Quo vadis Pelajar Yang Tidak Lulus

QUO VADIS PELAJAR YANG TIDAK LULUS ?
Nanang Wijaya
Aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) Sulawesi Tengah dan Staff Pengajar di FISIP UNTAD Palu

Kita tidak bisa membentuk anak-anak kita menurut konsep kita sendiri…….Kita mesti menerima dan mencintai mereka dalam keadaan seperti yang diberika Tuhan kepada kita.
(Johann Wolfgang Von Goethe)

Tidak bisa dipungkiri bahwa pengumuman kelulusan Ujian Nasional akhirnya menjadi mimpi buruk sebagian besar pelajar di negeri ini. Khususnya Sulawesi Tengah sekitar 6.726 orang pelajar SMU akhirnya mengakhiri masa sekolah mereka dengan kesedihan, tumpahan air mata dan ketidakjelasan nasib sebab mereka menyandang status sebagai pelajar yang gagal dalam pendidikan, pelajar yang tidak bisa meraih angka tertentu dalam setiap mata pelajarannya sehingga sia-sialah apa yang telah mereka jalani selama tiga tahun di sekolah.

Yang jelas pemerintah Indonesia dalam hal ini kementrian pendidikan tidak pernah memperhitungkan bahkan tidak peduli terhadap efek psikologis yang timbul akibat pengumuman kelulusan ujian nasioan khususnya bagi pelajar-pelajar yang dinyatakan tidak lulus. Tidak bisa kita bayangkan bagaimana perasaan pelajar-pelajar yang tidak lulus tersebut, bagaimana dia mendefenisikan dirinya, menempatkan dirinya bahkan berinteraksi dengan gelar “pelajar yang tidak lulus” dihadapan keluarganya, dihadapan teman-teman pelajarnya, dihadapan tetangga-tetangganya dan dihadapan lingkungannya.

Bayangkan saja jika seseorang yang dari desa yang jauh dari kota. Di Kota mereka tinggal di kost yang disewa. Selama ini berharap biaya-biaya dari orang tua mereka di kampung yang mungkin hanya petani atau nelayan. Terkadang mereka harus lambat membayar biaya kost atau harus mengirit uang makan dengan makan seadanya. Dan mereka menjalani kehidupan seperti itu selama tiga tahun, lalu hanya dengan rendahnya nilai satu mata pelajaran yang di ujiankan membuat mereka dianggap gagal. Apa yang mereka lakukan, kerjakan dan jalani selama tiga tahun tiba-tiba menjadi sia-sia hanya dengan ujian tiga hari. Lalu dengan gelar “tidak lulus” ini, mereka harus kembali kepada orang tuanya, kembali kampungnya.
Di negeri ini, tidak lulus sama dengan kebodohan, artinya siapa yang tidak lulus berarti dia bodoh dan gelar “bodoh” itulah yang akan terus dia sandang sampai kapanpun sebagai sejarah hidupnya. Bahkan sampai dia tua. Akan tetapi menjadi pertanyaan, apa memang pelajar-pelajar yang tidak lulus ini adalah pelajar-pelajar yang bodoh di sekolahnya ? jawaban yang kita terima terkadang membuat kita terkejut, justru pelajar-pelajar yang cerdas, aktif dalam mengikuti pembelajaran bahkan ada diantara mereka yang tidak lulus itu adalah pelajar-pelajar yang mewakili sekolahnya untuk mengikuti olimpiade pelajaran.

Tidak jarang kita temukan pihak sekolah (guru-guru sekolah) menyayangkan hasil ujian nasional yang justru meluluskan pelajar-pelajar yang dikenal nakal dan sering bolos disekolahnya. Sementara pelajar-pelajar yang dianggap cerdas dan rajin mengikuti pembelajaran justru tidak lulus. Akan tetapi apa boleh buat pihak sekolah tidak bisa berbuat apa-apa dengan keputusan hasil ujian ini. Pihak sekolah menerima begitu saja, tanpa bisa melakukan semacam komplain atau sekurang-kurangnya memberikan masukan yang dapat menjadi referensi dalam menentukan siapa-siapa pelajar yang lulus dan siapa-siapa pelajar yang tidak lulus.

Setelah pelajar-pelajar ini dinyatakan tidak lulus, dinyatakan gagal dan dianggap bodoh, lalu harus kemana mereka ? bukankah mereka memiliki hak pendidikan dan pengajaran yang pemerintah berkewajiban memberikannya. Ujian paket C yang disiapkan oleh pemerintah sesunggunya tidak menyelesaikan masalah. Paket C akhirnya menunjukan kepada kita bahwa sistem pendidikan di negeri ini memang hanya berorientasi pencapaian nilai tertentu. Keberhasilan pendidikan hanya diukur dari nilai-nilai yang dicapai oleh pelajar. Keberhasilan pendidikan bukanlah lagi diukur dari aspek afektif, kognitif dan psikomotorik pelajar.

