PARTAI (BENAR-BENAR) BARU ?

Oleh Nanang Wijaya

Diterbitkan di Harian Mercusuar Tanggal 12Juli 2008

Nanang Wijaya (Partai Benar-benar Baru)Ketika Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan partai-partai politik yang lolos untuk mengikuti pemilu 2009, kita mendapati kenyataan terdapat partai yang dikategorikan sebagai partai lama dan partai yang dikategorikan partai baru. Akan tetapi pertanyaannya khusus untuk partai baru adalah apakah partai-partai itu benar-benar baru ?

Sebenarnya politik adalah amanah, dimana rakyat mempercayakan pengelolaan kehidupan mereka dalam pencapaian kebahagiaan dan kesejahteraan. Politik adalah kepercayaan atas pengelolaan sumber daya alam yang merupakan anugerah Tuhan bagi manusia. Maka ditangan para politisilah nasib sekian juta rakyat yang harus dibahagiakan dan disejahteraankan. Sumber daya alam sesungguhnya milik Tuhan, para politisilah diberikan amanah untuk mengelolahnya demi kesejahteraan umat manusia lewat kebijakan-kebijakan dan regulasi-regulasi yang mereka putuskan.

Akan tetapi semua tahu bahwa berpolitik itu menyusahkan, merepotkan bahkan terkadang merugikan serta dapat menjerumuskan para praktisinya kedalam kesalahan dan kejahatan, berbeda dengan kehidupan orang biasa yang lebih tenang dibanding dengan kehidupan politisi. Walaupun begitu dunia politik tetap menjadi dunia harapan, incaran dan ambisi bagi sebagian besar orang. Maka apapun akan dilakukan demi pencapaian cita-cita dan ambisi tersebut, bahkan terkadang tidak jarang pencapaian tersebut dilakukan dengan cara-cara jahat dan licik.

Menjadi pertanyaan bagi kita sebagai orang awam politik (yang terkadang rela ditipu atau tidak sadar sedang ditipu oleh para politisi dengan kebijakan-kebijakannya) mengapa orang-orang itu merelakan dirinya untuk mau masuk kedalam dunia yang penuh intrik, penuh siasat dan taktik, penuh dengan jebakan dan berpotensi untuk menjadi penjahat. Apakah niat mereka benar-benar ingin bekerja demi kesejahteraan rakyat ? yang untuk itu mereka rela menghabiskan waktunya, menghabiskan biaya untuk keperluan politik, dsb, apakah demikian luhurnya niatan para politisi itu ?

Akan tetapi ketika masyarakat secara umum ketika ditanyakan apa kira-kira yang menjadi niat para politisi-politisi mau berjibaku di dunia politik maka jawabannya pastilah bukanlah demi kepentingan rakyat akan tetapi demi kepentingan diri mereka sendiri. Sebab selain potensi kejahatan yang ditawarkan oleh dunia politik terdapat keuntungan besar yang dapat diraih dalam dunia politik terutama keuntungan materi yang begitu menggiurkan.

Dan atas keuntungan yang mengiurkan inilah dasar motivasi para politisi untuk masuk kedunia politik. Walapun tidak bisa dipungkiri bahwa tetap ada politisi yang berangkat atas kesadaran dan keinginan untuk mensejahterakan rakyat. Akan tetapi jumlah politisi yang demikian tentunya sangat sedikit (ini semacam hukum alam, biasanya yang paling dibutuhkankan justru sedikit jumlahnya).

Akhirnya kita dapat memahami kemunculan partai-partai baru yang mau bertarung dengan partai-partai lama dalam pemilihan umum 2009. Bahwa kemunculan-kemunculan partai-partai baru tersebut sebagian besar adalah sebagai kendaraan  para pengurusnya untuk jabatan-jabatan politik dalam pemerintahan entah itu legislatif maupun eksekutif. Sebab jalan yang paling pintas dalam dunia politik untuk menduduki jabatan-jabatan politik adalah partai politik.

Sebagai partai baru, partai-partai tersebut mengklaim dirinya merupakan antitesa atas partai-partai lama, dimana partai-partai lama telah mendapat kesempatan untuk mengelolah negeri ini akan tetapi hasilnya sungguh jauh dari harapan, bukannya kesejahteraan yang diraih oleh rakyat justru penderitaan dan kesusahan. Olehnya kemunculan partai-partai tersebut adalah untuk memperbaiki keadaan dan mengubah prilaku-prilaku buruk politisi-politisi lama sehingga kesejahteraan dapat terwujud. Akan tetapi sekali bahwa ini klaim dari partai-partai baru tersebut.

