Soal UAN Bocor…..Mangge Dullah Stress

Soal UAN Bocor…..Mangge Dullah Stress
(Sebuah Refleksi Dalam Peringatan Hardiknas)
Nanang Wijaya, S.Sos
(Staff Pengajar FISIP UNTAD)

Mangge Dullah uring-uringan ketika bangsa ini sedang memperingati hari Pendidikan Nasional. Perasaan itu dimulai ketika dunia pendidikan bangsa ini sedang bersiap-siap untuk menyelenggerakan UAN beberapa minggu sebelum Hardiknas.

Perasaan khawatir menimpa Mangge Dullah ketika anaknya akan mengikuti UAN di sekolahnya tahun ini. Bagaimana tidak, tahun lalu, seorang anak tetangganya jadi stress karena tidak lulus UAN, padahal anak itu tergolong cukup pintar bahkan menjurai beberapa perlombaan dan lebih sialnya anak justru tidak lulus pada mata pelajaran yang sangat dia kuasai. Mangge Dullah tidak pernah tahu kenapa dan sampai sekarang masyarakat umum tetap tidak mendapatkan jawaban.

Saat ini salah seorang anak Mangge Dullah ikut UAN. Beliau pun takut jangan-jangan anaknya akan tidak lulus lalu stress juga, apalagi kata orang-orang standar kelulusan dinaikan dengan alasan agar peserta ujian terpacu (atau terpaksa ?) untuk belajar dan pada akhirnya taraf pendidikan kita sejajar dengan negara-negara lain yang sistem pendidikan, fasilitas pendidikan serta kualitas pengajarnya jauh dibanding dengan negeri ini. Tapi Mangge Dullah tidak tahu bahwa hanya untuk mengejar prestige dihadapan negara lain, negara kita juga pasang starndar kelulusan begitu tinggi tapi tidak pernah memperhitungkan bagaimana fasilitas pendidikan dan bagaimana kualitas pengajar yang nantinya berpengaruh dengan kesiapan peserta didik yang akan ikut ujian.

Tapi Mangge Dullah bukan Cuma takut anaknya tidak lulus lalu stress, tapi Beliau juga takut dengan pandangan masyarakat terhadap keluarganya jika anaknya tidak lulus. Tentunya orang-orang akan menganggapnya adalah ayah yang gagal dalam membina dan membimbing anak-anaknya bersekolah sehingga tidak lulus. Sebab masyarakat masih terjebak dengan cara pandangan bahwa kelulusan di sekolah adalah ukuran keberhasilan dan kesuksesan dan ketidaklulusan adalah kegagalan yang berujung hilangnya masa depan sang anak. Padahal menurut Mangge Dullah keberhasilan dan kesuksesan mas depan seseorang tidak ditentukan oleh nilai ijazahnya, bagi Mangge Dullah yang justru membuat seseorang sukses adalah kepribadiannya dan keterampilannya, bagaimana seseorang meletakkan dirinya ditengah-tengah masyarakat. Angka tujuh, delapan atau sembilan dalam ijazah sesungguhnya bukan jaminan bagi masa depan. Tapi peserta ujian ”dipaksa” untuk mendapat angka-angka tersebut. Dan sayang, di negeri ini untuk mendapat pekerjaan harus memiliki ijazah yang nilai-nilainya bagus-bagus. Dan karena tidak memiliki ijazah akhirnya Mangge Dullah harus jadi pegayuh becak, tapi banyak juga teman-teman Mangge Dullah sesama pengayuh becak memiliki ijazah. Dan banyak juga teman-teman haji Mangge Dullah yang tidak memiliki ijazah tapi menjadi pengusaha dan pedagang sukses dipasar. Jadi apa yang jadi ukuran kesuksesan ?

Banyak orang-orang yang begitu pintar, nilai-nilai ijazahnya tinggi-tinggi, mendapat pekerjaan yang bagus, tapi berakhir dipenjara karena kejahatan dilakukannya. Mangge Dullah tidak ingin anaknya seperti itu. Bagi Mangge Dullah, cukup anaknya berkepribadian mulia, memiliki keterampilan yang dapat dia kembangkan untuk memenuhi kebutuhannya hidupnya. Itu sudah cukup. Tidak perlu nilai tinggi-tinggi di ijazah

Tapi masyarakat tidak banyak berpikir seperti Mangge Dullah, Dan beliau pun mau tidak mau ikut cara pandang masyarakat bahwa ijazah dengan angka-angka yang tinggi itu penting. Untuk itu Mangge Dullah berusaha apapun untuk keperluan anaknya. Anaknya minta bayar uang les, dia berikan. Anaknya minta uang try out, dia berikan. Anaknya minta uang untuk fotocopy soal-soal tahun lalu dari gurunya, dia berikan. Anaknya minta buku, dia belikan. Anaknya minta uang taksi untuk pergi belajar kelompok, Mangge Dullah pun memberiknya. Meskipun Mangge Dullah sedikit stress sebab uang untuk kebutuhan lain harus terkurangi. Kadang Mangge Dullah berpikir enaknya jadi orang kaya. Pasti anaknya lulus.

