Sekolah Mimpi di Negeri Mimpi

TSEKOLAH MIMPI DI NEGERI MIMPI
Nanang Wijaya, S.Sos
(Staff Pengajar FISIP UNTAD)

Tersebutlah sebuah sekolah yang bernama Sekolah Mimpi pada Negeri Mimpi. Sekolah Mimpi adalah sekolah yang didirikan guna mencetak pemimpin-pemimpin di Negeri Mimpi. Pemimpin-pemimpin yang akan menjadi abdi masyarakat, pengayom, pelindung dan pengurus masyarakat di Negeri Mimpi. Sebab di Negeri Mimpi, pemimpin adalah orang-orang yang dipekerjakan untuk membantu masyarakat dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. Para pemimpin bukanlah orang-orang yang bekerja untuk kesejahteraan dirinya dan keluarganya.

Karena tujuannya itu, maka seluruh pemuda dan pemudi di Negeri Mimpi berhak untuk bersekolah di Sekolah Mimpi, tidak hanya anak pejabat atau keluarga pejabat atau harus mendapat persetujuan seorang pejabat. Bagi yang setiap memiliki kualitas kepemimpinan akan diterima di Sekolah Mimpi tanpa bayaran.

Jadi untuk masuk ke Sekolah Mimpi bukan hanya kualitas fisik yang dinilai, seperti ukuran tinggi badan, kemampuan berlari keliling lapangan atau kemampuan push up, renang ataupun sit up, apalagi kemampuan bertinju. Akan tetapi yang dinilai adalah kemampuan kepribadiannya atau biasa yang disebut emosional intelegencia, sebab Sekolah Mimpi akan mencetak pemimpin di masyarakat bukan tentara atau preman. Sekolah Mimpi tidak ingin mencetak pemimpin-pemimpin yang ditakuti tetapi pemimpin-pemimpin yang berwibawa karena memiliki jiwa kepemimpinan.

Untuk masuk di Sekolah Mimpi bukan hanya di uji kemampuan intelektualnya lewat tes tulis dilakukan, akan tetapi seluruh perjalanan hidupnya (track record) sebelum menjadi calon pelajar di Sekolah Mimpi dipelajari, sebab Sekolah Mimpi tidak ingin menerima calon-calon pelajar sembarangan apalagi orang-orang yang pernah berlaku tidak baik dimasyarakat. Sebab di luar Negeri Mimpi banyak pemimpin yang intelektualnya tinggi akan tetapi berlaku angkuh dan berakhlak buruk di masyarakat, kepandaiannya justru digunakan untuk menyalahgunakan wewenang dan menipu masyarakat, memperkaya diri sendiri dan keluarganya.

Setelah diterima di Sekolah Mimpi, seluruh calon pemimpin akan dilatih dan didorong bagaimana melahirkan dan menjaga kepekaan spritual berdasarkan keyakinan agamanya masing-masing. Sehingga hubungan antara calon pemimpin dengan Ilahi yang nantinya termanifestasi dalam bentuk nilai-nilai Ilahiyah yang mempengaruhi setiap jiwa, pikiram dan prilaku bagitu kuat. Maka hati nurani para calon pemimpin itu senantiasa bersih, pikiran mereka senantiasa disinari cahaya Ilahi dan prilaku mereka adalah prilaku yang akhlaqi. Sebab di Negeri Mimpi, pemimpin adalah khalifatullah (orang-orang yang memanifestasikan sifat-sifat Tuhan di muka bumi) yang senantiasa berbicara dengan hati nuraninya tidak hanya berbicara dengan akalnya dan dengan ototnya.

Di Sekolah Mimpi itu, para calon pemimpin akan dicerdaskan emosionalnya, sehingga mereka akan menjadi pemimpin dalam setiap situasi dan keadaan, dimana mereka bisa menempatkan diri tanpa bertindak merugikan dirinya dan orang lain. Kepekaan kemanusiaan mereka akan dilatih dan diasah, sehingga mereka mengerti orang lain dan bisa hidup bersama dengan orang lain. Sekolah Mimpi tidak ingin mencetak pemimpin-pemimpin yang mencederai kemanusiaan apalagi membunuh prinsip-prinsip kemanusiaan dalam masyarakat dan Negeri Mimpi tidak menginginkan pemimpin adalah pemimpin yang zalim dan sewenang-wenang.

