpin, dimana tradisi kekerasan menjadi jalan kehidupan meraka, dimana penistaan atas hak-hak kemanusiaan menjadi olah raga mereka, dimana arogansi senioritas atas yunior yang dengan hak-hak senior tersebut mereka bebas melakukan apa saja, mempermalukan didepan umum, menghina dengan kata-kata kasar , membentak, memukul, menendang, melukai dan pada akhirnya membunuh. Seolah-olah nyawa manusia harus tunduk dihadapan kekuasaan dan arogansi senior.

Entah apa yang ada dipikiran para senior yang melakukan kekerasan itu, kebanggaan, dominasi, kekuasaan, arogansi senioritas dan keberhasilan itu adalah penaklukan. Sebuah pahaman primitif manusia atas hidup. Jiwa pendendan yang terpelihara dengan baik, tatkala mereka masih yunior, perlakuan yang sama mereka terima dari seniornya. Harkat dan martabat mereka betul-betul direndahkan oleh para seniornya, mereka menjadi kaum yang tertindas, benar-benar tertindas, tapi sekarang ! merekalah pemegang hak-hak senioritas, dimana saatnya untuk mengembalikan harkat dan martabat mereka yang hilang dahulu dengan merampas harkat dan martabat para yunior mereka untuk dilekatkan pada diri mereka, sehingga mereka terlihat gagah kembali.

Entah apa yang dipikiran para yunior korban kekerasan itu, kelemahan, penguasaan, ketidakberdayaan, pengorbanan dan ketertindasan. Jiwa yang terbangun dan sengaja dibangun oleh sistem kehidupan rimba raya terhadap kelompok-kelompok yang tak berdaya. Sebuah penistaan atas kesederajatan manusia. Yunior adalah kaum yang terkuasai oleh senior, dimana kaum terkuasai berkewajiban memberikan persembahan korban kepada kaum yang menguasai. Semuanya harus mereka korbankan, mulai dari hak-hak kesejahteraan, hak-hak kedamaian, sampai hak hidup mereka. Para yunior harus merelakan harkat dan martabat mereka untuk dirampas untuk dijadikan pondasi kekuasan para senior. Bahkan mereka berkewajiban mengorbankan dirinya untuk sebuah bukti kekuasaan senior atas yunior.

Baik senior maupun yunior telah mementaskan kembali prilaku-prilaku primitif manusia-manusia yang belum beradab pada zaman dahulu. Dipentas itu dimainkan disebuah sekolah modern yang bernama Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) yang ingin mencetak Pemimpin-pemimpin di negeri ini. Tentunya dapat kita bayangkan pemimpin bagaimana yang nanti dihasilkannya. Sebuah Tragedi Kemanusiaan ! tragedi yang terus dipentaskan setiap hari, setiap bulan dan bertahun-tahun di IPDN.

Entah apa dipikiran orang tua para praja senior, yang tiap saat menyaksikan anak-anak mereka melakukan kekerasan kepada yunior mereka. Dimana dendam telah menyelimuti diri mereka, sebab dahulu kala mereka yunior juga mengalami hal serupa. Maka rasa sakit dahulu wajib diwariskan kepada para yunior. Apakah orang tua mereka bangga ? atau sedih ? Akan tetapi pasti mereka bangga karena anaknya adalah pelajar IPDN yang nantinya pasti menjadi Pegawai Negeri. Bagaimana jika ternyata anak mereka Preman ? pembunuh ? atau mungkin bersyukur karena bukan anak mereka yang jadi korban ? dan berusaha dengan segala macam cara untuk membebaskan anak mereka dari tuduhan yang telah mereka akui sendiri.

Entah apa yang dipikiran orang tua para praja yunior yang tiap saat menyaksikan anak-anak mereka menderita menerima pukulan dan tendangan buah dari arogansi senior terhadap yunior. Setiap saat para praja yunior tidak berdaya menerima kekerasan dengan alasan pembinaan dan pendidikan. Apa hasilnya melakukan pembinaan dengan kekerasan ? kedisiplinan atau kematian ? dan jawabannya adalah kematian. Mereka mungkin menuntut keadilan, tetapi apakah keadilan akan tertegakkan dinegeri ini ? negeri dimana hukum kadang tunduk terhadap dominasi kekuasaan. Dan ini terbukti sepuluh orang praja yang telah divonis bersalah (Membunuh Wahyu Hidayat) belum menjalani hukumannya, bahkan dengan penuh kebanggaan bahwa mereka lulusan IPDN dan menjadi Pegawai di Negeri ini.

Entah apa dipikiran kita semua……….IPDN ? Calon Pemimpin Negeri Ini ? Kekerasan ? dan Kematian ? atau mungkin terlalu terbiasa dengan kekerasan dalam kehidupan kita. Sehingga kita cukup prihatin saat ini dan kemudian beberapa saat kemudian keprihatinan itu hilang digantikan dengan keprihatinan yang lain. Bukankah Wahyu Hidayat cukup membuat kita prihatin saat itu, tapi keprihatinan kita tidak cukup untuk mencegah Cliff Muntu untuk menjadi korban atas tragedi kemanusiaan di IPDN lagi. Kita tidak boleh hanya sekedar prihatin, sebab jika hanya prihatin, itu tidak mencegah apa-apa.

Semoga kita tidak hanya prihatin atas tragedi ini tapi melakukan sebuah tindakan pencegahan agar tragedi itu tidak terulang lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s