Kita mungkin akan berpikir bahwa bukankah dengan sekian jumlah pelajar yang tidak lulus secara umum tetap lebih banyak pelajar yang lulus secara umum. Akan tetapi sebenarnya kualitas pelajar-pelajar yang lulus tersebut masih bisa diperdebatkan, apa memang mereka benar-benar berkualitas untuk lulus atau ada faktor-faktor tertentu yang membuat mereka lulus ? demikian pula pelajar-pelajar yang dinyatakan tidak lulus, apakah mereka seharusnya tidak lulus ?

Fenomena adanya pelajar-pelajar yang terbukti selama tiga tahun di sekolah memiliki prestasi akademik yang bagus ternyata dinyatakan tidak lulus menjadi menarik untuk dikaji secara matang dan harus menjadi perhatian bagi pemerintah, yang menjadi pertanyaan adalah apakah pelajarnya yang memang “seharusnya” tidak lulus atau justru ada yang salah dalam proses ujian nasional yang selama ini diselenggarakan. Sebab tetap menjadi tanda tanya besar mengapa pelajar-pelajar yang dianggao cerdas dan rajin tidak lulus justru pelajar-pelajar yang dianggap nakal dan sering bolos mengikuti pelajaran lulus dalam ujian nasional. Fenomena tidak lulusnya pelajar-pelajar cerdas sesungguhnya telah ada beberapa tahun lalu, akan tetapi sayang tidak mendapat perhatian dari pemerintah.

Selama ini pemerintah terkesan menutup mata dan telinga dengan kondisi-kondisi pelajar tersebut, justru pemerintah terus menaikkan standar kelulusan bagi siswa setiap tahunnnya. Sebenarnya kita perlu bertanya, apa yang menjadi alat ukur pemerintah dalam menetapkan standar kelulusan di negeri ini. Apakah melihat realitas didunia pendidikan, seperti kualitas tenaga pendidik, fasilitas pendidikan, kurikulum yang tepat dan kesediaan pelajar secara mental dan pengetahuan ? atau justru hanya untuk meningkatkan prestise pemerintah, utamanya prestise pemerintah dengan negara lain sehingga penetapan standar nilai kelulusan hanya ikut-ikutan standar nilai kelulusan negara lain.

Setiap tahun pemerintah terus menaikkan standar nilai kelulusan bahkan direncanakan tahun depan pemerintah kembali menaikkan standar nilai kelulusan. Akan tetapi menjadi pertanyaan besar bagi kita, apa yang dilakukan oleh pemerintah terhadap sekolah dan guru sehingga standar tersebut tercapai ? mungkin secara teoritik pemerintah akan bisa menjawab pertanyaan ini dengan segala retorika dan penjelasan program baik sedang berjalan maupun yang akan diluncurkan. Akan tetapi jika kita turun dilapangan, dengan melihat langsung pada kenyataan pada masyarakat, maka kita akan menemukan reliatas yang tidak berubah tiap tahunnya.

Artinya pemerintah tidak berusaha mempersiapkan segala sesuatu yang mendukung naiknya tingkat kelulusan seperti peningkatan kualitas guru (baik itu metodologi pembelajaran, pengetahuan atas mata pelajaran yang diampu, kesejahteraan kehidupan, dll), persebaran guru pelajara yang merata serta penyediaan fasilitas-fasilitas pendidikan yang merata justru pemerintah langsung menaikkan standar nilai kelulusan. Memang ada beberapa program yang telah dilakukan oleh pemerintah, seperti dana block grant, BOS, sertifikasi guru, dll, akan tetapi apakah pemerintah telah melakukan evaluasi terhadap program-program tersebut ?

Terkesan pemerintah hanya berani mengevaluasi pelajar dan sekolah tanpa mau melakukan evaluasi terhadap kebijakan-kebijakan yang telah dikeluarkan berkenaan dengan kebijakan didunia pendidikan. Pemerintah akhirnya menjadi pihak yang selalu benar dan pihak lain adalah pihak yang selalu salah dalam memberikan penilaian terhadap sistem pendidikan. Jika ditanya kepada pemerintah, siapa yang disalahkan atas ketidak lulusan para pelajar, maka pemerintah akan segera menjawab bahwa yang patut dipersalahkan adalah pelajar dan pihak sekolah. Ini wujud arigansi pemerintah atas dunia pendidikan kita.

Tanyakan kepada pemerintah, “lalu harus kemana pelajar-pelajar yang tidak lulus ini ?” tentunya kita bisa menebak apa yang menjadi jawaban pemerintah kita. Seolah-olah di negeri ini, orang-orang bodoh disarankan tidak perlu sekolah, sebab nantinya tidak lulus dan pasti hanya menyia-nyiakan biaya banyak. Apa itu filosofis pendidikan kita ?

Satu Balasan ke Quo vadis Pelajar Yang Tidak Lulus

  1. Bagi yang membutuhkan media alternatif silakan bergabung dengan indi-smart dot com. Indismart adalah media pembelajaran online interaktif bagi pelajar SD hingga SMA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s