Tapi katanya pelaksanaan UAN tahun ini, akan dilaksanakan dengan baik, serapi mungkin, disiplin dan ketat. Yang untuk itu, UAN kali ini melibatkan aparat keamanan yang tentunya anggaran yang dikeluarkan untuk keamanan itu tidak sedikit jumlah sebab se Indonesia bukanya cuma disekolah anaknya Mangge Dullah. Orang mungkin melihatnya bagus sebab aparat keamanan terlibat dalam pelaksanaan UAN. Tapi bagi Mangge Dullah, justru menimbulkan pertanyaan, sejahat apakah bangsa ini ?, sebejat apakah masyarakat dinegeri ini ? sehingga untuk menjaga soal UAN harus melibatkan aparat keamanan yang pastinya bawa senjata. Bahkan soal UAN harus di simpan dikantor polisi. Begitu besarkah ancaman kebocoran soal atau kita sudah tidak saling percaya ? siapa sih yang ingin membocorkannya ? para pengawas ? para guru-guru disekolah ? pasti tidak mungkin Mangge Dullah yang kerjanya tiap hari mengayuh becak dan jarang kesekolah anaknya. Masyarakat negeri ini sudah saling curiga. Ditambah lagi adanya Tim Pemantau Independen, Mangge Dullah pengen juga jadi Tim Pemantau, selain katanya dapat honor besar tentunya Mangge Dullah ingin berpartisipasi langsung dengan kesuksesan UAN. Tapi bukankan Tim Pemantau tersebut justru menunjukan indikasi adanya potensi ketidakberesan dalam pelaksanaan UAN sehingga perlu dipantau sebuah tim….Independen lagi ! Mangge Dullah hanya bisa geleng-geleng kepala sambil membayangkan berapa besar anggaran keuangan untuk UAN kali ini.

Dan ketika mendengar isu bahwa soal UAN bocor dan terjadi transaksi kunci jawaban dengan harga juta-jutaan. Bahkan menurut teman-teman Mangge Dullah sebuah koran ditempatnya begitu detail menceritakan bagaiman transaksi kunci jawaban itu dilakukan, Mangge Dullah menjadi stress berat. Bagaimana tidak, Mangge Dullah membayangkan kembali bagaimana usaha anaknya untuk belajar, pelajaran yang diajarkan selama tiga tahun harus dipelajari kembali hanya dalam kurang lebih satu bulan. Mangge Dullah membayangkan kembali bagaimana anaknya begitu rajin kesekolah bahkan tidak pulang untuk makan siang sebab akan memakan banyak uang taksi untuk menunggu pelaksanaan les di sekolah. Anaknya yang kesana kemari untuk belajar kelompok dengan teman-teman lainnya tidak peduli cuaca, malam atau hari libur. Dan semua itu dilakukan agar anaknya lulus dari UAN. Dan sekarang ! ada sekelompok anak orang kaya dengan begitu mudah mendapatkan kunci jawaban hanya karena mereka memiliki uang juta-jutaan. Dengan begitu mudah mengisi lembar jawaban sambil tersenyum sementara anaknya mungkin dengan keringat dingin…..Mangge Dulllah tidak terima ! lantas dimana para aparat keamanan yang menjaga soal UAN itu ? dimana janji mekanisme pelaksanaan UAN akan baik dari Departemen Pendidikan ? dimana moral para pengawas yang katanya ikut-ikutan membocorkan kunci jawaban ? Mangge Dullah tidak terima !

Mangge Dullah sudah cukup kecewa ketika pelaksanaan UAN amburadul karena kekurangan soal dan kekurangan Lembar jawaban yang tersedia. Mangge Dullah sudah cukup kecewa ketika semua lembaga saling melempar tanggung jawab atas ketidakbersan tersebut………Tapi Mangge Dullah lebih kecewa ketika Indikasi kebocoran soal dan transaksi kunci jawaban tidak diusut tuntas. Meskipun Mangge Dullah hanya seorang pengayuh becak, tapi ia peduli dengan anaknya, anak orang-orang miskin yang lain dan ia peduli dengan sistem pendidikan di Negeri ini. Apalagi kalau anak Mangge Dullah dan anak-anak teman-teman Mangge Dullah yang sama-sama miskin tidak lulus tentunya Mangge Dullah tambah stress. Dan sekarang Mangge Dullah hanya bisa menunggu apa perkembangan berikutnya, diusut atau hilang ditelan tanah.

Mangge Dullah berharap semua masyarakat menjadi pengontrol kasus ini, sehingga orang-orang yang seenaknya membocorkan soal ujian dan memperjualbelikannya, anak-anak orang-orang kaya dengan kekayaannya membeli kunci jawaban mendapat balasan yang setimpal sesuai dengan hukum di Negeri ini. Mangge Dullah hanya bisa berharap semoga peringatan Hari Pendidikan Nasional saat ini dapat menguraikan segala problem dalam sistem pendidikan bangsa ini dan peringatan kali ini tidak hanya sekedar seremonial belaka.

Iklan

Satu Balasan ke Soal UAN Bocor…..Mangge Dullah Stress

  1. Teddy berkata:

    salah anaknya sendiri yg ga pinter nyari kunci, padahal ada juga lo, kunci yg bisa didapatkan secara gratis……
    aku denger2 sih, bisa berbagi2 juga ama temen2, jadi kunci dari yg harganya jutaan, dibagi2 buat perpuluh2 orang, sehingga satu orgny hanya membayar rp. 10.000 atau 5.000………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s