Lalu apakah klaim-klaim itu benar tentunya kita baru bisa membuktikannya ketika tokoh partai-partai baru itu menduduki jabatan dalam struktur pemerintahan, itupun jika partai-partai baru itu menang dalam pemilu ketika berhadapan dengan partai-partai lama yang tentunya lebih memiliki kesiapan struktur dan infrastruktur serta pengalaman berpolitik yang luar biasanya banyaknya. Artinya apapun klaim dari tokoh-tokoh partai baru tersebut tentunya hanya merupakan janji-janji.

Akan tetapi jika kita mencermati lebih jauh partai-partai baru tersebut, mulai dari nama, lambang, platform/program dan tokoh/pengurus. Maka kita tidak akan menemukan perbedaan yang signifikan antara partai lama dan partai yang mengklaim dirinya partai baru. Semua partai pasti berbicara soal pengentasan kemiskinan dan penyediaan lapangan pekerjaan bagi para penganggguran, pasti berbicara soal pendidikan gratis dan perbaikan fasilitas pendidikan, pasti berbicara jaminan kesehatan dan perbaikan fasilitas kesehatan, dll. Jika dilihat dari program kita mungkin tidak akan menemukan perbedaan mencolok antara semua partai tersebut. Artinya partai baru dan partai lama ya sama saja.

Jika dilihat dari tokoh/pengurus partai, maka kita menemukan kenyataan bahwa tokoh/pengurus partai baru sesungguhnya merupakan wajah-wajah lama dalam dunia perpolitikan negeri ini. Yang dalam sejarahnya kehidupan politiknya, mereka pernah aktif dalam partai-partai lama yang kemudian keluar (atau dikeluarkan ?) dan membentuk partai baru. Artinya tokoh/pengurus partai baru adalah orang-orang lama juga yang dapat kita lihat track record mereka pada partai sebelumnya.

Bahkan dilihat dari nama dan lambang partai, terlihat bahwa beberapa partai menggunakan nama dan lambang yang mirip. Entah, apakah ini di sengaja atau tidak. Akan tetapi dengan “memirip-miripkan” nama dan lambang partai baru dengan partai lama yang telah lama dikenal oleh rakyat, tentnya  bisa menjadi keuntungan bagi partai-partai baru yang belum dikenal oleh masyarakat. Dan akibatnya rakyat semakin bingung dalam menentukan pilihan.

Sebenarnya antara partai baru dan partai lama saja, akan tetapi yang harus diakui adalah kemunculan partai-partai baru memberikan peluang lebih besar atas partisipasi masyarakat dalam politik ketika dominasi orang-orang tua dalam partai politik lama begitu dominan, maka keberadaan partai baru mengakomodasi kepentingan dan keinginan mereka. Walapun tingginya partisipasi tersebut belum tentunya berangkat dari keinginan tulus untuk memperbaiki keadaan masyarakat, bisa jadi justru partai politik dianggap sebagai lapangan pekerjaan ketika lapangan pekerjaan lain tertutup.

Akan tetapi sesunggunhya kita telah memiliki pengalaman panjang soal parta baru dan partai lama, bukankah partai-partai yang berkuasa sekarang adalah juga merupakan partai baru pada masa lalu ? bukankah sebelum mereka menjadi pemenang pemilu, partai-partai itu juga berkampanye, mengklaim dan memberikan janji-janji seperti yang dilakukan oleh partai-partai baru sekarang ini. Tetapi apa kemudian apa yang terjadi ? bukankah justru mereka membuat keadaan rakyat semakin menderita karena telah mengkhianati amanah yang telah dipercayakan kepada mereka melanggar janji-janji yang telah mereka ucapkan pada masa kampanye.

Artinya kita kayaknya belum bisa terlalu berharap dengan kemunculan partai-partai baru akan dapat memperbaiki keadaan negeri ini. Kita harus lebih jeli dan selektif dalam memilih partai dan orang-orang yang pencapaian kesejahteraan dan kebahagiaan kita serahkan kepada mereka untuk mewujudkannya. Pastilah orang-orang yang bersih dan jujur masih ada diantara mereka-mereka yang jahat dan licik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s