Kecerdasaan Intelektual para calon pemimpin tersebut terus ditingkatkan. Pemahaman mereka atas ilmu pengetahuan akan terus ditambah. Terutama ilmu-ilmu yang mereka perlukan nantinya ketika memimpin, baik itu ilmu-ilmu humaniora ataupun ilmu-ilmu ketekhnikan. Sehingga mereka menguasai psikologi sosial juga ilmu administrasi, mereka menguasai ilmu komunikasi juga ilmu tata negera, meraka menguasai teori-teori pembangunan kontenporer juga tekhnik perencanaan pembangunan. Mereka menguasai ilmu hukum juga menguasai kemampuan menghitung anggaran belanjan pembangunan. Sebab di Negeri Mimpi seorang pemimpin adalah sosok yang dapat diandalkan intelektualnya bukan fisiknya.

Para Calon Pemimpin di Sekolah Mimpi, dilatih untuk disiplin dalam segala hal, akan tetapi kedisiplinan yang bangun bukanlah kedisiplin atas dasar ketakutan dan paksaan. Akan tetapi kedisiplinan yang terbangun atas kesadaran dan tanggungjawab. Sebab di Negeri Mimpi, tidak di inginkan pemimpin memaksa masyarakat untuk taat kepada aturan karena ketakutan. Sebab jika ketaatan pada aturan tidak di dasarkan atas kesadaran dan tanggungjawab akan tetapi didasarkan pada ketakutan pada pemimpin, maka pada waktu-waktu tertentu masyarakat akan melanggar aturan tersebut jika pemimpinnya lengah.

Pengembangan jiwa disiplin di Sekolah Mimpi juga dibentuk dengan pemberian hukuman bagi siapapun yang melanggar aturan. Akan tetapi pemberian hukuman di Sekolah Mimpi selalu hukuman yang nantinya berefek positif bagi si pelaku, bukan hukuman yang justru merusak kepribadian atau moral seperti hukum yang melahirkan dendam, ketidaksenangan terhadap orang lain, dll. Ataupun hukuman yang akan merusak kesehatan fisik yang menyebabkan sakit, luka apalagi cacat. Para Calon Pemimpin itu dihukum dengan hukuman yang sesungguhnya memberikan pembinaan kepribadian bagi mereka. Olehnya pemberian hukuman tidak oleh sembarang orang, ada devisi tersendiri di Sekolah Mimpi yang bertugas memberikan hukuman, dimana devisi tersebut terdiri dari orang-orang mengerti ilmu kepribadian.
Semua pendidikan diatas mereka terima didalam lingkungan sekolahnya, akan tetapi karena mereka adalah calon pemimpin di masyarakat, maka Sekolah Mimpi lebih banyak memberikan pelajaran langsung dari masyarakat. Sehingga para calon pemimpin itu paham benar apa dan bagaimana kondisi masyarakat.

Untuk keperluan ini, maka para calon pemimpin itu lebih banyak di luar sekolah dari pada mendapat pelajaran yang bersifat teoritik dalam kelas. Pada waktu-waktu tertentu Para Calon Pemimpin dari Sekolah Mimpi itu diwajibkan untuk bersekolah di pedesaan dengan menerima pelajaran langsung dari masyarakat. Dangan cara Para Calon Pemimpin itu tinggal dirumah-rumah penduduk dan mengikuti aktivitas penduduk dimana mereka tinggal. Jika Para Calon Pemimpin itu tinggal ditempat seorang petani, maka mereka harus ikut ke sawah, ikut membajak sawah, menanam padi dan pekerjaan lainnya. Jika Para Calon Pemimpin itu tinggal ditempat seorang nelayan, maka merekapun ikut mencari ikan, begitu pula dengan pekerjaan lainnya seperti Pedagang, pekebun, montir, dll. Hal ini dimaksudkan agar Para Calon Pemimpin itu mengerti bagaimana kehidupan masyarakat di Negeri Mimpi, apa yang menjadi kebutuhan mereka, apa yang menjadi problem dengan mata pencaharian meraka, dll. Sehingga kelak mereka menjadi pemimpin akan mengeluarkan kebijakan-kebijakan berdasarkan pemahaman mereka tas kehidupan masyarakat.

Para Calon Pemimpin itu dibiasakan untuk bekerja sama dengan masyarakat untuk membangun fasilitas-fasilitas publik yang dibutuhkan oleh masyarakat. Gotong royong bukan hanya teori yang mereka dapatkan di bangku sekolah, akan tetapi mereka praktekkan dilapangan langsung masyarakat dengan melibatkan diri. Membangun rumah ibadah, jalan, jembatan, saluran air, dll. Para Calon Pemimpin diinginkan dapat belajar atas semangat kebersamaan, gairah bekerja, kelelahan dan persaudaran dari para penduduk.

Pada kali yang lain, Para Calon Pemimpin itu dipekerjakan dikantor-kantor Desa/Kelurahan atau di kantor-kantor kecamatan dan harus menjadi bawahan. Mereka dilatih untuk menjadi pegawai biasa bahkan mereka harus menjalani semua pekerjaan dikantor itu dari level paling rendah. Ini dimaksudkan agar Para Calon Pemimpin itu mengetahui bagaimana rasanya menjadi bawahan, sehingga kelak mereka menjadi pemimpin mereka tidak menjadi angkuh dan mengerti kebutuhan-kebutuhan, permasalahan pada bawahan mereka.

Para Calon Pemimpin di Sekolah Mimpi itu kadang diberi tugas oleh pihak sekolah untuk meneliti dan memahami kehidupan anak-anak jalanan, kehidupan para pedagang-pedagang kaki lima dan asongan atau masyarakat miskin yang terkadang tidak memiliki tempat tinggal, meneliti kehidupan para pengumpul sampah, penyapu jalan, buruh-buruh baik dipelabuhan maupun pada pabrik-pabrik. Bahkan Para Calon Pemimpin itu diberi tugas meneliti kehidupan guru-guru, perawat, dokter atau mantri di daerah-daerah terpencil. Dengan tugas ini, kelak Para Calon Pemimpin itu akhirnya mengerti bagaimana kehidupan orang-orang yang sangat berjasa bagi kehidupan tapi biasanya tidak begitu mendapat perhatian. Dan ketika mereka menjadi Pemimpin di Negeri Mimpi, dengan pemahaman atas kehidupan-kehidupan hasil penelitian itu, mereka akan menyusun kebijakan.

Sesekali mereka diajak berkunjung ke lembaga pemasyarakatan dan melihat langsung bagaimana akhir dari para pelaku kriminal, terutama para tahanan yang dulunya adalah pejabat dan kemudian menyalahgunakan jabatannya. Ini dimaksudkan agar Para Calon Pemimpin itu sadar bahwa tindakan melanggar hukum berujung pada penjara. Dan pengalaman ini menjadi kontrol diri bagi mereka bahwa setiap diri akan dimintai pertanggungjawaban atas wewenangnya. Setelah itu, Para Calon Pemimpin itu diajak berkunjung ke pemakaman-pemakaman. Agar Para Calon Pemimpin itu sadar bahwa kehidupan ini berujung pada kematian dan akan ada negeri akhirat yang menanti. Kesadaran akan Hukum dan lembaga pemasyarakatan, kuburan dan Negeri Akhirat menjadi landasan bagi Para Calon Pemimpin itu dalam berprilaku nantinya ketika menjadi pemimpin.

Ketika berlibur kekampung halamannya masing-masing, Para Calon Pemimpin itu tetap diberi tugas untuk menampung aspirasi masyarakat dari tempat asalnya, menemukan problematika pembangunan didaerahnya, melakukan kunjungan-kunjungan ke kepala desa/Lurah, kepada Ketua Adat, tokoh-tokoh masyarakat. Dan nantinya hasil liburan mereka itu akan menjadi bahan analisis, diskusi ketika mereka memulai pelajaran di Sekolah.

Jika terjadi bencana alam di Negeri Mimpi, Para Calon Pemimpin di Sekolah Mimpi langsung berubah menjadi relawan-relawan untuk membantu para korban bencana alam, mereka langsung diterjunkan dilokasi bencana alam dengan jumlah mereka yang banyak. Mereka diwajibkan berbaur dan hidup ditenda-tenda pengungsian. Sehingga mereka dapat langsung merasakan penderitaan para korban.

Dengan demikian hasil dari Sekolah Mimpi di Negeri Mimpi tersebut adalah pemimpin yang cerdas spritualnya, cerdas emosionalnya dan cerdas intelektualnya. Meraka menjadi pemimpin yang humanis, aspiratif, disiplin dan bertanggungjawab. Dan tepat dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk masyarakat.

Berbeda dengan sebuah sekolah di Negeri tetangga dari Negeri Mimpi. Sekolah Calon Pemipin mereka justru melahirkan pemimpin yang berwatak preman sebab didalam sekolah tersebut diajarkan berbagai jenis kekerasan. Akibatnya beberapa pelajar di sekolah tersebut harus meninggal dunia karena kekerasan. Sampai-sampai masyarakar di Negeri itu menggelari sekolah tersebut Institut Preman Dalam Negeri.

Semoga Negeri Kita bisa belajar dari Sekolah Mimpi di Negeri Mimpi tersebut.

Iklan

2 Balasan ke Sekolah Mimpi di Negeri Mimpi

  1. Nuraini Ahmad berkata:

    wah bagaimaana kalau model sekolah mimpi yg bapak kemukan itu saya kopi paste dinegeri saya pak? apa saya dituduh membajak hak intelektual kayaknya mantap tuh idenya.

  2. Nuraini Ahmad berkata:

    terima kasih pak nanang dittunggu jawannya,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s